Ummi : Ibuku


Wanita itu yang tersenyum untukku pertama kali,

lebih dari sekedar bangga,

rasa syukur mengalir deras di pembuluh darahnya

Wanita itu yang mengecup kening dan pipiku pertama kali,

menghujaniku dengan rimba kasih sayang,

tak peduli aku nanti,

“Afifah adalah bidadari Ummi.”

Wanita itu yang mendekap hangat tubuh mungilku,

rela terjaga,

menangis saat aku sakit

Tangannya yang pertama kali hinggap di keningku saat aku demam

Belaiannya yang menemaniku di depan ruang tunggu dokter saat aku menangis menahan sakit

Kesabarannya yang meluluhkan keras kepala dan jiwa kecil sang pemberontak

Keteguhannya yang melembutkan keras hati sang gadis kecil

Kecerdasannya yang mendampingi gadis kecil penuh kritisnya tumbuh

 

Wanita itu yang setia duduk di sisiku

Tak peduli berjuta kali aku berbuat salah

Jauh sebelum aku menghargai diriku sendiri,

jauh sebelum orang-orang di sekitarku mempercayaiku

“Afifah adalah anak Ummi yang sholihah.”

Tak peduli saat itu gadis kecilnya sering membuatnya bersedih,

atau membuatnya menyesal karena harus memarahi gadis itu saat ia tak mau mendengarkan

Jauh sebelum gadis kecil itu belajar mendengarkan,

wanita itu selalu mendengarkan

Jauh sebelum gadis kecil itu berani berbicara di depan orang banyak,

wanita itu menyimak setiap perkataan gadis kecilnya dengan penuh perhatian,

menjawab setiap pertanyaan yang melelahkan dengan penuh kasih,

“Kenapa begitu?”, “Kenapa tidak begini?”

mengajarkan gadis kecilnya mencintai proses pembelajaran

Jauh sebelum gadis kecil itu belajar memaafkan,

wanita itu selalu lebih dulu memaafkan

Jauh sebelum gadis kecil itu menjadi pemberani,

wanita itu menemani setiap malam menakutkan gadis kecilnya dengan kisah-kisah para Nabi dan Shahabat yang pemberani,

“Afifah adalah anak Ummi yang pemberani.”

 

Wanita itu yang membujukku pertama kali menjadi guru,

tapi menyambut hangat keputusanku menjadi dokter dan peneliti

Wanita itu yang setia berkata, “Kakak pasti bisa”,

saat aku mempertanyakan kemampuanku

Memelukku saat aku merasa rapuh

Menggenggam tanganku dan berbisik,

“Ummi sayang Kakak.”

 

Gadis kecil itu tumbuh dewasa dengan keistimewaannya,

dan selamanya,

wanita itu adalah bidadari bagi gadis kecilnya

 

Ya Robb, lindungi dan mudahkan anak hamba meraih citanya yang mulia dan bermanfaat bagi sesama insan. Ayo Nak, semangat dan berjuang. Love. Ummi.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Subhanallah, terharu ka saya membacanya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: