Akumulasi Rindu, Sesekali


Kamu berada di lingkungan yang berbeda dari lingkungan tumbuhmu,

kamu berada jauh dari teman-teman yang memberimu nasihat dan berbagi pembelajaran,

kamu berada di titik menyapa dunia luas yang berada di luar zona nyamanmu (ah ya, keluar dari zona nyaman itu untuk memperluas zona tumbuh kembangmu, lho),

kamu berada di titik pendakian yang terjal dengan pemandangan baru,

maka sesekali, sesekali kau tahu, di sana ada akumulasi rindu

–tentu saja kau harus menikmati perjalananmu yang sekarang, tapi saat rindu terakumulasi, kau boleh mengizinkan dirimu menyapa mereka yang ada dalam gambarannya

Merindukan guru-guru yang kau tak lagi ada di ruang kelas mereka untuk mendengarkan kisah-kisah mutiara dari mulut mereka–kisah Rasulullah dan para shahabat, kisah-kisah para cendekiawan muslim, kisah-kisah yang membuatmu matamu menyala dan tanganmu mengepal penuh tekad untuk menjadi muslim yang berdedikasi; mengamati tulisan tangan mereka di papan tulis–yang acapkali menyertai kisah mereka; mengulangi lafazh-lafazh hafalan Al Qur’an atau Hadits; mengikuti alur penjelasan ilmu-ilmu–matematika, bahasa, IPA, IPS, apapun; atau menyahut malu saat ditegur karena tertidur di ruang kelas.

Merindukan sahabat-sahabat yang tumbuh bersama : kalian berbuat kesalahan, kalian saling memperbaikinya; kalian berbuat kesalahan, lantas saling ‘memarahi’ dan menangis bersama; seseorang dari kalian sakit, lantas ribut memanggil wali asrama dan berseru khawatir; kalian baru saja dijenguk orang tua di asrama, lantas berbagi makanan, minuman, atau buah dengan yang lainnya; kalian tidak mengerti sesuatu, yang lainnya mengajarkan dengan semangat; kalian tertidur, yang lainnya membangunkan–mulai dari versi lembut sampai versi paling iseng; kalian saling menunjukkan tulisan dan jatuh cinta dengan sastra; kalian saling menyimak hafalan; saling berbagi apapun itu..

Merindukan bahasa Arab.

Merindukan suara sahut menyahut bacaan Al Qur’an, di masjid, di kamar, di koridor kelas atau asrama, di kantin, di saung, di bawah pohon.

Merindukan bahasa Arab (lagi).

Merindukan kesederhanaan.

Merindukan piket pagi. Sapu dan kain pel. Berjinjit melewati lantai.

Merindukan bunyi bel saat waktu sholat, waktu berangkat sekolah atau waktu muhadhoroh tiba. “Ana ahsab hattaa khomsah,” lantas bergegas keluar asrama sebelum hitungan kelima berakhir.

Segala yang menjadi bagian kehidupan.

Pertemuan-pertemuan dengan orang-orang istimewa itu, lantas, akan menjadi momen yang istimewa.

Tentu saja, sahabat dan lingkunganmu yang sekarang juga istimewa. Sangat istimewa.

Lalu kau akan bersyukur karena Allah memberimu kesempatan untuk mengenal mereka.

Berada, di tengah-tengah mereka.

Lalu kau tahu, jika kau rindu, hadirkan mereka ke tengah kehidupanmu. Temui mereka. Sapa mereka. Duduk di sisi mereka.

Lalu kau tahu, segala suasana dan momen-momen spesial yang mengisi cerita rindumu, hadirkan ia ke dalam hari-harimu. Bahasa Arab. Menghafal Al Qur’an. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Saling menasihati.

Karena di manapun engkau kini, sungguh, engkau berada di Bumi Allah :’)

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: