Cukuplah Kematian Sebagai Pengingat


“Cukuplah kematian sebagai pengingat..”

Pagi ini saya tertegun. Sebuah kabar menyampaikan bahwa salah satu adik kelas saya baru saja Allah jemput kemarin malam.

Ya Allah, sungguh dekat maut itu, ya?

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa ‘aafihaa wa’fu’anhaa.

Tidak ada batas usia minimal saat maut itu tiba. Allah yang Maha Tahu jatah terbaik usia yang diamanahkan pada seseorang.

Tidak ada kematian yang terlalu cepat, terlalu muda, atau terlalu lambat, karena ia tiba tepat waktu, sesuai dengan ketetapan Allah.

Sewaktu SMA, saya juga mendengar kabar yang sama. Suatu pagi, tatkala saya hendak pergi menuju sekolah, sebuah SMS masuk. Adik kelas saya di Al Kahfi, baru saja Allah jemput ke sisi-Nya. Saya selalu mengingat sosoknya hingga sekarang. Kami memang tidak cukup dekat, tapi ia mengajarkan saya tentang kesungguhan dalam mencintai Al Qur’an. Izinkan saya bercerita mengenai sosoknya, dan semoga Allah merahmati serta mengampuni dosa-dosanya.

Dulu, semasa SMP, guru-guru kami mengadakan ‘kompetisi’ tilawah Al Qur’an bagi para siswa di bulan Romadhon. Reward akan diberikan bagi siswa yang paling intens mengkhatamkan bacaan Al Qur’an. Biasanya, hadiah ini akan diberikan setelah kami sholat berjama’ah di masjid.

Ia adalah sosok yang selalu membuat saya merasa malu, karena, dalam waktu kurang dari 10 hari pertama Romadhon, ia sudah mengkhatamkan tilawah 30 juz-nya. Ini berulang selama dua tahun saya berada di sekolah yang sama bersamanya. Bahkan, dalam satu bulan Romadhon, biasanya ia khatam lebih dari tiga kali.

Saat saya memasuki kelas 1 SMA, kabar itu pun tiba. Adik kelas saya harus dirawat di rumah sakit selama beberapa lama karena dua penyakit utama yang Allah ujikan padanya, yang saya ingat, salah satunya adalah demam berdarah. Dan, pada hari yang Allah tentukan itu, Allah kembali memberi kemuliaan padanya. Pada beberapa menit sebelum malaikat Izroil datang, ia sempat memuroja’ah (muroja’ah = mengulang hafalan) hafalannya, yaitu surat Al Mulk.

Allahu akbar. Saat mendengar kisah itu, hati saya bergetar.

Surat Al Mulk, adalah surat yang memiliki banyak keutamaan. Dalam sebuah hadits, disampaikan begini :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga

Allah mengingatkannya untuk membaca surat yang penuh keutamaan ini sebelum malaikat Izroil menjemput.. Dan, seketika saya teringat tentang kesungguhannya dalam mencintai Al Qur’an.

Akhir kehidupan kita, juga ditentukan oleh bagaimana kita menjalani sebelumnya.

Dalam sebuah buku, saya membaca kisah-kisah yang, Na’udzubillaah min dzaalik, membuat detak jantung saya bersicepat. Seorang pemuda (semoga Allah mengampuninya), wafat dalam sebuah kecelakaan mobil dalam keadaan sedang menyalakan musik yang sama sekali tidak mengandung unsur mengingat Allah. Semasa hidupnya, ia memang sedemikian sering melakukan hal itu.

Padahal, impian seorang muslim adalah, saat Allah mengizinkan akhir kehidupan dirinya dalam keadaan mengingat-Nya.

Terdapat banyak kisah-kisah yang insya’Allah bisa menghidupkan hati dari momen kematian, salah satunya, dapat dibaca di buku Kesaksian Seorang Dokter.

Demikian.

Pagi ini, saya membuat tulisan ini sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, dan mudah-mudahan juga dapat bermanfaat bagi teman-teman yang membaca.

Saat seseorang meninggal dunia, sesungguhnya urusannya dengan dunia sudah selesai, dan tanggung jawab yang lebih besar justru berada pada mereka yang masih hidup. Bagaimana mereka mengambil hikmah dari maut yang menjemput saudaranya, dan bagaimana mereka mengisi kehidupan ini untuk dipertanggungjawabkan pada Allah.

Semoga Allah mewafatkan kita dalam keadaan husnul khotimah, dan senantiasa memberi petunjuk dan kekuatan untuk menjalani kehidupan ini dalam ketaatan terbaik. Aamiin.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: