Miawww


Kadang, saya merasa mungkin saya bisa mengerti kucing, atau kucing bisa mengerti apa yang saya rasakan.

Aneh memang.

Saat kecil, saya sering bermain dengan seekor kucing (yang saya tebak, saya belum pernah memberi dia nama), setiap pagi saat Ummi mengajak saya keluar. Baiklah, kami tidak bermain. Saya hanya duduk, dan dia juga hanya duduk. Tapi saya tahu saya menyukai kucing itu.

Kucing itu menghilang kemudian, dan saat saya menyadarinya, usia saya sudah melewati angka balita.

Sekarang, saya memang tidak bisa sebebas dulu dalam masalah menyentuh atau bermain dengan kucing, saya harus memastikan kucing itu benar-benar bersih. Tapi, saya masih sering bertukar tatap, atau berbicara dengan bahasa mereka.

Terkadang, saya merasakan beberapa hal yang mungkin terlalu aneh untuk ukuran orang-orang seumuran saya. Saya sangat harus memastikan bahwa barang yang saya pakai adalah benar-benar milik saya (baca : barang yang Allah amanahkan kepada saya untuk saya jaga di dunia). Saat makan, saya harus bisa menemukan piring dan sendok saya, bukan sekedar piring dan sendok. Saat minum, saya harus menggenggam gelas saya. Saat meletakkan laptop, saya harus memastikan laptop itu ada di meja saya.

Persis seperti kucing menjaga daerah teritorialnya, tapi tentu saja saya tidak akan mencakar atau menggigit saat daerah itu diganggu.

Hanya saja, perasaan itu.. sering tidak nyaman saat teritorial itu diusik.

Selama itu tidak mengganggu orang lain, tidak apa-apa, kan?

Sesederhana ini yang saya inginkan.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: