The Change Isn’t About You Or Me, But Us (Bagian Satu dari Dua)


Prolog : Tulisan ini merupakan essai yang dibuat sebagai syarat mengikuti seleksi LKMM ISMKI Wilayah II yang pada kesempatan lalu diselenggarakan di FK UNPAD. Nah, sahabat saya, Wulan,  Alhamdulillah terpilih menjadi delegasi FK UNPAD. Salah satu dari kedua essai Mbak Wulan mendapat penghargaan essai terbaik. Jadi, selamat membaca dan.. semoga bermanfaat:)

THE CHANGE ISN’T ABOUT YOU OR ME, BUT US

Oleh : Maria Agustina Sulistyo Wulandari, Mahasiswa FK UNPAD Angkatan 2010

Bismillah.

Kemajuan tidak akan terjadi jika bangsa ini tidak melakukan perubahan. Sementara waktu terus berjalan, tetangga mulai menyesuaikan, tinggal apakah kita akan tetap stagnant diam, duduk dan melihat, ikut berjalan, atau berlari mengejar ketertinggalan. Perubahan bisa terjadi, sangat mungkin bisa terjadi jika ada niat dari pelaku perubahan itu sendiri. Namun niat pun tidak cukup kuat untuk menggerakan, perlu ada dorongan, tujuan yang ingin dicapai dan kemantapan untuk terus konsisten bergerak. Hal ini diperlukan regulasi dan pemantauan tentunya, agar setiap langkah yang dilakukan tidak melenceng dari tujuan. Disinilah peran seorang pemimpin. Diharapkan dia mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain lebih daripada pengaruh orang-orang tersebut kepadanya.

Pemimpin yang baik seyogyanya adalah 1seorang yang belajar seumur hidup mengembangkan dirinya sendiri, bukan hanya dari pendidikan formal. Dimana dia berada, disana tempatnya untuk mendapat ilmu. 2Berorientasi pada pelayanan dan selalu 3membawa energi yang positif untuk dirinya sendiri dan para pengikutnya.

Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. (1) Kecerdasan intelektual. Penting sekali bagi seorang pemimpin untuk berani mengambil keputusan. Tentunya keputusan tersebut harus dibuat setepat mungkin karena menyangkut kepentingan bersama. Hal ini dapat dilakukan jika pemimpin mempunyai dasar yang kuat mengenai hal-hal yang berhubungan dengan apa yang dia pimpin, sehingga dapat timbul strategi dan ide yang baik dalam bergerak menuju perubahan untuk mencapai tujuan bersama. (2) Kecerdasan emosi. Dalam menjalankan tugasnya, tidak jarang akan sering muncul konfik. Baik antarpengikut atau pemimpin-pengikut. Pemimpin dengan kecerdasan emosi yang baik dapat mengatur emosinya dan dapat menjalankan pekerjaannya dengan kepala dingin. (3) Kecerdasan spiritual. Pemimpin akan berhubungan dengan orang lain, pengikut-pengikutnya, hendaknya dengan bekal etika yang baik sehingga para pengikutnya menaruh respect dan dalam bekerja lebih disegani. Pengikutnya pun akan merasa dihargai karena perilaku baik pemimpinya itu. Bekerja pun dengan senang hati, hasil pun lebih dihargai.

Namun tidak cukup ketiga hal tesebut. Seorang pemimpin tentu harus mempunyai jiwa kepemimpinan, yang merupakan suatu upaya menggunakan pengaruh untuk memotivasi orang-orang dengan maksud perubahan dan hasil nyata yang mencerminkan pencapaian tujuan bersama. Dalam konteks ini, kunci kepemimpinan lebih kepada “pengaruh”, bukan “kekuasaan”. Jadi seorang pemimpin itu harus mempunyai kapasitas untuk mempengaruhi orang-orang dan membujuk mereka untuk melakukan tuntutan pekerjaan yang membawa mereka ke tujuan perubahan. Bukan hanya berbekal kekuasaan. Bukan sebatas memerintah dan tanpa usaha untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab tentang apa yang mereka kerjakan. Karena sejatinya, suatu pekerjaan itu akan berbuah baik jika dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Tentunya waktu yang selama ini digunakan untuk mencapai perubahan tersebut tidak ingin terpakai dengan tidak efektif bukan?

Pengaruh itu bukan hubungan satu arah antara pemimpin dan pengikut, melainkan suatu hubungan timbal balik. Dengan hubungan timbal balik inilah, semua perubahan yang terjadi berarti sebagai hasil dari tujuan bersama. Pemimpin mempengaruhi pengikut, begitu juga pengikut dapat mempengaruhi pemimpin, jadi pengikut yang baik bukanlah sekedar “yes people”, namun pengikut yang bisa memberikan masukan atau kritik, agar pekerjaan yang dilakukan mereka itu memang bukan hanya atas kehendak/perintah pemimpin. Hal ini karena tujuan perubahan yang diinginkan pun adalah tujuan bersama. Dengan begitu, kesadaran akan tanggung jawab juga akan tumbuh dengan sendirinya pada para pengikut. Tanggung jawab pribadi dan integritas pemimpin dan pengikut itu penting.

Selain itu, fungsi kepemimpinan yang efekif akan terwujud jika pemimpin menjadi bagian di dalam situasi sosial kehidupan para pengikutnya. Karena pemimpin yang membuat keputusan dengan memperhatikan situasi sosial pengikutnya akan dirasakan sebagai keputusan bersama yang menjadi tanggung jawab bersama pula dalam melaksanakannya.

Dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan dalam perubahan itu besar peranannya dalam mempengaruhi, bukan menguasai. Hal ini karena pemimpin bertindak sebagai seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama. Bukan tujuan pribadi yang dicapai dengan alat “para pengikut”. Disinilah pentingnya rasa tanggung jawab pada setiap para pelaku perubahan dalam bergerak untuk mencapai perubahan (tujuan).

Setiap kalian adalah pemimpin. Setiap pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Alhamdulillah.

Link : http://www.facebook.com/note.php?note_id=227861713928940

Jazakillah Mbak:)

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: