Aku Menjabat Tangannya dan Ia Memberiku Senyuman Terbaiknya


Bagaimana rasanya saat dirimu begitu lama terinspirasi tulisan seseorang, bahkan engkau membayangkan engkau sudah sangat dekat dengannya, tak peduli bahwa kau sama sekali belum pernah bertemu dengannya, kemudian Allah memberimu kesempatan untuk bertemu langsung dengannya. Kau menjabat tangannya dan ia memberimu senyuman terbaiknya. Seakan engkau benar-benar sudah sangat dekat dengannya.

Di sanalah, indahnya penyampaian kebaikan dan nasihat-nasihat pada ketaatan, tersimpan dalam keterikatan hati yang Ia jalinkan atas dasar iman.

Pernahkah engkau merasakannya?

Izinkan aku bercerita tentang seorang saudari seiman yang melalui tulisan beliau, aku banyak belajar dengan izin-Nya. Dan melalui pertemuan kami, aku bisa memaknai lebih banyak lagi tentang tulisan-tulisan beliau.

Usia kami terpaut cukup jauh. Tentu saja, beliau kini adalah seorang dosen di salah satu fakultas universitas tempatku menuntut ilmu, dan aku baru saja menjalani kehidupan mahasiswa di universitas ini. Sejak lama beliau sudah mulai memasuki dunia kepenulisan, seingatku, pertama kali aku membaca karya beliau, aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Karya beliau yang pertama kali kubaca bertutur tentang kisah seorang muslimah bernama Pingkan. Tentu, tentu, kau benar. Nama pena beliau adalah Muthmainnah. Ibu Maimon Herawati. Kakak kelasku yang berselisih beberapa tahun di atasku akrab memanggil beliau Teh Imun. Tapi, ah, aku yang kadang masih belum betul-betul dewasa, lebih suka memanggil beliau Ibu.

Bagaimana ya aku mendeskripsikan beliau? Sejujurnya untuk hal ini, aku rasa aku bukanlah orang yang tepat. Beliau mengajar di FIKOM, sedangkan aku belajar di Fakultas Kedokteran, dan kami baru dua kali bertemu. Sebenarnya beliau juga sering menemani kegiatan FKDF, Forum Komunikasi Da’wah Fakultas, lembaga da’wah kampus di universitas kami, tetapi, ya.. aku lebih banyak aktif di organisasi fakultasku. Jadi, aku belum pernah mengalami interaksi yang intens dengan beliau.

Pertama kali aku bertemu beliau adalah saat fakultasku mengadakan acara bedah buku. Bukan, bukan buku beliau. Tetapi buku seorang penulis asing yang sebenarnya tidak terlalu tepat untuk dibedah. Maksudku, masih jauh lebih banyak karya sastra lain yang muatan nilainya jauh lebih bermakna daripada buku itu. Beliau menggarisbawahi hal itu dengan teguran yang cerdas, ya.. aku akui, kami memang salah. Insya’Allah hal ini akan menjadi salah satu bahan pertimbangan saat kami akan menggelar agenda yang serupa. Saat itu, pertama kali aku menyadari beliau hadir sebagai pembicara, kelopak mataku seketika melebar. Aku benar-benar antusias menyadari beliau hadir di ruangan yang sama denganku. Saking antusiasnya, aku langsung berjalan menghampiri beliau di luar ruangan seusai beliau pamit, bahkan tanpa menunggu MC menutup acara, hehe. Dengan kegembiraan seorang anak-anak, aku bercerita bahwa sudah sejak SD aku membaca buku beliau. Beliau tersenyum cerah sekali, dan seperti deskripsiku di awal tulisan, aku menjabat tangannya dan ia memberiku senyuman terbaiknya.

Pertemuan kedua kami terjadi kemarin, saat aku menghadiri acara FKDF di mushola Asy Syifaa’. Lagi, aku menatap beliau dari jauh dengan antusiasme seorang anak-anak (hei, aku tahu, sampai paragraf ini aku juga bertanya-tanya, kapan sih aku akan benar-benar dewasa). Beliau menyapa kakak kelasku dari berbagai fakultas, yang sebagian besar aktif di FKDF (namanya juga acara FKDF, hehe). Lalu, seperti yang kunantikan, beliau menghampiriku dengan senyuman mataharinya, dan kami bersalaman. Assalaamu’alaikum, kami saling bertukar hadiah terbaik berupa salam penuh do’a yang dicontohkan Rasulullah. Sayangnya, setelah itu aku tak sempat menyaksikan beliau berbicara dalam acara tersebut karena radang amandel membuat kepalaku pusing hampir seperti melayang.

Hal yang ingin aku tekankan di sini bukan antusiasme seorang pembaca bertemu penulis kesukaannya. Tapi ukhuwah Islamiyah, persaudaraan dalam Islam, persaudaraan yang didasarkan atas indahnya iman dan Islam. Jika engkau mencermati kalimat yang tertulis italic, engkau akan segera paham maksudku.

Aku menjabat tangannya dan ia memberiku senyuman terbaiknya.

Seperti itulah seorang muslim menyambut kehadiran muslim lainnya, saudara seimannya. Al muslimu akhul muslim. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tak peduli ia orang Jawa kah, Sumatera kah, Papua kah, warga negara Indonesia kah, Malaysia, Australia, Amerika, Inggris, Jerman, Jepang, atau Palestina. Setiap muslim bersaudara, dan tentu saja, seseorang akan memberikan sambutan terbaiknya saat menemani saudara yang ia sayangi. Bahkan seorang Abdurrahman bin Auf ditawarkan sebagian kepemilikan saudara Ansharnya saat pertama kali hijrah ke Madinah.

Cerminan paling sederhana ada pada salam dan senyuman yang selalu menyambutmu saat bertemu saudaramu yang lain. Bahkan, Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya mengungkapkan, bahwa jabat tangan sedemikian dapat menggugurkan dosa. Salam merupakan hadiah penuh do’a indah yang engkau sampaikan untuk saudaramu.

Semoga keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan senantiasa menyertaimu, saudaraku..

Subhanallah, ya?

Salah seorang alumni Rohis di SMAku pernah mengingatkan kami tentang betapa hal sederhana ini merupakan hal yang tak boleh kami lupakan. Sesibuk apapun program kerja kami, jangan sampai kami lupa menyapa saudara kami dengan salam dan senyuman terbaik kami. Jangan sampai salam kami hanya berupa basa basi, setelah salam, tanpa jeda sama sekali, yang ditanya justru, “Bagaimana proposalnya? Bagaimana perizinannya? Bagaimana, sudah dapat tanda tangan?” Jenuh tentu. Lelah tentu. Bukankah yang paling indah adalah saat kita saling meringankan beban, dan senyuman itu, kalian setuju kan, bisa menjadi salah satu oase yang menyejukkan.

Senyumanmu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh, begitu Rasulullah berujar.

Mudah-mudahan aku senantiasa teringatkan untuk menyapa sahabat-sahabatku dengan salam dan senyuman:)

Jazakillah khoiron Ibu, hm.. Teh Imun:)

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. Shabrina Nida Al Husna

     /  August 24, 2011

    Subhanallaaaah, great! 🙂

    Reply
  1. Jilbabku, Bahagiaku | Catatan Pengembara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: