Kolam Renang dan Seluncur Es Tepat di Lantai


Empat belas tahun yang lalu.

Hujan turun beriringan.

Dua gadis kecil tampak sedang tertawa-tawa riang, kontras dengan dua wanita dewasa yang sedang berpeluh di sudut ruangan lainnya. Kedua gadis kecil itu tak pernah benar-benar memerhatikan entah berapa kali dua wanita dewasa di sisi mereka menggeleng-geleng kepala sambil mengelus dada. Tentu saja, kedua gadis kecil itu sedang sibuk. Gadis yang lebih besar, kita sebut sebagai Kakak, sedang mengomandoi gadis yang lebih kecil, kita sebut sebagai Adik, untuk mengikutinya mengambil air dengan gayung di kamar mandi. Dua buah gayung, penuh dengan air sebanyak yang mampu mereka bawa, digenggam erat di tangan kanan keduanya. Lantas dengan aba-aba tanpa suara, mereka menumpahkan air itu ke lantai.

Byuur.

Kemudian Kakak dan Adik itu mendaratkan tubuhnya di lantai yang basah, berpura-pura berenang dengan gaya kreasi mereka (pada usia itu, mereka belum memiliki guru renang yang piawai mengajarkan gaya katak, gaya bebas, gaya kupu-kupu, atau apapun itu).

Dari sudut kanak-kanak mereka, kegiatan sore ini sangat menyenangkan. Tapi sudut pandang kedua wanita dewasa di sisi kedua gadis kecil itu, sang Ibu dan asistennya, tentu saja ini bukan kegiatan yang sama sekali menyenangkan.

Alkisah sore itu hujan sedang turun deras, bisa dikatakan lebih deras dari biasanya. Sejumlah air mengalir turun dari tempat jemuran yang berada di sisi atap rumah, melewati tangga, lantas dengan sukses menggenangi lantai dapur. Kisah ini semakin dramatis saat masa itu, komputer-komputer dari sekolah sang Ibu mengajar, sedang disimpan di rumah mereka agar aman karena mereka sedang memasuki libur sekolah. Jadilah sang Ibu dan asistennya bersegera mengeringkan air di lantai. Sayangnya, kedua gadis kecil kesayangan sang Ibu telanjur antusias menatap lantai yang basah, bahkan sang Kakak berinisiatif mengubahnya menjadi kolam renang. Beberapa gayung air sepertinya cukup untuk berpura-pura berenang di sore yang membosankan itu.

Jadilah, drama paradoks di sore yang penuh warna itu terjadi.

—–

Empat belas tahun kemudian.

Jam menunjukkan pukul enam pagi.

Salah satu tokoh utama kita, sang Kakak, sedang menjalani paginya yang biasa. Menyiapkan bahan kuliah. Memasukkan buku catatan bersampul kertas kado ke dalam tas. Bersiap-siap. Saat melangkahkan kaki ke kamar mandi, ia baru ingat kalau ia harus menuangkan refill sabun yang baru ke tempatnya. Jadilah ia membuka rak excel, mencari-cari kemasan sabun yang ia maksud. Tapi, rupanya pagi ini bukan pagi yang biasa. Gadis itu terpekik menyadari tangannya terasa lengket setelah menyentuh dasar excelnya. Oh tidak, suatu liquid nan lengket telah tumpah sejak lama di sana. Dengan cepat, ujung matanya melihat sebuah kemasan sabun cuci piring, yang ia simpan dalam keadaan terikat dengan karet karena masih bersisa, tergeletak tak berdaya sambil mengeluarkan ‘darah’ (baca: sabun) karena karetnya terlepas.

Gadis itu tertawa. Respon tidak cerdasnya adalah mengambil selembar kertas flip chart dan menggelarnya di lantai, lantas memindahkan seisi ruas excel ke sana. Lengket. Tertawa lagi. Semuanya lengket. Tertawa lagi. Setelah lelah tertawa–menertawakan kejeniusannya karena menyimpan kemasan yang tak erat tertutup di sana–ia menatap pasrah flip chart yang berubah ramai bagian atasnya di lantai. Gadis itu membawa ruas excel tersebut ke kamar mandi, mencucinya, menjemurnya dalam keadaan terbalik di luar kamar. Jam menunjukkan pukul 7, kuliah dimulai pukul 8. Gadis itu memutuskan untuk membiarkan kekacauan kecil yang tersisa.

Jam menunjukkan pukul enam sore.

Gadis itu baru kembali dari kampus setengah jam yang lalu. Adzan berkumandang, beranjak sholat, melipat mukena, lantas cengengesan menatap kekacauan sabun cuci piring tadi pagi. Excelnya sudah kering, setidaknya ia bisa mulai membereskan. Barang-barang yang tergeletak di atas flip chart dicuci dengan air, digeletakkan di atas flipchart di sudut kamar yang lain. Dan, oh, ia baru tersadar betapa cerdas dirinya. Flip chart di dua, oh tidak, tiga sudut kamar itu dengan cepat menjadi basah. Masalahnya, bukan hanya air yang membasahi lantai. Air, tentu saja, lengkap dengan sabun cuci piring yang mulanya melekat di barang-barang yang baru ia cuci.

Gadis itu (lagi-lagi) menertawakan kebodohan berlipatnya. Ia paling benci saat sedikit saja sabun cuci piring ada yang tumpah ke lantai. Sulit sekali membersihkannya sampai lantai tidak terasa licin. Kau saja harus membilas piring berkali-kali, kan? Kalau piring, iya mudah, bisa diputar-putar, dibilas dengan riang gembira. Tapi ini lantai, saudara-saudara. Ia tak pernah membayangkan harus membilas lantai yang terkena korban sabun cuci piring–dengan luas kini sekitar 1/3 ruang kamarnya.

Lututnya seketika lemas.

Sesuai asumsinya, untuk membersihkan lantai agar tidak menjadi licin dan tidak membahayakan, ia harus mengelap lantai berulang kali dengan air dan mengeringkannya. Jadi, gadis itu menumpahkan air kamarnya, persis seperti empat belas tahun yang lalu, bedanya, ia tidak sedang ingin pura-pura berenang.

Tak ada pilihan lain. Jadi ia menuangkan air dengan berpura-pura bahagia, berdiri dan menatap kamarnya yang basah (untunglah tidak separah empat belas tahun yang lalu). Gadis itu tertawa. Ya, karena sudah begini, gadis itu memutuskan berpura-pura bermain seluncur es (berhubung ia sudah tidak berminat untuk pura-pura berenang). Sebelum beberapa menit kemudian, ia berulang kali mengelap lantai dengan kain, mencuci kain hingga bebas dari sabun, mengelap lagi, mencuci kain lagi, dan begitu seterusnya.

Hari ini ia merasakan dua perasaan paradoks empat tokoh utama pada kisah empat belas tahu yang lalu sekaligus.

Saat itu, di samping bahagia karena menikmati lantai-seluncur-esnya, ia sekaligus ingin segera minta maaf pada sang Ibu dan asistennya karena sudah menumpahkan air di lantai empat belas tahun yang lalu.

—–

Sejarah itu berulang? Haha. Rasanya terlalu berlebihan kalau tiga kata tersebut menjadi kesimpulan kisah ini. Yang jelas, gadis itu bersyukur karena sang Ibu memberikan kesempatan padanya dan sang Adik untuk menikmati beberapa waktu di sore itu untuk berpura-pura berenang, sebelum akhirnya mereka mendapat teguran tegas untuk segera membantu sang Ibu membersihkan dapur. Karenanya, gadis itu bisa berpura-pura bermain seluncur es malam ini.

Gadis itu bersyukur karena Allah mengizinkannya terlahir dari rahim seorang wanita yang bijaksana.

Saat Kakak berbuat kesalahan, Kakak harus berani menghadapinya dan menyelesaikannya dengan dada yang lapang.

Dengan tetap menggenggam keceriaan kanak-kanak? :’)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: