Kueja Satu-satu


Bolehkah, aku melukis wajahmu di langit-langit kamarku

membiarkan udara menjadi latarnya, juga dinding menjadi piguranya

Sesekali, aku akan membiarkan namamu hadir dalam benak

Menimpali putaran hari yang semakin rumit dalam kedewasaan,

ah, dewasa, aku tak tahu apa yang akan kau katakan tentang aku,

gadis kecilmu, atau sosok dewasa yang mulai memahami segala sesuatu

Di sini, aku selalu, sosok pembelajar, entah seperti apa mereka memandangku,

aku adalah aku

Aku adalah aku, begitupun setiap kali aku mencium tanganmu, dan kecupanmu mendarat di keningku,

aku adalah aku, gadis yang mendewasa dalam makna

Kadang aku beranikan diri menyibak ilalang, terkagum-kagum dengan kemilau air diterpa terik,

kadang aku berlari-lari bersama angin, menyapa batang-batang tua yang berbaris rapi di belantara,

kadang aku menangis menahan dingin, atau meringis menahan panas,

tapi di sini, aku belajar,

di sini, aku belajar, sungguh

Maka sesekali, aku biarkan namamu merangkul hari, membayangkan kau akan mengatakan apapun untukku,

menanyakan berapa juz hafalanku, bagaimana bahasa Arabku, memintaku memperdengarkan bacaan Al Qur’anku, dan kau akan membacakan beberapa syair untuk kuhafal

Sesekali, oase itu adalah taman yang akan kudatangi,

kemudian, kueja namamu satu-satu,

Ayah

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: