Selamat Belajar, Muth :)


Senin, 22 Oktober 2012.

“Aku percaya Muthi’ah sudah dewasa. Bahkan, Muthi’ah selalu lebih cerdas dari aku. Peluk dari sini, selamat belajar :*”

—–

Suara takbir sahut menyahut dari luar jendela kamar. Indah.

Beberapa teman kuliahku sudah tiba di rumah mereka masing-masing, esok pasti akan menjadi salah satu hari istimewa bagi mereka. Menunaikan ibadah di hari Idul Adha bersama orang-orang tercinta.

Sementara itu, aku, Ummi dan adikku akan menjalaninya di tiga tempat berbeda. Aku memutuskan untuk tetap di Jatinangor karena beberapa pertimbangan untuk memenuhi hak akademik. Ummi di Pamulang. Adikku di MAN Insan Cendekia, sebuah sekolah berasrama tempatnya menuntut ilmu.

Maka, malam ini kusesapi rindu yang buncah. Memoriku bermain bebas. Tiba pada satu wajah gadis yang sedang tumbuh dewasa, adikku.

Namanya Lathifah Muthi’ah. Usia kami hanya berbeda dua tahun enam bulan.

Insya’Allah, 30 Oktober nanti, dia akan genap berusia 17 tahun. Sudah akan dapat KTP, ya?

Muthi’ah selalu tumbuh menjadi gadis yang cerdas. Berbeda denganku yang harus menekuni suatu pelajaran dengan fokus tinggi dalam waktu panjang,  Muthi’ah kerap tampak santai. Aku visual-auditori lingual, dia audio-kinestetik.

Kami berdua pecinta buku. Setiap kali pulang, salah satu dari kami akan bersemangat menggoda Ummi untuk membelikan kami buku bacaan. Selain itu, kami juga sama-sama menggandrungi bahasa. Sementara kecenderunganku kuat pada sastra Indonesia dan Arab, Muthi’ah selalu jauh lebih piawai berbahasa Inggris dibanding aku. Favoritku novel dan puisi, Muthi’ah menyukai komik dan lagu. Biasanya barter yang terjadi akan menguntungkan. Pinjam meminjam genre buku yang berbeda.

Ya, dapat dikatakan aku dan Muthi’ah seperti dua kutub yang berbeda. Aku tidak pernah bisa menguasai nada-nada lagu di saat Muthi’ah dengan otodidak mampu memainkan alat musik drum. Bahkan, menurut cerita Ummi, dia punya kelompok band sendiri. Aku? Setiap kali menyanyi, dia akan meleletkan lidah ke arahku sembari berkata, “Kakak nyanyi apa, deh? Nadanya datar.” Maka aku akan menimpuk adikku dengan bantal di sekitar kami.

Kembali pada bahasa, aku sering kikuk saat harus berkomunikasi dalam bahasa Inggris, sementara adikku riang gembira menunjukkan keahliannya di sana. Sementara dia tersiksa saat harus mempelajari bahasa Arab, aku jatuh hati dengan bahasa Arab.

Masa kecil kami dipenuhi kesibukan : bertengkar, berbaikan, bertengkar, mengadu ke Ummi, berbaikan, bertengkar (lagi), berbaikan (lagi). Entah apa yang membuat dua gadis kecil seperti kami rajin membuat ‘kekacauan’ di rumah.

Sejujurnya, pada titik ini, aku merindukannya.

Biasanya, setiap pulang sekolah kami akan bermain bersama. Aku dengan boneka beruang besar kami dan Muthi’ah dengan boneka Barbie-nya. Kami akan mengarang cerita di mana beruang berteman baik dengan manusia. Atau kalau bosan, aku akan mengarang cerita yang lebih aneh lagi. Pernah aku, dengan keisengan untuk bereksperimen, menyarankan Muthi’ah untuk mengeramasi rambut boneka Barbie-nya dengan shampoo. Sebagai komplotan petualang, kami pun melakukan itu dengan riang. Sayangnya, shampoo manusia tampaknya memang tidak cocok untuk rambut Barbie. Bukannya menjadi halus, rambut sang Barbie menjadi kusut masai dan sulit disisir.

Adikku pun berbalik kesal, “Kakak sih, kan jadi gini rambutnyaaaa..”

“Hehe, bukannya bagus, model baru.”

Pernah juga, aku berhasil membujuk Muthi’ah untuk memotong rambut Barbie-nya. Akhirnya sama sih, adikku kembali kesal karena Barbie-nya menjelma alien nyasar di ruang bermain kami.

Maka setiap kali dia merengut, aku akan meraih boneka beruang kami dan melambai-lambaikan tangannya ke arah adikku. Meminta maaf.

Alhamdulillah, setelah dewasa, hipotesisku mengatakan (ngasal :p), pertengkaran-pertengkaran itulah yang membuat kami dekat dan justru berdamai sekarang.

—–

Adikku selalu tumbuh lebih cerdas dariku. Aku percaya itu.

Saat aku tidak diterima masuk ke sebuah sekolah menengah atas, adikku dengan setengah enggan mengikuti tes, berhasil lulus.

Saat aku dua kali kehilangan kesempatan untuk bisa menjejakkan kaki di negeri sakura kesukaan kami, beberapa bulan lalu, dia baru saja pulang dari sana setelah mengikuti sebuah program pertukaran pelajar.

Aku tahu dia gadis yang istimewa.

Akhir-akhir ini ia mulai merasakan sensasi yang kurasakan tiga tahun lalu.

Sebentar lagi dia akan mengikuti ujian kelulusan SMA, dan tentu saja, ujian seleksi masuk universitas.

Entah apa yang membuat kami kompak, dia juga memilih ingin memasuki fakultas kedokteran.

Maka, Ummi pun berdebar-debar kembali, menghadapi anak perempuannya yang kedua akan menghadapi kisah perjuangan yang mungkin akan sama beratnya dengan yang dihadapi sang kakak.

Tapi aku tahu, Muthi’ah adalah gadis yang cerdas dan kuat. Insya’Allah dia akan bisa melalui ini. Aku selalu berdo’a untuk itu.

“Aku percaya Muthi’ah sudah dewasa. Bahkan, Muthi’ah selalu lebih cerdas dari aku. Peluk dari sini, selamat belajar :*”

Bismillaah, insya’Allah bisa !

—–

Sembilan tahun silam.

“Ummi, nanti kalau aku sekolahnya jauh, aku kangen Ummi.. Ummi kangen aku nggak?”

“Nggak apa-apa berpisah sebentar di dunia, yang penting, insya’Allah, nanti kita bisa selalu kumpul bareng di surga.”

—–

Mudah-mudahan Allah mengumpulkan kita lagi di surga, ya? :”)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: