Di Manapun, Cobalah Ini


Alkisah, dulu saya dan teman saya mendaftarkan diri dalam seleksi program Monbukagakusho, atau Monbusho, beasiswa kuliah dari pemerintah Jepang. Pada pilihan pertama, dia menulis teknik kimia, sedangkan saya menuliskan studi kedokteran.

Kemudian, saat pengumuman, saya bahkan tidak lulus berkas.

Saya menertawakan diri sendiri. Tentu saja, saya, dengan rangking yang fluktuatif di kelas, yang hanya menembus rangking 1 pada kelas 1, yang selanjutnya hanya berkutat di rangking 4 kelas dan entah urutan ke berapa di paralel 6 kelas IPA di SMA saya, dengan prestasi yang minim dan kemampuan bahasa Inggris yang jalan di tempat, memang belum sesuai bahkan untuk sekedar lulus berkas.

Saya mengangguk legowo pada diri saya sendiri. Meski saya juga tidak mau menyerah untuk menyapa langsung pohon sakura suatu saat nanti.

Selanjutnya, seperti kisah saya sebelumnya, Allah menakdirkan saya memasuki Unpad. Sebuah universitas yang sebagian besar fakultasnya, bahkan sekarang lengkap dengan gedung rektoratnya, berlokasi di Jatinangor. Berbeda dengan bayangan saya, fakultas saya tidak berada di Bandung.

Saya tersenyum lebar pada diri saya. Suatu saat kamu akan merindukan suasana Jatinangor ini, Fifah. Ujar seorang Teteh pada satu kesempatan.

Saya mulai menjalani kehidupan saya di Universitas Padjadjaran, dengan nuansa Sunda yang kental, dengan saya yang notabene tidak menguasai bahasa daerah apapun, pun bahasa Bugis atau Minang yang merupakan asal keluarga besar saya, memberi saya wawasan kebahasaan yang sama sekali baru. Punten, mangga, meureun (yang lebih banyak saya baca meren, bukan meureun, duhai, unik sekali bahasa ini), dan kosa kata lainnya yang membuat saya mengernyit dan ingin berteriak, “Tolong,  kembalikan saya ke planet saya yang dulu…!”

(Kabar baik, Alhamdulillah, sekarang saya sudah merasa akrab dengan suasana ini. Hehe..)

Di balik itu semua, saya menemukan banyak sekali anugerah Allah di sini.

Saya menyukai Universitas Padjadjaran, tempat saya belajar sekarang. Saya menyukai Jatinangor dan segala kesunyian yang berbeda dengan Jakarta.

Saya menemukan begitu banyak kasih sayang Allah di sini. Saat fakultas saya mewajibkan mahasiswanya menekuri textbook yang luar biasa mengharukan karena menggunakan bahasa Inggris.

Mula-mula, saya menghabiskan waktu 1 jam untuk memahami satu halaman buku. Dengan alfalink di kiri dan kamus Dorland di kanan, serta pensil dan post it di genggaman. Alhamdulillah, seiring waktu, saya menyukai segala pelajaran yang disampaikan dalam bahasa asing tersebut.

Bahasa Inggris saya tidak lagi jalan di tempat, tapi sudah majuuu jalan.

Bahkan saya sudah mulai terbiasa menyimak pembicaraan dalam bahasa Inggris, yang ditampilkan dalam animasi-animasi bahan kuliah di youtube. Alhamdulillah.

Saya tidak bisa membayangkan diri saya yang termangu putus asa dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar bila saya langsung Allah tempatkan di luar negeri segera setelah lulus SMA. Allah baiiiik sekali.

Dan, yang terpenting (baiklah, sebenarnya inilah inti tulisan saya, anggaplah pembukaan tadi sebagai hiburan untuk memperpanjang dan menebus tulisan saya yang super random sejak kemarin) adalah..

Allah mempertemukan saya dengan banyak orang-orang baik yang hebat di sini. Kakak-kakak yang luar biasa. Mereka yang dengan sabar dan cerdas mengajarkan saya untuk menjadi sosok yang senantiasa mengusahkan diri menjadi individu yang lebih baik, dengan cara mereka masing-masing. Dewasa. Terbuka. Berani. Sungguh-sungguh.

Mereka yang membagi cintanya untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain, yang mengajarkan saya untuk mencintai apa yang Allah anugerahkan kepada saya.

Kakak yang mendengarkan saya dengan tatapan berbinar, dan meluruskan persepsi saya yang sering meliuk zig zag.

Jazakunnallah ahsanul jazaa..

Uhibbukunn fillaah.. :’)

Percayalah, Allah memiliki rencana terbaik untuk kita di manapun kita berada sekarang. Saya di Unpad. Mungkin sekarang kalian berada di universitas lain, SMA lain, SMP lain, atau tempat-tempat yang berbeda dengan saya.

Tapi, cobalah..

Di manapun kita berada, bukalah mata, hati dan pikiran kita lebih lebar untuk mencermati hikmah yang Allah titipkan dalam setiap momen kehidupan kita. Lalu syukuri dan optimalkan. Lalu bangun dan tersenyumlah. Lalu bangkit dan bergeraklah. Berikan kesungguhan sebagai wujud rasa syukur kita atas cahaya yang Allah berikan :’)

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: