Gelap, Sunyi dan Cahaya


Maka hati insafi, pada setiap kesunyian yang merangkak lembut,

tentang anak-anak cahaya yang menyibak rambut kegelapan

Sesungguhnya, kegelapan itu dulu tak punya tempat,

tatkala para penghuni mayapada bersetia pada-Nya

Saat mata dan hati mulai jauh dari tuntunan-Nya,

maka gelap meraja,

lantas derita meradang,

lengannya menggurita mencekam, sesakkan dada,

kacaunya, ia tebarkan juga kabut pendusta,

buat gelap seakan-akan pahlawan,

“Lihatlah anak-anak dunia, kegelapan itu adalah pembawa bahagia. Dalam kegelapan kalian memiliki kebebasan. Kegelapan adalah jalan hidup terbaik untuk mengisi usia kalian.”

Padahal,

dari mana gelap bisa menuntun?

bahkan ia tak pernah bisa menatap dirinya sendiri.

Dusta.

Maka hati yang menginsafi akan menunduk syahdu,

wahai,

cahaya itulah, yang selama ini ditinggalkan, cahaya itulah yang harus didekap erat.

Tidak, memang tak semudah ditangkap sepenglihatan mata lahir,

ia harus dikenali dengan mata hati yang jernih.

Memang tak semenggoda kegelapan, yang sekarang digembor-gemborkan menjadi sesuatu yang luar biasa,

tapi cahaya itu, menunjuk pada bahagia sejati.

Bahagia dunia akhirat, luar biasa. Keselamatan.

Tiada penyesalan bersamanya. Sungguh.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: