Saya dan Bahasa Inggris


Senin lalu saya ikut acara SRC-AMSA, tentang public speaking atau apa entahlah (saya telat datang, habis riweuh foto-foto Senat. Heboh !). Pembicaranya adalah salah seorang anggota ISMKI (dan pernah ngisi LKMM  kemarin, alhasil Mbak Wulan, Nuni, dan warga-warga telat yang duduk di belakang ribut, ‘dia lagi’, sementara saya dan Andi cengengesan nggak tahu itu siapa), kalau tidak salah namanya Reynaldhi, dan dia minta seluruh audience memanggilnya Ray.

Kak Ray ini bahasa Inggrisnya canggih Subhanallah. Pas dia bicara saya membayangkan dia ini cocok kalau jadi pembawa acara VOA atau pembaca berita bahasa Inggris di TV. Alhamdulillah telinga saya bisa menangkap maksud pembicaraan (dengan posisi telinga tegak kelinci, butuh fokus banget kalau dengar orang bicara bahasa asing).

Di ruangan itu saya sadar, kemampuan bahasa Inggris saya masih jauh belum bisa mendukung kemampuan komunikasi saya. Misalnya, di Twelvo (fasil 12) kalau Hema, Hing, atau Hafidz bertanya, saya mandeg semandeg-mandegnya. Saya belum bisa menerjemahkan seluruh, TOTAL, maksud saya ke dalam kemampuan bahasa Inggris saya. Padahal, kalau bicara di depan forum internasional, harus, harus banget bisa.

Memang, TOEFL saya sudah mencapai 540 ke atas (dan saya jujur lho ngerjainnya..), saya merasa cukup enjoy mengerjakan LI (dengan notabene bagaikan menjadi seorang translator; baca textbook bahasa Inggris, sedangkan handout dibuat dalam bahasa Indonesia, tapi enak banget kok belajar kayak gini:) ), intinya masalah baca-tulis-hitung insya’Allah saya bisa meyakinkan diri saya bahwa saya baik di sana. Tapi ya itu tadi, kemampuan komunikasi saya masih minim.

Saya masih sering terpaku bingung saat mendengarkan orang berbicara bahasa Inggris. Film fiksi, video ilmiah, atau native speaker (apalagi kalau kecepatan berbicaranya tinggi); saya masih lebih banyak bodohnya saat harus ngeh apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan. Atau saat saya harus berbicara dengan vocab keseharian (haha, terlalu banyak menerjemahkan bahasa simple textbook), atau presentasi ilmiah, saya juga masih belum bisa baik sebaik-baiknya. Padahal dua hal itu kan inti komunikasi : mendengarkan dan berbicara.

Ya Allah.. Saya mau belajar lagi. Butuh belajar di luar, tapi belum tahu lagi naruh jadwal di mana (ironi mahasiswa tahun kedua :p). Mau minta ajarin Teh Duha, janjian ngobrol dengan bahasa Inggris, tapi sekarang agak langka menemui 2008 yang punya waktu luang untuk diajak cerita-cerita.

Saya jadi kepikiran banget dengan adik-adik 2011. Mereka masih harus berbahasa Inggris ria total di tutorial (bahkan SOOCA..), di skills lab, di proses belajar mereka.

Memang, banyak yang bilang, “Ini kesempatan bagus untuk kalian.” “Ndak apa-apa lah, toh kalian juga diwajibkan TOEFL 550 kan, harusnya bahasa Inggris kalian bagus dong.”

Tapi entah mengapa saya merasa TOEFL dan kemampuan komunikasi bagaikan planet Merkurius dan Neptunus (baca : langit dan bumi). Memang, memahami textbook termudahkan, tapi untuk berbicara dan mendengarkan bahasa yang expert, ada requirement lain yang seharusnya dipenuhi sejak masa pendidikan dasar. Iya, bahasa Inggris memang diajarkan sejak SD, tapi saya masih melihat gap output dan ekspektasinya.

Kata MbaWul, penggunaan bahasa Inggris dalam kuliah ini pasti terjadi, universitas kita memang sedang mengejar World Class University. Kalau nggak 2011, ya 2012, 2013. Tapi dengan gap berbahaya ini, saya khawatir tujuan proses pembelajaran malah tidak tercapai.

Memang, kemampuan bahasa Inggris itu bukan lagi tujuan sekunder, perdagangan bebas sudah marak, globalisasi kesehatan sudah dekat, tapi kalau tujuan pembelajaran tidak tercapai (belajar –> paham, ngerti –> kemampuan dan kompetensi –> pengembangan bidang melalui riset dan aktualisasi ilmu), apa yang mau diunggulkan?

Saya ingin menyemangati para praktisi pendidikan bahasa Inggris :

WE NEED YOU..

Butuh supprot dan perjuangan besar para pengajar bahasa Inggris, agar tidak ada language shock, agar kami siap menghadapi kehidupan yang semakin kental persaingan.

Dan ini, sebuah PR besar.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: