My Sweet Bag


Alhamdulillah, tiga pekan kesekian kali (baca : UAS) yang menyenangkan itu sudah beranjak pamit. Saya suka suasana perjuangannya, suasana refleksinya. Suka dengan kesadaran bahwa saya masih banyak sekali kurangnya, jadi saya ingin belajar lebih banyak. Suka juga dengan rasa syukur karena Allah mengizinkan saya menelusuri jalan ilmu untuk mengisi hari-hari yang indah :’)

Dan akhir pekan ini juga istimewa.

Sabtu yang menjumpai pepohonan, dan bertukar tatapan penyemangat dengan sosok-sosok riang yang mencintai perjuangan. Rasanya.. hangat.

Ahad di mana saya kembali tiba di rumah, menikmati percik air dan sunyi di siang hari.

Ahad yang paginya, ehem, saya menyadari satu hal bersama ransel saya yang jagoan.

Paginya saya menghadiri walimah seorang kakak kelas di Unpad, Kak Hikmah (baarokallaahu ukhtii shoolihah). Bersama teman-teman yang lain, kami berangkat pagi-pagi sekali dari Jatinangor. Saya termasuk golongan orang-orang yang akan-segera-melesat-menuju-rumah setelah menyaksikan salah satu momen terbaik kakak kelas saya tersayang. Dalam kasus saya, karena rumah saya terhitung lumayan dekat dari rumah Kak Hikmah. Dan, sudah bisa ditebak (atau setidaknya, saya berharap kalian menebaknya), saya membawa tas saya yang manis (baca : definisi manis di sini sama sekali bukan warna pink, bukan ‘tas cantik’, dan bukan tas yang memang manis untuk dipandang). Ransel jagoan, mungkin.

Saya bawa ransel yang manis itu dengan setia di punggung saya.

Dan o ow, saya lupa. Ini mau ke walimahan atau jadi anak sekolahan, Neng? Ransel jagoan, hmm. Saya nyengir pendek. Ya sudahlah. Tas saya manis, kok. Seriusan. Dia nggak bakal bandel juga, kan. Nggak bakal lompat-lompat juga deh, nggak bakal berisik (ya iyalah, serem banget kalau ada tas kayak gitu, hehe). Yaaa, anggaplah anomali dari tas-tas cantik lainnya.

Jadi, saya turun. Berjalan, sambil diam-diam mensugesti diri bahwa ‘tas saya manis banget kok’. Sampai saya menyadari beberapa hal.

Saya dan tas saya yang manis sukses membuat beberapa orang mengernyit. Ada yang kesulitan lewat saat saya berdiri di sudut menyaksikan sesi akad Kak Hikmah. Ada yang kesulitan berbaris saat menunggu giliran menyendok makanan. Ada yang, ya intinya, merasakan ‘sempitnya’ dunia karena keberadaan tas saya yang manis (ehem, hiperbola).

Saya langsung istighfar dalam hati. Beneran deh, nggak ada niat sama sekali ya Allah buat mempersulit orang lain.

Pertama, memang rasio antara luas area dan jumlah orang dalam acara-acara publik seperti ini mungkin kurang dari satu (dalam arti kata lain, ramai).

Kedua, saya kan mau pulang.. Nanti kalau tasnya ditinggalin di bus, saya bawa apa dong ke rumah.. dan nggak tega juga meninggalkannya sendirian di kesunyian kursi bus. Nggak tega hilang deng aslinya.

Setelah itu, saya nyengir lagi. Mudah-mudahan nggak ada yang ngelihat kecuali Allah dan dua malaikat pengawas saya.

Tapi sugesti saya masih awet.

Tas saya memang manis banget, kok.

Garda, Si Ransel Jagoan

Sumber : http://www.ranseloke.com/2011/03/tas-ransel-laptop-eiger-stripes-03-abu.html

(pesan : kalau di suatu peristiwa semacam walimah kalian juga menemukan ‘tas manis’ seperti ransel jagoan saya, ada kemungkinan : Pertama, orang itu adalah mahasiswa. Yang kedua, rumah dia dekat dari sana, atau mungkin jauh, yang jelas, ketiga : dia memang harus membawa itu karena, ya, ada hal-hal penting yang harus dibawa untuk keberlanjutan studinya di rumah, contohnya buku tulis, buku bacaan, tempat pensil, dan sebagainya)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: