Rumah Sakit, Rumah Sehat ?


Beberapa kali dalam tahun-tahun terakhir ini, saya sering sekali liburan di rumah sakit. Allah punya rencana yang sangat indah. Dari sana, saya merasa terbiasa duduk dan mengamati kehidupan di rumah sakit.

Berbagi cerita, berbagi senyum dengan ‘teman’ yang juga sedang menunggu di depan ruang dokter. Seperti dekat sekali. Saat seseorang memiliki kesamaan dengan orang lain, mereka akan merasa nyaman, kan? Dan saat kesamaan itu hanya terpahami oleh mereka yang merasakannya, kedekatan yang terbangun akan melahirkan dukungan. Dari sana banyak orang yang terdorong mendirikan perkumpulan untuk saling menguatkan. Persaudaraan di atas kebaikan memang selalu indah, ya?

Insya’Allah, saya akan banyak menekuri waktu di rumah sakit. Ah, sebenarnya saya ingin sekali menyebutnya rumah sehat, seperti mimpi salah seorang kakak yang pernah saya kenal semasa SMA. Dalam bahasa Arab, rumah sakit disebut mustasyfaa, mengandung asal kata yang sama dengan syifaa’, kesehatan, kesembuhan.

Rumah sehat dalam benak saya, bukan hanya tempat orang-orang yang sudah diuji dengan penyakit berdatangan, tetapi juga tempat pembinaan kesehatan bagi masyarakat. Tujuan mulia kedokteran, sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh salah seorang dosen saya, adalah meningkatkan kesejahteraan manusia melalui status kesehatannya.

Dan saya ingin menjaga cita-cita mulia itu di dalam dada saya, insya’Allah.

Makanya saya sedih sekali saat ada orang yang skeptis dan dipenuhi judgement negatif saat mendengar atau menjumpai sosok dokter.

Menjadi dokter adalah bentuk ketaatan saya pada Allah.

Dokter juga sesosok manusia yang memiliki ruh, jasad, akal, dan hati. Saya merasa, dalam perjuangan kami yang luar biasa, sejak kami menjejakkan kaki di fakultas kedokteran, hingga merentas langkah-langkah yang tak ringan lainnya, juga membutuhkan dukungan dan kepercayaan dari orang-orang di sekitar kami.

Bukan, bukan meminta penghormatan atau perlakuan yang lebih, saya hanya ingin menyampaikan, “Kami sangat menginginkan kebaikan untuk orang-orang di sekitar kami, bahkan itulah salah satu alasan kami berjuang dan bertahan.” Mungkin ada beberapa yang lupa dengan tujuan itu, tapi bukan artinya dokter harus terus diburu dan dipandang negatif, karena, percayalah, jika pun yang termunculkan adalah sisi-sisi negatif, selalu ada mereka yang setia dengan nilai-nilai dan mimpi-mimpi positif di bidang kesehatan.

Permasalahan yang sering muncul di bidang apapun, selalu muncul dari kecacatan ‘aqidah dan akhlaq. Dari sana mari kita rintis perbaikan. Mau contoh? Ikutlah mentoring, hehe.

Baiklah, kembali ke rumah sakit, ah, tidak, rumah sehat. Oh, baiklah, namanya masih rumah sakit. Setiap kali duduk di sana, saya membayangkan diri saya sedang berjalan di sana, dengan pikiran-pikiran yang berpantulan di dinding-dindingnya. Saya ingin menjadi seorang muslimah yang dokter. Dan saya tahu, saya tidak sendiri, ada Allah, dan orang-orang yang mencintai keimanan dalam hatinya, dalam perjuangan yang Allah pilihkan ini.

Bismillaah.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: