Menulis Kisah Menulis (bagian 1)


Kisah ini bermula dari salah satu sore di sudut kampus, saat itu saya sedang iseng menemani Icha ber’konsultasi’ dengan Kang Poundra, sang Bos Senat.

Saat saya dan Icha menghampiri Kang Poundra, ternyata di sana juga sedang ada seorang kakak kelas saya, angkatan 2007, yang sedang ‘bermain’ ke kampus Jatinangor karena ada suatu keperluan. Akrab disapa sebagai Teh Alma.

Berhubung saya bukan bintang utama dalam diskusi antara kasie P&K-dan-sang-bos itu, jadilah kami seperti bertukar pasangan mengobrol. Dengan senang hati saya mulai menyapa Teh Alma yang sedan duduk dengan riang (oh ya, tentu saja, dia memang selalu riang :p). Dimulai dari pengakuan, “Kita kenalan pas ngantri wudhu’ di gedung A1, lho” sampai pada “Aku suka baca blog Teteh, lho.”

Mata kami membulat, “Oh iya, memang blog Fifah apa?” “Anginvenus Teh, namanya aneh ya? Haha.” “Oh, Teteh kira itu siapa.. Iya iya, Teteh tahu.” “Bla bla bla.”

Kemudian menyasarlah kami ke topik kesukaan kami berdua.

Menulis.

“Teh, kayaknya aku mau menekuni dunia tulis menulis deh, mau belajar jurnalisme kesehatan.”

Teringat dengan Pesta Gagasan yang diinisiasi oleh dr. Genis, seorang alumni FK Unpad. Sejak dr. Genis menjadi pembicara di acara Carotid dan mengisahkan tentang rencana Pesta Gagasan, saya selalu mengikuti kabar beliau. Beberapa waktu lalu beliau rutin mengadakan suatu ‘pelatihan’ kepenulisan, khususnya mengenai jurnalisme kesehatan (yang belum pernah bisa saya hadiri karena kegiatan tersebut selalu diadakan di Bandung beririsan dengan waktu-waktu kegiatan saya yang lainnya). Nah,  Teh Alma merupakan salah satu ‘murid’ yang sering diceritakan di profil Facebook beliau.

Allah Maha Besar, ternyata pertemuan ini bukan pertemuan biasa (hei, sejatinya setiap kejadian yang terjadi memang tidak ada yang biasa-biasa saja, semua pasti ada hikmahnya, tergantung bagaimana pemaknaan kita),

“Iya Fifah, jadi sekarang Teteh lagi koas di Jatinangor. Nah, Teteh mau ngajakin teman-teman yang ingin menekuni dunia tulis menulis untuk sharing satu bulan ini. Kita ngumpul aja, Teteh cerita-cerita tentang apa yang pernah Teteh pelajari sebelumnya, terus kita buat komunitas untuk belajar menulis itu. Gimana?”

Mata saya menyala. Kalau bisa, saya mungkin sudah melompat-lompat kegirangan saat itu (tapi nanti nggak indah banget kan kalau melompat-lompat di tengah khalayak ramai, terlebih di saat kasie P&K-dan-sang-bos sedang berbicara serius di samping kami).

“Oke, nanti Teteh hubungi lagi ya, Fifah..”

Kami pun bertukar nomor telepon genggam (nggak juga sih, aslinya Teh Alma yang minta nomor HP saya, berhubung Teh Alma sudah harus pergi untuk bertemu temannya di Fapsi, saya tidak sempat meminta nomornya).

Saya mengangguk ringan. Allah Maha Tahu. Liburan semester lalu, saya membisikkan keinginan untuk mengikuti salah satu komunitas penulis agar bisa belajar dengan lebih serius. Ingin masuk Forum Lingkar Pena, tapi karena pembuatan skripsi dimajukan semester ini, saya membatalkan keinginan saya itu.

Kisah ini baru bermula. Bismillaah. Semoga kami bisa istiqomah :’)

Skenario-Nya selalu indah !

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: