Label Halal itu.. Keren !


Sejak kecil, Ummi membiasakan kami untuk meneliti betul kehalalan apa yang akan kami konsumsi. Saat kami merengek meminta sesuatu di pasar tradisional atau pasar swalayan, Ummi akan mengajak kami meneliti bungkus makanan atau minuman itu. Membolak baliknya, mencari label halal di segala sisi.

Kalimat favorit kami adalah, “Ummiii, ini ada halal MUI-nya.”

Lantas kami dengan penuh antusias akan memasukkan makanan atau minuman itu ke keranjang untuk dibayar.

Begitupun saat salah satu dari kami mendapatkan oleh-oleh dari teman. Gambar favorit saya adalah lambang halal dari negara-negara asal yang merupakan produsen makanan atau minuman tersebut.

Selektif sekali, ya? Kalau pun ingin dikatakan begitu, justru saya sangat bersyukur dengan sifat ‘selektif’ tersebut.

Coba yuk, diikuti pembahasannya, ini saya kutip dari situs MUI :

Bagi umat Islam, mengkonsumsi yang halal dan baik (thayib) merupakan manivestasi dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Hal ini terkait dengan perintah Allah kepada manusia, sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’an, Surat Al Maidah : 88 yang artinya:

“dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”    

Memakan yang halal dan thayib merupakan perintah dari Allah yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia yang beriman. Bahkan perintah ini disejajarkan dengan bertaqwa kepada Allah, sebagai sebuah perintah yang sangat tegas dan jelas. Perintah ini juga ditegaskan dalam ayat yang lain, seperti yang terdapat pada Surat Al Baqarah : 168 yang artinya:

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan; karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu”        

Memakan yang halal dan thayib akan berbenturan dengan keinginan syaithan yang menghendaki agar manusia terjerumus kepada yang haram. Oleh karena itu menghindari yang haram merupakan sebuah upaya yang harus mengalahkan godaan syaithan tersebut. Mengkonsumsi makanan halal dengan dilandasi iman dan taqwa karena semata-mata mengikuti perintah Allah merupakan ibadah yang mendatangkan pahala dan memberikan kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya memakan yang haram, apalagi diikuti dengan sikap membangkang terhadap ketentuan Allah adalah perbuatan maksiyat yang mendatangkan dosa dan keburukan. Sebenarnya yang diharamkan atau dilarang memakan (tidak halal) jumlahnya sedikit. Selebihnya, pada dasarnya apa yang ada di muka bumi ini adalah halal, kecuali yang dilarang secara tegas dalam Al Qur’an dan Hadits.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan berkaitan oleh Imam Muslim, bunyinya begini,

Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dia memerintahkan orang-orang mu’min sama seperti yang diperintahkan kepada para Rasul. Dia berfirman, ‘Hai para Rasul, makanlah makanan yang baik, dan kerjakanlah amal shalih’ (Al Mu’minun : 51). Dia juga berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah makanan yang baik yang kami berikan kepada kalian.’ (Al Baqarah : 172).

Lalu Rasulullah bercerita tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, hingga rambutnya kusut dan kotor. Ia menadahkan kedua tangannya ke langit (seraya berdo’a), ‘Ya Rabb, ya Rabb’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia kenyang dengan barang haram. Bagaimana mungkin do’anya dikabulkan?.”

Lalu, di pembahasan urgensi hadits dalam Kitab Al Wafi, dituliskan begini :

Hadits ini merupakan dasar dari berbagai hukum Islam. Juga merupakan inti dalam hal yang berkaitan dengan memakan yang halal dan menjauhi yang haram. Dengan hadits ini akan didapatkan manfaat yang luas dalam masyarakat. Karena jika masyarakat senantiasa membiasakan mengkonsumsi makanan yang halal, maka akan tercipta kasih sayang, tidak ada dendam, iri, saling tipu, atau bahkan mencuri. Sehingga masyarakat hidup dalam situasi yang aman dan sentosa. Selain itu, yang menyebabkan do’a tidak dikabulkan adalah selalu menggunakan barang haram, baik makanan, minuman, maupun pakaiannya.

Saya suka sekali dengan kutipan di awal tadi, bahwa makanan dan minuman yang halal banyaaak sekali, dan yang Allah haramkan hanya sedikit dibandingkan yang halal. Bahkan, dibalik pengharaman sesuatu, pasti ada hikmah kasih sayang Allah di baliknya.

Coba deh di search, mudah kok menemukannya. Tentang minuman keras, yang mungkin punya beberapa efek positif, tapi kerugian yang ditimbulkannya jauh lebih besar dari manfaat yang didapatkan, apalagi kalau sudah mengkonsumsi itu jadi addict banget, kan. Banyak lagi contoh-contoh lainnya.

Terus, terus, kalau ada yang masih belum dipahami tentang cara menjalani ‘selektif’ itu gimana? Baca, dong. Hehe. Nih, saya kasih linknya, ya, silahkan diklik di sini. Kalau mau lihat fatwa, klik aja bagian fatwa di situs itu.

Oke?

Semangat !

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: