Sudahkah Kita Berilmu ? (sebuah kutipan)


Parameter keilmuan dalam Islam adalah “khasyyatullah” (takut dosa, azab, dan neraka-Nya) sesuai dengan yang ditegaskan al-Qur’an surat Fathir: 28 (innama yakhsya Allaha min ibadih al-ulama’ – diantara hamba-hamba Allah yang takut kepadaNya hanyalah orang-orang yang berilmu).

Jadi, kalau ada orang yang mengaku berilmu tapi kerjanya menggugat dan menentang Allah, itu sebenarnya mengindikasikan kejahilan atau kebodohan, bukan keilmuan.

http://pimpinbandung.com/2011/06/17/dr-anis-malik-thoha-pendidikan-sekular-terbukti-bangkrut/

Persoalan ilmu di sini bukanlah dalam arti bahwa umat Islam harus mengejar ketertinggalannya dalam ilmu sains dan teknologi sebagaimana sangkaan banyak orang. Bukan ini masalah utamanya. Masalah ilmu ini adalah masalah yang terkait dengan cara pandang, atau pandangan alam (worldview). Pandangan alam adalah cara seseorang atau masyarakat dalam memandang dirinya sendiri dan lingkungan di sekelilingnya.

Prof. Malik Badri menjelaskan bahwa setiap teori dan praktik keilmuan dan pendidikan tidak datang dari ruang kosong, tapi merupakan turunan dari pandangan alam ini. Pandangan alam ini dibentuk dari jawaban terhadap sejumlah pertanyaan mendasar, seperti siapakah manusia itu, dari mana asal-usul manusia, apakah alam ini memiliki Pencipta, apakah alam ini ada yang memelihara atau berjalan dengan sendirinya, apakah alam ini akan musnah atau kekal selamanya, benarkah ada kehidupan setelah mati, dan seterusnya.

“Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat diabaikan, dan jawaban manusia terhadap pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pilar utama pada pandangan alam mereka,” jelas pakar psikologi Islam ini.

Sebagai contoh, jawaban mengenai apakah manusia itu. Dalam psikologi modern manusia dipandang sebagai salah satu jenis hewan, bukan makhluk pilihan Tuhan yang memiliki jiwa sebagaimana pandangan agama. Hal ini menyiratkan penyangkalan terhadap adanya dosa, sebab hewan tidak bisa dituntut atas kesalahan-kesalahannya. Dengan demikian maka manusia bisa berbuat sekehendaknya.

Namun, kenyataannya agama mengajarkan adanya hukum Tuhan yang harus dipatuhi manusia. Ada yang boleh dan ada yang dilarang. Tapi, manusia tidak mau menerima pengaturan ini, dan oleh karena itu mereka mengangkat dirinya sebagai ‘Tuhan’ sehingga ia membuat hukum versinya sendiri dan mengabaikan hukum Tuhan. Sebagai contoh, dulu perilaku homoseksual dipandang sebagai sesuatu yang tidak normal dan dikutuk Tuhan, namun kini di Barat homoseksual hanya dipandang sebagai alternatif lain dari heteroseksual. Dari sini bisa kita lihat, bagaimana pandangan alam manusia mengenai dirinya dan Tuhan menentukan penerimaan atau penolakan manusia terhadap perilaku homoseksual.

http://pimpinbandung.com/2011/06/17/perlukah-islamisasi-ilmu/

Ringkasan Konsep Ilmu Dalam Islam

Tidak ada agama, ideologi, kebudayaan dan peradaban lain selain Islam yang menempatkan ilmu dalam tempat yang begitu penting. Sebagai gambaran, Rosenthal menuliskan bahwa sekurangnya terdapat 750 kali kemunculan istilah yang berkaitan dengan kata ‘-l-m, jika kita hitung secara kasar bahwa dalam al-Qur’an terdapat 78.000 kata, maka kata yang berkaitan dengan ‘-l-m mengambil satu persennya. Jumlah ini belum termasuk istilah lain yang berkaitan seperti f-q-h, d-b-r, f-h-m, dan ‘-q-l, sebuah frekuensi kemunculan yang tidak biasa di dalam al-Qur’an.[2] Frekuensi kemunculan yang tinggi dan dengan didukung berbagai bukti lain menunjukkan tingginya posisi ilmu di dalam IslÉm, bahkan Allah subhanahhu wa Ta‘ala sendiri mensifati diri-Nya dengan al-‘alim. Terdapat banyak penjelasan tentang hakikat ilmu di dalam IslÉm melebihi apa yang ada dalam agama, kebudayaan dan peradaban lainnya, tidak diragukan lagi hal ini disebabkan oleh kedudukan yang sangat tinggi dan peranannya yang besar.

Barat mempersempit makna ilmu  menjadi sains modern (modern science), yaitu ilmu yang tunduk pada suatu metoda ilmiah (scientific methods: logico-hypothetico-verificatif) dan hanya berhubungan dengan fenomena (sesuatu yang empiris),  dan beranggapan bahwa sains modern adalah satu-satunya ilmu yang otentik.[3] Dengan demikian ilmu-ilmu yang bersumber kepada Wahyu dan berhubungan dengan hal yang gaib menjadi terkeluarkan dari sains dan tidak digolongkan pada ilmu atau tidak ilmiah. Demikian juga ilmu-ilmu yang bersumber dari Kitab Suci al-Qur’an; Hukum yang diwahyukan (shari‘ah); Sunnah; Islam; Keimanan (iman); Ilmu Spiritual  (al-‘ilm al-ladunniyy), Kebijaksanaan (hikmah) dan ma‘rifah, dan lain-lain.

Menurut IslÉm, Ilmu datang dari Allah Tuhan Semesta Alam, dan diperoleh melalui sejumlah saluran yaitu[4]:

  • Berita yang benar dan bersumber dari otoritas (al-khabar ash-shadiq), di dalamnya adalah al-Qur’an dan sunnah.
  • Panca Indera (al-hiss al-mushtarak) yang sehat
  • Akal yang sehat
  • Intuisi

Dengan demikian saluran ilmu (epistemologi) Islam lebih luas cakupannya dari epistemologi Barat. Islam mengakui ilmu yang datang melalui panca indera seperti metoda eksperimental, juga yang datang melalui akal rasional, namun Islam juga menempatkan ilmu yang bersumber pada kitab suci, sunnah pada tempat yang tertinggi. Penempatan sumber-sumber ilmu inilah yang juga disebut adab terhadap ilmu, yaitu mengakui adanya hirarki dalam ilmu dan menempatkan sesuatu pada tempatnya yang semestinya. Karenannya cakupan ilmu dalam konsep Islam meliputi baik yang bersumber dari al-Qur’an, sunnah dan ilmu-ilmu shar‘ah (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu agama”) juga ilmu-ilmu yang mempelajari alam semesta (yang dikenal masyarakat awam sebagai “ilmu dunia”). Dalam konsep Islam tidak ada pemisahan antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”, yang ada adalah adanya pembedaan yang bersifat maratib (derajat) dan prioritas. Karenanya dikenal pembagian ilmu menjadi ilmu fardh ‘ayn dan ilmu fardh kifayah. Atau pembedaan dari segi cara memperolahnya, seperti ilmu mu‘ammalah dan ilmu mukashafah.

Tujuan utama dari pencarian ilmu, juga termasuk ilmu alam (sains), adalah mengenal Allah. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihatnya dari aspek bahasa. Terdapat hubungan yang erat antara ilmu (‘ilm),  alam (‘alam), dan al-Khaliq. Untuk menggambarkan secara singkat hal ini, marilah kita lihat kata ‘ilm, sebuah istilah yang digunakan dalam bahasa Arab untuk menunjukkan ilmu. Kata ‘ilm yang berasal dari akar kata yang terdiri dari 3 huruf, ‘-l-m, atau ‘alam. Arti dasar yang terkandung dalam akar kata ini adalah ‘alamah, yang berarti “petunjuk arah”. Al-Raghib al-Isfahani (1997, s.v. “‘a-l-m”) menjelaskan bahwa al-‘alam adalah “jejak (atau tanda) yang membuat sesuatu menjadi diketahui’ (”al-atsar alladzi yu‘lam bihi syai’”). Franz Rosenthal memberikan pandangannya yang menarik, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particulary close and takes on especial significace in the Arabian environment.[5]Jadi kita melihat ada keterkaitan yang erat antara way sign (petunjuk arah) dengan knowledge (ilmu atau pengetahuan). Kemudian‘a-l-m juga ternyata akar kata bagi istilah yang sudah menjadi bahasa Indonesia, yaitu alam atau dalam bahasa arab ‘aalam yang secara umum berarti jagat raya-alam semesta yang mencakup apa yang ada di luar kita afaq atau makrokosmos (al-‘alam al-kabir)  dan juga termasuk apa-apa yang ada di dalam diri kita atau anfus atau mikrokosmos (al-‘aalam al-shaagir), yang dapat dipelajari dan diketahui. Hal ini juga disebutkan dalam al-Qur’Én dan al-Hadits, bahwa semua benda dan kejadian di alam raya (universe) merupakan ayat Tuhan (tunggal, ayah), yaitu petunjuk-petunjuk dan simbol-simbol Tuhan.[6]

Kini menjadi jelas bahwa tujuan utama dari mencari ilmu adalah mengenal Allah (ma‘rifatuLlah), dan dengan mengenalnya timbul rasa takut dan tunduk kepada-Nya: “sesungguhnya yang takut kepada AllÉh diantara hamba-hamba-Nya adalah para ‘ulama’ (QS. 35:28).  Banyak para ‘ulama’, misalnya Imam al-Ghazali yang memperingatkan agar berhati-hati dalam niat mencari ilmu, dan tidak dibenarkan mencari ilmu untuk tujuan duniawi seperti harta dan kedudukan.[7] Ibn Hazm bahkan mengecam mereka yang mencari ilmu untuk tujuan duniawi, dan mengatakan bahwa dunia bisa dicapai dengan cara yang lebih mudah. Para ilmuwan muslim pada umumnya tidak pernah menjadikan harta dan jabatan sebagai tujuan untuk pencarian ilmu. Sebaliknya, harta dan jabatan adalah sarana untuk pencarian ilmu. Ibnu Rusyd, Ibn Hazm, dan Ibn Khaldun adalah ilmuwan yang berasal dari keluarga kaya. Kekayaannya tidak menghentikan mereka dalam pencarian ilmu. Sebaliknya, al-Jahidz, Ibn Siddah, Ibn Baqi, all-Bajji, adalah beberapa contoh ilmuwan yang miskin, namun kemiskinan tidak menghalangi kegairahan mereka terhadap ilmu. Jadi jelas bahwa harta dan kekayaan bukan tujuan mereka, ada dan tidak adanya harta tidak mengurangi gairah mereka terhadap ilmu. Ada suatu motif yang lebih luhur dalam pencarian mereka terhadap ilmu. Sikap dan pandangan para ilmuwan Islam ini tentu lahir dari sebuah konsep tentang ilmu, lebih luas lagi dari sebuah pandangan hidup, yakni worldview Islam tentang ilmu.

Ilmu erat kaitannya juga dengan pendidikan, namun pendidikan dalam IslÉm bukan terbatas pada transfer ilmu dari guru kepada murid (instruction), pendidikan adalah sebuah proses untuk membentuk manusia yang tidak hanya berilmu namun juga beradab. Karena itulah istilah yang lebih tepat untuk pendidikan adalah ta’dib yang meliputi ta‘lÊm dan juga tarbiyah.[8] Dalam kamus bahasa Indonesia sendiri makna “didik” meliputi “pemeliharaan” dan “pengajaran” sekaligus serta “cara” (berlaku). Sehingga “pendidikan” lebih dekat kepada konsep “ta’dib”. Makna dari “adab” adalah kemampuan seseorang menempatkan sesuatu pada tempat yang benar, atau “cara berbuat yang benar”, “benar” di sini tentu menurut timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu tujuan utama pendidikan dalam Islam adalah ditekankan utamanya membentuk individu yang beradab atau individu yang baik. Seorang individu yang beradab akan mengetahui tempat yang tepat untuk dirinya di dalam masyarakat dan mampu menempatkan orang dengan tepat pula, dari sinilah proses islah itu dijalankan dalam sebuah masyarakat.[9]

pimpinbandung.com/2011/06/14/konsep-ilmu-dalam-islam-kekeliruannya-dan-dampaknya/

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: