Bagaimana dengan Bekal Saya?


Sore itu saya sedang duduk melingkar bersama adik-adik fasil 12 dan 11, membicarakan agenda bina desa.

Dalam suatu jeda, salah satu adik kelas saya berkata,

“Teteh, kemarin saya mimpi tentang Teteh.”

Saya mengernyit dan bertanya, “Mimpi apa?”

“Saya mimpi Teteh meninggal, nggak tahu kenapa.”

Deg. Aliran darah terasa berhenti sejenak. Tegang.

“Oh, ya? Itu karena kita semua kan milik Allah, ” ujar saya perlahan.

“Itu pertanda apa, Teh?”

Saya tersenyum.

“Nggak ada pertanda pun, kematian itu memang dekat, kan?”

Lantas dia mengangguk dan menghentikan pertanyaan.

Diam-diam saya termenung sepanjang akhir pertemuan kami sore itu. Tiba-tiba saya merasa malu baru saja menangis saat skills lab karena melakukan satu kesalahan.

Berapa kali saya menangis karena mengingat kematian? Karena mengingat amal saya yang masih belum sempurna untuk kembali. Ah, bahkan pemilik kesempurnaan itu pun hanya Allah. Berapa kali saya begitu bersungguh-sungguh memperbaiki akhirat saya?

Ilaahii.. jadikan hidup kami bekal yang cukup untuk kembali pada-Mu..

Ilaahii Robbii.. karuniakan kami husnul khotimah. Aamiin.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: