Sophomere


Setelah (hampir) berhari-hari belum berhasil mendapat koneksi internet, akhirnya sore ini (mungkin karena sepi) saya bisa menarikan jari kembali di laptop untuk menyapa diri saya sendiri melalui blog. Atau, ada teman-teman lain yang juga membaca? Entahlah. Somehow saya ingin minta maaf kalau konten di blog saya benar warna warni, yah, tapi sejujurnya saya suka.

Sophomere. Saya baru tahu itu sebutan untuk tahun kedua di universitas. Dan saya di akan di sana sejekap lagi, insya’Allah. Tanggal 9 kemarin judisium 2, dan saya sedih karena beberapa teman seangkatan saya belum diberi kesempatan untuk sama-sama berada di tingkat yang sama dengan saya. Saya sempat membeku beberapa detik saat mendengar kabar itu. Sedih, menggigit bibir, perih. Saya hanya bertemu dengan salah satu dari mereka, ingin memeluk mereka semua, bagaimanapun mereka adalah teman-teman seperjuangan saya. Susah senang bersama. OPPEK, Mabim, deg-degan ujian. “Sabar ya, insya’Allah kalau sabar balasannya surga. Pasti ada hikmahnya.”

Saya baru lebih tenang saat Teh Wina bilang, “Makin naik tingkat akan makin berat Fah, kalau memang begini keputusan-Nya, insya’Allah itu yang terbaik. Mereka bisa lebih kuat, lebih tegar. Lebih baik di masa awal, di tingkat selanjutnya akan lebih sulit kalau belum dapat determinasinya.”

Liburan ini saya belajar banyak. Meluaskan spektrum belajar, bukan hanya di akademik yang saya jalani penuh dua semester ini, bukan hanya di antara teman-teman Pendpro yang hampir setahun ini berusaha membuat tim yang hebat (insya’Allah kepengurusan selanjutnya saya lanjut di Pendpro, mau banget bikin Pendpro yang hebat, superman dalam superteam).

Saya masuk kepanitiaan acara OPPEK, yang setelah saya pertimbangkan dengan matang, benar-benar paham tentang makna kata seru, asyik, heboh. Teh Andini, Kang Poundra, Kang Acim, Kang Hamda, Dimas, Saifan, Kavin, Aam, Opik, Dhita, Icha, Nuri, Nova. Saya yang biasanya kumpul di antara teman-teman Pendpro yang hampir semua setipe dengan saya–menyimak, mendengarkan, bertanya masalah teknis–seperti melihat atmosfer berbeda. Berbeda, tapi menyenangkan. Pusing, tapi seru. Sibuk, tapi asyik. Awalnya saya lebih banyak diam, hanya berbeda sedikir dengan patung; mengamati, menyimak, dan mencatat. Sampai tanpa sadar saya sudah tenggelam, ikut terlibat di antara obrolan kami. Antusiasmenya terasa sekali, suasana berpikirnya.

Kalau masalah suasana berpikir, belum ada yang bisa mengalahkan KurKes, Kurikulum Kemahasiswaan. Target awal sebelum OPPEK sudah selesai, tapi karena banyak variabel tak terduga, tampaknya ini tugas lanjutan untuk anggota ‘muda’nya untuk melanjutkan. Tapi saya tidak keberatan, kok, saya senang di sini. Dan kalau sudah senang, saya justru menunggu-nunggu waktu pertemuannya. Waktunya untuk mengerutkan kening, berbingung-bingung ria, menertawakan diri sendiri, tapi yang paling penting, bertemu wajah teman-teman yang banyak menginspirasi saya. Teh Fulki (Teteh, jangan pergi dulu 😦 ), Kang Poundra, Dimas, Farah, Anne, Rika, Pusfa (kesayangan Teh Fulki kalau kumpul, hehe). Saya jadi ingat dengan kata-kata saya sendiri, “Kalau ini gak selesai, aku akan merasa bersalah,” yang diikuti dengan kata lebay sebagai respon. Dan nyatanya, saya merasa bersalah sekarang.

Saya suka berada di tengah-tengah teman-teman P&K dan Kastil. Jadi, saat ada kepanitiaan di luar seksi, saya bersyukur diberi kesempatan bekerja bersama mereka. Di Pendpro saya bertemu dengan teman-teman yang membuat saya nyaman, tapi di tempat lain saya bertemu dengan mereka yang membuat saya tertantang. Tapi, tetap kok, passion saya banyak berhubungan erat dengan Pendpro.

Akademik, profesi. Penelitian. Wah, saya ingin sekali membuat suasana penelitian itu pekat. Semangat melihat Shabrina sudah terlibat banyak di dunia penelitian ITB, do’akan aku Shab di sini. Lalu, tentang jurnalistik, setelah membaca majalah Medicinus saya membulatkan hati untuk masuk Medicinus tahun ini. Saya suka majalahnya, bacanya membuat saya berpikir. Saya juga ingin menulis seperti dokter Triharnoto dengan bahasa yang sistematis dan komprehensif dalam bukunya The Doctor.

Wah, Subhanallah ya. Kalau kata kakak-kakak yang lain, tahun kedua itu hectic. Tapi lebih banyak bagi saya, artinya ini masa pembelajaran saya untuk manajemen waktu. Insya’Allah di tingkat dua saya akan melalui 4 blok, dan sebagian di antaranya termasuk materi yang cukup rumit. Bismillah, insya’Allah Naf pasti bisa.

Resolusi belajar pun banyak, karena sebanyak apapun organisasi yang kita ikuti, gak ada gunanya kalau itu tidak bermanfaat untuk profesi kedokteran kita nanti. Hardskill, softskill, ruhiyah. Tawazun, balance, seimbang.

Bismillah. Insya’Allah bisa.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: