Organ-i-s-a-s-i


Ini seriusan, setelah bersenang-senang di dunia akademik mengiringi SOOCA dan OSCE, giliran saya kepikiran ingin mereview perjalanan organisasi di kampus, meskipun godaan untuk mulai membuka-buka buku pelajaran lagi besar sekali. Lagipula, sedikit sekali ya saya cerita tentang organisasi. Lebih banyak kilasan-kilasan pikiran yang berkelebat tanpa ampun setiap saya terpekur.

Oke. Nah, bingung kan mulai dari mana.

Tahun ini, pertama-tama saya mengangguk mengiyakan saat Ivan, sang ketua seksi Pendidikan dan Profesi, mengajak saya melanjutkan kepengurusan Pendpro di Senat. Formulir diisi, dan selanjutnya saya kembali terdaftar sebagai staf (dengan mengaku iseng, kali ini sebagai ‘staf ahli pendidikan’, ngawur deh -_-) Pendpro.

Sampai-sampai saya nggak ngerti, teman-teman hobi bilang, “Afifah itu Pendpro banget.” Baiklah. Mungkin karena saya memang suka sekali dengan dunia pendidikan, yang sedikit banyak dikarenakan saya besar di tengah-tengah para pendidik. Jadi, ya, bolehlah.

Itu satu.

Lalu suatu sore, Todia, sebagai ketua terpilih Science Research Center (SRC–suatu UKM penelitian di fakultas saya) menelepon dan menanyakan kesediaan saya menjadi ketua divisi Pembinaan Sumber Daya Manusia dan Kaderisasi (PSDMK).

Saya mengangguk.

Itu dua.

Saya tidak menyangka, dua anggukan dalam waktu sepersekian menit itu mampu membawa banyak hal ke dalam kehidupan tahun kedua saya.

Segala rasa, mulai dari semangat, senang bisa berjuang dengan adik-adik 2011 yang punya potensi-potensi hebat untuk terus berkarya, bingung mengonsep SRC karena masih banyak yang abstrak menurut saya, bolak balik kepikiran satu lalu dua lalu tiga lalu tidak terhitung hal tentang keduanya. Lalu pikiran yang mulai rajin random.

Segala asa. Tentang dunia pendidikan di fakultas saya. Penelitian. Kepenulisan. Keberlanjutan.

Banyak hal yang datang bersama dua anggukan.

Suatu sore yang lain, Hafdzi, kali ini sebagai ketua terpilih OPPEK 2012 : “Fifah mau nggak jadi Mami Fasil (sebutan untuk koordinator fasilitator semasa OPPEK dan Mabim)?”

Saya mengangguk.

Tiga.

Tiga anggukan.

Saya belum tahu sejauh apa saya akan kembali menjadi manusia random, yang sekarang harus benar-benar belajar menstrukturkan apa yang terlintas di pikiran saya, kemudian merangkainya menjadi rencana yang matang.

Dan satu lagi, Nona perfeksionis harus belajar untuk memulai meskipun belum sepenuhnya puzzle itu tersusun. “Nggak harus menunggu semuanya perfek, Fifah, untuk melakukan sesuatu. Justru dengan kita melakukannya, kita bisa membuatnya mendekati perfek.”

Saya ingin, ingin sekali, totalitas dan sungguh-sungguh dalam setiap keterlibatan saya. Di manapun. Kapanpun.

Meskipun, masa kepengurusan saya tinggal sedikit, dan banyak target yang belum bisa saya terjemahkan dalam langkah sederhana. Meskipun, selanjutnya tahun ketiga, saya tahu, menjadi koordinator fasil bukan tugas main-main. Itu juga saya harus ikut serta dalam dunia konsep mengonsep antara P&K dan Pendpro.

Kalau Allah izinkan saya ada di sana, dengan izin-Nya, selalu ada kemudahan dan pertolongan-Nya kan? Tinggal bagaimana saya memantaskan diri untuk memberikan kualitas diri yang terbaik, dari segi ikhtiar maupun kedekatan diri dengan-Nya.

Ini tentang perjalanan seorang pengembara. Pembelajar. Di bumi Allah.

Proses belajar nggak akan pernah berhenti, sampai Allah menjemput, insya’Allah, dalam husnul khotimah.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: