Puasa Pertama Bidadari Kecil


Awal Romadhon kemarin adalah hari pertama Hana, adik sepupuku, belajar berpuasa. Dan hari itu juga pertama aku belajar merenung tentang tanggung jawab orang tua.

Beberapa hari sebelumnya, kami semakin bersemangat menceritakan bulan Romadhon,

“Wah, sebentar lagi Romadhon ya, Na. Hana ikut puasa, dong.”

“Nanti kita sahur bareng-bareng ya di rumah Kakak.”

Dan Alhamdulillah, karena Hana bersekolah di TK Islam, aku yakin ibu gurunya juga sudah banyak berkisah tentang ibadah shoum.

Beberapa malam sebelumnya, kami mewacanakan tentang sholat tarawih bersama. Sejak Hana bayi dan sudah bisa diajak pergi, Tante (Ibu Hana) sering membawa Hana ikut serta sholat tarawih di masjid. Rewel sedikit memang, tapi biasanya Hana tampak duduk tenang dengan mainan kecil yang sengaja dibawa untuknya.

Tarawih pertama. Kami berangkat ke masjid (Hana sudah TK A, jadi sudah bisa lari-lari sendiri). Hana berangkat dengan jilbab rapi di wajahnya dan beberapa celotehan khasnya sepanjang jalan.

Saat sahur, Wan dan Tante (panggilanku untuk orang tua Hana) mengajak Hana sahur bersama di rumah (karena rumahku dan Hana berdekatan, kami sering makan bersama di rumahku, supaya lebih ramai). Oh, bahkan Nisrina, adik Hana yang baru berusia enam bulan juga datang dengan pipi gembil dan senyumannya yang menggemaskan.

Dan, tibalah bagian yang mendebarkan, menemani Hana puasa. Pukul setengah dua belas siang, oow, Hana mulai merengek-rengek sambil menempel ke Teteh, khadimat di rumah. Akhirnya Teteh membujuk, “Iya nanti jam 12 buka, terus puasa lagi sampai Maghrib, ya.” Deg. Aku yang sedang mengotak-atik laptop bertanya-tanya dalam hati, kayaknya gak rela deh puasanya setengah hari aja.. eh, tapi dulu aku juga belajar dengan puasa setengah hari gak, ya?

Dan, kejutan.

Saat sorenya Hana kembali main ke rumah, Ummi yang sudah pulang dari sekolah berseru riang padaku,

“Wah, Hana hebat lho Kak, mau puasa sampai Maghrib.”

Aku (yang kembali mengotak-atik laptop) menoleh sumringah pada Hana–yang tentu saja sedang pura-pura cuek versinya.

“Waaaaaah, hebaaat.”

Seingatku saat itu aku melonjak-lonjak girang dalam hati. Alhamdulillah.

Sisanya, setengah jam sebelum waktu Maghrib, kami sibuk menyemangati Hana yang mulai bolak balik ke dapur.

“Teteh mah boong,” ujarnya saat Teteh kesekian kali berkata bahwa sebentar lagi Maghrib. Dengan pikiran kanak-kanaknya, ia mungkin kesal, dari tadi orang-orang bilang sebentar lagi adzan tapi kok gak jadi-jadi.

Dua menit sebelum adzan, Hana bersandar pasrah ke dinding dapur, membelakangi televisi, dan..

“Hanaa, sudah adzaan,” teriakku riang.  Hana menatapku, aku mengangguk, dan dalam adegan lambat, baru kali itu aku menyaksikan seorang anak kecil terharu seperti orang dewasa.

Hana menyembunyikan wajah di balik kedua kaki mungilnya, dan setengah menangis dan tertawa, ia tersenyum dan dengan semangat penuh berlari menuju kulkas.

“Hana mau ini dulu Teteh,” tunjuknya pada plastik berisi es campur. Lalu beberapa menit kemudian, “Hana mau itu juga Teteh.”

Wajahnya berbinar-binar saat menyendok esnya dari mangkuk.

Sambil tertawa menyaksikan segalanya, diam-diam aku merasa takjub. Ternyata, Hana yang selama ini terlalu hobi berteriak-teriak, mengacak-acak kamarku, menggangguku saat tidur untuk menemaninya bermain, mencabut kaktus kesayanganku dari Shab, dan tak jarang menangis kencang karena puluhan alasan sederhana, memiliki tekad yang kuat. Subhanallah.

———-

Setelah hari itu, aku paham, mengapa berulang kali setelah sholat, Ummi selalu berpesan sama padaku,

“Jadi anak sholihah ya, Kak.”

Bukan jadi anak pintar, juara kelas, anak populer, atau hal lainnya, tapi jauh lebih dari itu, “Jadi anak sholihah ya, Kak.” Bahkan lima suku kata itu masih Ummi ucapkan hingga sekarang.

Bagi setiap orang tua, tugas utama mereka adalah mengenalkan anak-anak mereka pada Allah, Sang Pencipta Yang Mengamanahkan putra putri kecil itu pada mereka.

Sejak saat itu, kebahagiaan mereka bertransformasi menjadi hal paling sederhana, bisa menyaksikan anak-anak mereka taat pada Pencipta-nya.

Sholat tepat waktu. Antusias berpuasa. Senang berinfaq. Suka berbagi. Semangat menuntut ilmu.

Tidak perlu harta yang banyak, gelar yang mengular, atau popularitas di hadapan dunia; mimpi terbesar mereka adalah berkumpul dengan anak-anak mereka di surga kelak. Mengekalkan cinta dan kasih sayang mereka di bawah naungan Yang Maha Kekal.

Tentu banyak saat-saat mendebarkan dan do’a-do’a panjang yang mereka senandungkan lirih untuk anak-anaknya. “Ummi selalu do’akan Kakak, setelah sholat, setelah tahajud, selalu.”

Banyak air mata mereka yang mengalir karena tak jarang anak-anak mereka menolak bahkan sekedar untuk mendengarkan. Tapi, seperti janji matahari pada bumi, mereka selalu setia dalam sabarnya. Mereka percaya, mungkin saat itu anak-anak mereka pura-pura acuh, lelah, atau sedang jenuh; tapi demi Allah, kesabaran itu akan terukir indah dalam memori kuat kanak-kanak. Seperti batu yang terkikis perlahan-lahan oleh tetesan air yang istiqomah.

Dan, tentu saja, semua membutuhkan ilmu,

“Ummi sudah mulai baca buku Tarbiyatul Awlad dan buku perkembangan anak dari sebelum menikah, lho.”

Jazakillah Ummi. Semoga bagimu surga, bagi kita surga. Aamiin.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

1 Comment

  1. adenenymarlina

     /  August 5, 2011

    kakak,,,,,,,,bikin tante nangis aja 😉
    jadi inget mama,,,,,,,,,,,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: