Wallahul Musta’aan


Suatu sore SMS Ibu Ratih, seorang pembina saya yang pertama di Al Kahfi, masuk ke HP saya.

Pesan itu berisi kabar tentang kesempatan menyelesaikan hafalan Al Qur’an selama dua tahun di sebuah daerah, dengan pemuliaan berupa segala kebutuhan dibiayai, bahkan diberikan uang saku.

Saya tertegun di tempat, hari itu tepat dua hari sebelum saya memulai kembali aktivitas belajar di kampus, dan tidak ada teman yang bisa saya ajak bicara mengenai sebuah kegelisahan yang sering muncul (sejujurnya, semenjak SMA), karena rata-rata teman sekosan baru kembali esok hari.

Saya rindu sekali menekuni ilmu-ilmu syar’i. Saya rindu sekali berada di tengah-tengah komunitas yang senantiasa melahirkan semangat untuk mengulang-ulang dan menambah hafalan. Saya rindu bahasa Arab. Saya rindu bersicepat mencatat kalimat-kalimat yang dibacakan oleh guru-guru dengan sahabat saya..

Sebelum memutuskan memasuki SMAN 34 Jakarta, saya dan beberapa teman saya–dengan dukungan orang tua kami tentunya–mengusahakan diri mendapat beasiswa SMA di Mesir. Melanjutkan belajar di negeri yang dilatari bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari adalah salah satu mimpi saya, juga berada dekat sekali dengan Makkah, Madinah, dan Palestina.

Allah memilihkan jalan yang berbeda. Saya melanjutkan pendidikan lanjutan saya di sebuah SMA negeri. Saat itu saya harus berjuang beradaptasi hampir dalam segala hal. Saya membutuhkan waktu beberapa bulan untuk dapat menemukan tempat saya di sana. Saya belajar banyak hal, saya menemukan banyak hadiah-hadiah dan kejutan kasih sayang Allah di SMA saya. Namun, kerinduan itu mulai bernama. Saya merindukan bahasa Arab, berlomba-lomba dalam menghafal hadits atau ayat-ayat Al Qur’an. Saya merindukan guru-guru saya.

Rencana Allah selalu indah. Rencana Allah selalu dipenuhi kasih sayang untukmu. Selalu.

Mendekati akhir masa SMA, Allah memilihkan FK UNPAD, tempat saya menuntut ilmu sekarang. Tempat saya kembali belajar banyak hal, menemukan banyak kejutan-kejutan lain dari Allah. Namun, kerinduan itu, yang kadangkala menjadi kegelisahan, masih sering menyapa. Maka saat Bu Ratih mengirimkan pesan itu, saya meyakinkan diri untuk menceritakan hal ini melalui beberapa kalimat singkat, dan beliau mengirimkan kalimat bernada lembut–kalimat-kalimat yang sering saya rindukan–sebagai jawaban :

Insya’Allah segalanya harus prioritas dulu, paling gak anti sekarang kan lagi fokus kuliah, sambil muroja’ah sedikit-sedikit aja yang penting muter terjaga, nanti kalau sudah selesai kuliah baru niatkan untuk menyelesaikan, wallahul musta’an, barokallahu fiiki …

Wallahul musta’an.

Dan Allah, pada-Nya aku meminta pertolongan, pada-Nya aku memohon keberkahan dan ridho-Nya dalam setiap langkah kehidupanku.

Bismillaah.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: