Bosan, Jenuh, Lantas Apa?


“Kamu ngapain Fah kalau bosan?”

Baca Qur’an, atau dengar murottal Qur’an, atau baca-baca catatan atau menyimak pembahasan ayat-ayat Al Qur’an. Refresh banget lho. Jadi merasa malu, ya Allah Nuur, tujuan penciptaan dirimu mulia banget.. Ya Allah Nuur, Allah kasih banyak sekali nikmat. Trigger banget untuk spirit booster. Saya baru baca suatu quotes yang.. membuat saya tertawa getir (pas nggak ya deskripsi ini? Define it by your self, deh)

Nabi Adam dosanya satu, dikeluarin dari surga. Kita dosanya banyak, pengen masuk surga.

Al Qur’an kan pedoman hidup. Ada gambaran besar tentang bagaimana kehidupan hamba yang dicintai Allah, sehingga kita jadi bersemangat menjadi seperti itu, bahkan gambaran detailnya juga banyaak sekali. Ada juga gambaran tentang bagaimana kehidupan hamba yang dimurkai Allah (Na’udzubillah min dzaalik), yang membuat kita jadi berjuang supaya nggak seperti mereka. Poin utamanya, apa yang Allah suka, pasti bermanfaat bagi kita. Apa yang Allah benci, pasti nggak baik untuk kita, meskipun kita pandang baik (siapa kita, sobat yang nggak bisa tahu segala hal dalam makna ‘segala’ yang paling sebenar-benarnya?). Di antara keduanya, ada porsi kita bernama pilihan, dan kesadaran kita tentang hal tersebut benar-benar menjadi spirit booster buat saya.

Saya ingin memilih yang baik untuk diri saya, yang selanjutnya juga akan baik bagi orang lain (individu itu bagian dari masyarakat, kan ya? Kalau individu baik, masyarakat juga baik, siklus kehidupan pun akan terjaga dalam tatanan yang seimbang).

“Lalu, ngapain lagi, Fah?”

Hm, membaca buku para cendekiawan atau tulisan kakak-kakak saya yang sangat banyak di blog. Apa definisi kakak-kakak saya di sini, padahal jelas-jelas saya anak pertama (kecuali kalau satu orang yang benar-benar ‘kakak’ masuk ke dalam kehidupan saya, hehe)? Kalau boleh, saya selalu menganggap mereka kakak saya. Seorang kakak yang menasihati dalam caranya berbagi, blog merekalah yang bisa saya jangkau.

Blog adalah cara kami berbagi; tentang hati, nasihat, mimpi, dan segala hal yang tidak ingin kami simpan sendiri. Karena di pundak kami, ada tanggung jawab generasi.

Memang, seperti mengobrol sederhana. Kadang saat membacanya, saya tertawa, atau ikut menangis, ikut merasakan apa yang mereka rasakan saat menulisnya.

Bahagia. Antusias. Semangat. Sedih. Risau. Berpikir. Miris. Melompat-lompat. Mimpi. Menyelam. Terbang. Menatap sekitar lebih jelas. Memahami ke dalam lebih jernih. Atau apapun itu.

Menulis dengan hati, membaca dengan hati. Di sana, ada komunikasi yang nggak pernah sekedar komunikasi.

Kalau lagi bosan, jenuh, bukan artinya kamu harus diam.

Bukan artinya kamu harus lari, menutup diri. Tapi membuka mata dan telinga lebih lebar. Saat jenuh itu tiba, mungkin saja, kamu hanya lupa, bahwa kamu ada di dunia ini untuk berjuang dan bersabar, mengabdi pada Sang Pencipta.

Mungkin saja kamu hanya perlu memahami lebih jauh, bahwa hidup adalah tugas mulia yang harus berakhir dalam kemenangan.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: