Tim : Saya dan Kamu : Kita


Sebut saya bodoh atau terlalu polos,

tapi hati saya selalu berkata saya mempercayai kekuatan sebuah tim.

Kalau begitu, saat ada yang tidak percaya, apa yang bisa saya lakukan?

Saya menghargai mereka semua, setiap individunya, kadang melebihi saya menghargai diri saya sendiri.

Saat saya berbuat salah, saya akan memarahi diri sendiri dan bergegas memperbaikinya,

lain halnya saat orang lain berbuat lalai, saya akan memikirkan puluhan alasan yang mungkin membuat mereka melakukan itu.

Saya ingin menjadi sahabat yang paling pertama mengerti, pun saya mungkin tak cerdas menunjukkannya. Pun bahasa saya lebih banyak terkesan tegas dan lugas.

Apa yang saya pahami dalam sebuah tim adalah saling percaya dan saling menguatkan. Kalau yang pertama tak ada, apalagi yang kedua. Saat husnuzhon itu terhalang prasangka diri, bangunan yang berusaha kita bangun bersama akan rubuh seketika.

Lagi-lagi, pertanyaan saya pada diri sendiri, saat ada yang tidak percaya dengan kekuatan tim, rasa sedih itu sulit tuntasnya. Bagaimanapun, bergerak sendirian itu rasanya melelahkan. Perasaan ditinggalkan itu luar biasa menghancurkan, padahal bisa jadi hanya kita yang sedang menutup mata. Padahal saudara-saudara kita sedang mengulurkan tangannya. Atau kalau mereka tampak seperti tidak mengulurkan tangannya, bisa jadi itu karena mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan kita. Bukan karena mereka tidak peduli, tapi karena Allah sedang memberi kita kesempatan untuk peduli. Bergerak sendirian itu melelahkan, sekacau apapun mungkin tim kita kelihatannya sekarang.

Yang perlu kita lakukan bukan meninggalkan tim itu, tapi berusaha saling menggenggam tangan lebih erat dan memperbaiki semuanya perlahan-lahan. Maka, saat saya berusaha memandang dari sudut pandang itu, saya selalu berdo’a agar Allah menganugerahi dengan lembut kesabaran dan saya belajar menguatkan kesabaran itu. Memang ada tangis, saya merindukan kesempatan untuk duduk bersama dan bicara dari hati ke hati, yang belum kunjung bisa saya lakukan. Ada detik-detik saya terpaku membaca pesan singkat yang mengatakan bahwa apa yang saya percayai adalah omong kosong. Ada bisikan sesaat untuk berhenti. Tapi saya tahu, dari ruang hati saya yang paling dalam, saya ingin mempercayai kekuatan sebuah tim. Saya tidak ingin menuruti pikiran-pikiran negatif yang berusaha membuat saya kalah.

Kalau ada yang belum terbangun, maka tugas saya untuk memperbaikinya.

Ah, bolehkah saya mengatakan bahwa itu juga tugas.. kita?

Duhai Allah, basuh peluh ini dengan indahnya kebersandaran hati pada-Mu :’)

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. like this mbak…. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: