B.e.r.h.e.n.t.i


Kalau saya boleh memasukkan kata ‘berhenti’ ke dalam kamus kehidupan saya, saya akan melakukannya. Tapi karena apa? Saya harus benar-benar yakin bahwa itu terjadi karena suatu alasan yang akan Ia izinkan.

Kata itu bisa menjadi hal yang akan sangat saya sesali nanti, saat saya dijemput menghadap-Nya. Pasti ada banyak hal yang terasa berat, semoga saya diberi keberanian menghadapinya dengan keyakinan bahwa apa yang saya rasakan bukan sesak karena tersesat, ka annamaa yashsho’adu fis samaa’, tapi karena hawa nafsu yang membenci perjuangan di jalan yang Ia sukai.

Karena tidak ada ketinggian yang menuruti rendahnya keinginan. Kita tidak akan mencapai puncak gunung sebelum melangkahkan kaki menapaki jalannya.

Saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi di sepanjang perjalanan itu, tapi selama saya menjaga diri dan teman-teman seperjuangan saya di dalam tract yang ditunjukkan Allah, saya akan berusaha menepis rasa ragu untuk menunda kata ‘berhenti’, hingga Allah menjemput kami.

Insya’Allah.

Rodhiyallaahu ‘anhum wa rodhuu ‘anhu.

dan, beberapa kutipan dari tulisan seorang Kakak :

“luapan kecewa & hilangnya harapan kala terjadi kegagalan adalah tanda mengandalkan daya diri & tak bersandar pada Ilahi.” -Ibn ‘Athaillah-

“…(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS Alhadiid 23)

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: