Oasis Mimpi


Seharusnya aku melanjutkan membaca Wintrobe. Ternyata bukunya menyenangkan sekali, ya. Buku yang jujur, bertutur, dan membuatku ketagihan berimajinasi tentang darah (baca : hematologi). Aku mau ketemu Pak Wintrobe.. ! (dengan nada bertekad versi anak-anak, yah, kau bisa bayangkan seperti apa).

Haha.

Tapi aku sedang ingin menulis. Jadi, boleh saja, kan? Meskipun waktu seperti saat ini, ‘waktu sunyi’ menurutku (meskipun orang-orang berlalu lalang di kantin yang meski tidak ramai ini, tidak bisa dibilang sepi juga) sangat langka sejak aku memasuki fakultas kedokteran, dan seharusnya aku bisa memanfaatkannya untuk bersiteguh belajar.

Haha lagi, deh.

Aku baru saja membaca tulisan salah seorang temanku (aku nggak boleh manggil dia kakak, sih), teman dekatku di sini. Membaca tulisan dia seperti oasis. Kadang aku bebas datang ke sana, lalu berteduh di bawah pohon mimpi.

Pernah dengar pohon mimpi? Nggak pernah juga nggak apa-apa sih, aku juga barusan kok mengarang nama itu.

Baiklah, aku beri tahu deskripsinya sedikit. Pohon itu sebenarnya mirip sekali dengan pohon kelapa (seperti yang ada dalam bayangan Maruko-chan saat dia mengkhayal tentang dunia Arabia impiannya). Nyiurnya melambai. Tegaknya dia di atas tanah oasis memberikan bayangan yang membuatmu terbebas dari terik paman matahari.

Perbedaannya adalah, dia tumbuh di oasis mimpi, di mana kamu bertemu dalam imaji dan keakraban yang lembut dengan mimpi-mimpimu. Mimpi-mimpi masa kanak-kanak, remaja, hingga menuju dewasa seperti saat ini. Jadi, pohon mimpi adalah tempat kamu duduk dengan hati yang hangat dan tatapan bersemangat bersama mimpi-mimpi yang menyertai dirimu.

Kamu dan mereka, mimpi-mimpimu.

Kamu dan bagian dari dirimu.

Kalau aku adalah gadis yang mengendap-endap, dia adalah gadis yang melompat-lompat.

Gadis yang mengendap-endap itu suka sekali saat gadis yang melompat-lompat mengajaknya melompat.

Tinggi.

Bebas.

Membuatnya bisa mengunjungi oasis mimpi yang sering dia lupa bagaimana cara memasukinya.

Sebenarnya oasis mimpi itu tidak pernah dikunci, semua orang bebas mendatanginya. Kapanpun mereka mau, kapanpun mereka ingin.

Dan semua orang bebas mendefinisikan kapanpun itu.

Sayangnya, mereka sering lupa kapanpun yang mereka miliki itu. Kerumitan pikiran, keruwetan variabel-variabel dalam benak mereka membuat mereka lupa bahwa mereka bisa kapanpun bermain ke oasis mimpi.

Sampai-sampai ada orang yang merelakan dirinya untuk tidak berani lagi bermimpi. Mereka merasa lelah bermimpi, bahkan takut. Padahal, pasti itu akan menjadi hal yang sangat menyakitkan.

Aku tahu.

Aku pernah merasakannya.

Dan itu jauh lebih melelahkan lagi.

Sesuatu yang mampu membuat matamu menyala dan hatimu menghangat sekaligus berbisik penuh harap pada-Nya, bukanlah hal yang perlu kau hilangkan dari kehidupanmu.

Maka, saat bermain di oasis mimpi, saat aku bebas bersenandung dengan riang tentang harapan-harapan yang ingin aku perjuangkan, aku ingin menuliskan ini.

Untuk berkisah padamu, “Sesekali, ikutlah bersama kami bermain di oasis mimpi.

Cobalah lagi.

Seperti saat kita memulainya pada masa kanak-kanak. Yang jujur pada diri sendiri tentang apa yang dia inginkan. Yang menganggap segala tantangan yang menyertai mimpi-mimpinya adalah sahabat-sahabat baru yang menyenangkan. Dia akan bangkit dan menghadapi mereka dengan berani. Lalu dia akan menjabat tangan tantangan-tantangan itu seakan-akan mereka adalah teman akrab sejak lama.

Seperti saat aku berkata,

“Ummi, aku mau jadi dokter.”

“Mi, aku mau jadi peneliti.”

“Mi, aku mau jadi penulis juga, deh.”

Seperti saat aku berbisik iseng pada adikku,

“Kita main ke Jepang, yuk.”

Dan dia menjawab dengan santai, “Tapi aku mau ke Inggris juga, Kak.”

Atau, “Mauuuuu, mau pergi haji bareng-bareng, nanti kita ke Makkah, Madinah, terus mau juga ke Palestina. Mau banget, Muuth.”

Seperti itulah.

Saat mata kita menyala dan hati kita menghangat sekaligus berbisik penuh harap pada-Nya.

Gambar oleh Nurani Nashuha Arief.

p.s. : Jazakillah Nai 😀

Advertisements
Leave a comment

3 Comments

  1. Terbanglah
    bukan berarti aku melepasmu pergi
    aku hanya ingin melihatmu berkembang
    atau mungkin aku mampu mendampingimu
    berkembang tanpa batas. ^_^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: