Pertanyaan dan Pemahaman


Yang ia tahu adalah ketika dia laksanakan perintah Rabbnya, maka Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya.

(dikutip dari kisah di blog Ustadz Salim A Fillah)

Bukan artinya tidak boleh bertanya, kita harus bertanya saat kita belum memahami sesuatu. Tapi, kita pun harus berusaha memahami sebelum mulai bertanya.

Pertanyaan dan pemahaman, seperti dua hal yang bersahabat dekat.

Tidak terbatas dalam hubungan antara tidak paham -> bertanya -> menjadi paham. Tapi, dari pemahaman yang sudah Allah anugerahkan, kita juga berangkat sebelum mengajukan pertanyaan. Ada proses pertimbangan di sana, baik secara substansial (hal-hal yang mendasar) maupun secara konteks. Bila masih ada yang belum terpahami, mari kita diskusikan dengan cerdas; kritis yang terarahkan.

Mungkin saya juga masih dalam proses belajar untuk itu. Satu sore yang panjang, saya berdiskusi banyak hal dengan seorang Teteh saya, hingga, di perjalanan pulang saya menemukan sudut pandang baru dalam hal ini :

Saat kita menghabiskan waktu untuk bertanya-tanya, pada saat yang sama kita kehilangan waktu untuk beramal.

Bertanya, tentu berbeda dengan mempertanyakan. Bertanya kita lakukan untuk mencari kebenaran, sedangkan mempertanyakan bertujuan mencari pembenaran. Iya, kan?

Jadi, yang saya maksud bertanya di sini, tentu adalah suatu hal positif, karena bertanya adalah salah satu bentuk pembelajaran kita. Tapi, jangan lupa juga, bukan hanya bertanya agar paham, tapi pahami dulu sebelum bertanya, sehingga proses belajar itu lebih paripurna.

Pernah mengalami ini, kan? Saat di ruang kelas, seseorang dari kita maju untuk bertanya sesuatu yang belum kita mengerti, lalu guru atau dosen kita berkata, “Coba dibaca lagi.”

Pertanyaan dan pemahaman adalah dua sahabat dekat. Banyak kisah para manusia mulia yang memberikan contoh bagi kita tentang itu, seperti yang dituliskan oleh Ustadz Salim tadi. Ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan berbagai derajat kompleksitasnya. Dalam belajar di ruang kuliahkah. Organisasi. Hubungan dengan manusia. Terlebih dalam hal amal kebaikan yang membutuhkan kesigapan kita.

Kadang kita sibuk bertanya, tapi lupa untuk melibatkan diri kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dari berbagai sudut pandang. Tak apa. Hidup adalah proses pembelajaran, kan?

p.s. : Oh iya, jangan lupa, setelah dipahami, lengkapi juga dengan pengamalan :’)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: