Tupai Hari Ini


Pernah merasa terlalu banyaknya yang ingin kamu ceritakan, sehingga akhirnya kamu bingung harus menulis atau berbicara seperti apa? Seperti seorang anak kecil yang mengalami hari pertama masuk sekolah yang menyenangkan, atau terlalu menakutkan. Matanya akan sangat berbinar, atau sangat meredup, dan saat sang ibu bertanya, anak itu akan bercerita dengan ‘melompat-lompat’, seperti tupai yang menemukan kenarinya.

Baiklah, mungkin kalian tidak pernah seperti itu. Tapi, coba bayangkan saja.

Yang jelas, hari ini bukan hari pertama saya masuk sekolah. Hari itu sudah berlalu 16 tahun yang lalu, saat saya berusia 3 tahun, lagipula saya tidak ingat hari pertama saya masuk sekolah itu seperti apa rasanya.

Tapi, hari ini.. Allah memberikan banyak sekali kisah baru yang saya catat dalam benak saya. Allah menggerakkan hati saya untuk berkunjung ke ITB, RCDC, mendengarkan ‘ledakan’ inspirasi dari tokoh-tokoh yang terasa sekali perjuangannya di bidang mereka masing-masing (lihat di sini).

Allah mempertemukan saya kembali dengan sahabat-sahabat saya.

Bertukar heboh dengan Kak Thifa, yang tadi riweuh sekali berjalan ke sana kemari, dengan gaya khasnya yang tidak pernah berubah, yang sempat-sempatnya berlari dan berteriak, “Naf !” sementara saya juga menjatuhkan name tag saya di lantai karena tidak percaya bisa bertemu Kak Thifa di sana. Oh, iya ya, Kak Thifa kan ketua acaranya.

Berbagi hikmah dan kisah dengan Shabrina, sepanjang materi kedua. Dengan Teh Nurul yang nimbrung di 30 % obrolan kami kemudian. Sudah lama sekali kami tidak berbicara sedemikian akrab dan lama seperti ini. Saling menyimak. Saling memberi saran. Saling tersenyum. Saling memarahi satu sama lain saat ada hal-hal error yang membebani pikiran kami. Saling menghela napas lega saat kami tahu seharusnya bagaimana. Dan saling berjabatan erat saat saya harus pulang bersama Teh Karina. Wal ‘ashr. Innal insaana lafii khusr. Illalladziina aamanuu wa tawaashow bil haqqi wa tawaashow bishshobr.

Berbinar-binar saat bertemu Kak Tania. Ya Allah, saya rindu sekali dengan kakak saya ini. Tanpa sadar bahkan kami berlari dan saling memeluk erat sekali. Hanya sebentar, tapi kami mengucap tasbih dan tahmid sepanjang berbicara. Allah Maha Baik.

Allah Maha Baik. Keimanan ini, telah mengakrabkan hati, sedemikan lembut dan dekat.

Alhamdulillaah.

Sesungguhnya Ia Maha Tahu bentuk tarbiyah seperti apa yang tepat bagi setiap hamba-Nya. Dan mungkin, tidak akan sama. Tapi kita harus tetap yakin, bahwa tarbiyah dari-Nya sangat spesifik. Tarbiyah dari-Nya adalah kebutuhan. Karena dengan tarbiyah, keimanan dan ketaqwaan akan terupgrade. Dengan tarbiyah, penghambaan kita akan melejit tinggi menggapai semesta. Dengan tarbiyah, segalanya menjadi indah.. (Shab)

Uhibbukunn fillaah. Fii amaanillaah. Arjuu an yu’thiinallaahul istiqoomah wash shobr fil jihaad wal quwwatun niyyah lilmujaahadah fii sabiilih.. Aamiin.

Hari ini Allah beri rihlah, perjuangan mulai detik ini dan selanjutnya, insya’Allah akan lebih baik !

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: