Lelaki Senja


Oleh : Nur Afifah

Senja selalu tiba tepat waktu.

Begitupun lelaki itu.

Dari balik jendela biasa kutangkap bayangannya berdiri di penghujung bukit, menghamparkan sosoknya di antara pantulan danau dan keterbatasan mataku. Entah berapa jauh.

Sebelum senja benar-benar turun, lelaki itu muncul perlahan dari timur, menyeret langkahnya menembus kabut putih yang menyamarkan sosoknya. Dan selama itu pula kunantikan ia menyandingkan diri di sisi pohon tua yang menjuntai rendah tanpa mengurangi jumawa. Menyenangkan menatapnya.

Kadang-kadang, kulambaikan tangan dari kejauhan, berharap kami bisa beramah tamah sejenak. Tak peduli kau menganggapku bodoh, karena nyatanya kabut selalu menghalangiku bahkan sekadar untuk menebak rupa senyumnya—jika ia benar tersenyum.

Berteman. Sekali saja, aku ingin mengenalnya. Pernah suatu hari aku begitu bersemangat untuk mengetahui namanya. Hanya namanya. Bertanya pada pelayan, tukang kebun, tukang masak, semua menggeleng. Aku meringis. Pada siapa lagi? Satu-satunya penghuni lain adalah nenek, wanita tua yang membuatku menjelma burung rapuh dalam sangkar emas. Ia hanya memberi kursi roda sebagai kebebasan, sementara menjelajah keluar rumah menjadi harga mahal yang harus kubayar dengan kurungan kamar sebulan penuh. Maka saat itu juga aku mengubur keinginanku, membiarkan air mata menguapkan binar dari mataku.

Dan di sinilah aku tiap senja, menikmati persahabatan aneh dengan lelaki itu di latar senja yang samar. Memandangi senja di tepi danau menjadi rutinitas kecil yang menjaga nyala hangat dalam dadaku. Sungguh.

Kau tak perlu memaksakan diri untuk memahami perkataanku, karena aku pernah merasa begitu lelah memahami empat belas tahun kehidupanku dalam keterpaksaan. Pernah. Karena lelaki itu dan senja mengajariku memahami segalanya dengan indah, tak peduli kabut tebal senantiasa datang menemani. Ya, menemani. Aku belajar menerima kabut yang meliputi kehidupan sebagai teman, tak lagi melawan. Begitulah aku bertahan.

Senja selalu tiba tepat waktu.

Tapi kali ini keresahan yang datang, bukan lelaki senjaku. Senja sudah lama turun sementara lelaki itu belum juga tiba.

Beberapa pelayan mulai sibuk menggangguku. Berdengung gelisah seperti lebah yang diusik sarangnya. Sudah waktu makan malam, begitu bujuk mereka. Lampu mobil nenek mulai tampak di kejauhan. Masalahnya, wanita tua itu pasti murka jika satu saja penghuni rumahnya tidak hadir makan malam, apapun alasannya. Aku menyerah, tak mungkin aku membiarkan mereka diamuk nenek hanya karena aku. Bi Munah—pelayan yang mengasuhku sejak bayi—mendorong kursi rodaku ke ruang makan.

Sayup kudengar suara gerimis di luar.

Aku tahu senja juga merindukan lelaki itu.

—–

Tadi pagi aku bersitegang dengan nenek. Wanita itu benar-benar marah saat aku meminta izin keluar. Apa salahnya? Tak bolehkah aku menuntut sedikit kebebasan dari empat belas tahun ini.. Hanya kali ini. Aku ingin mencari lelaki itu, menemuinya dan bertanya apa ia baik-baik saja. Sudah tujuh senja lelaki itu tak datang.

Nenek memicingkan matanya saat kukatakan Bi Munah bersedia menemaniku. Ya, semalaman aku memohon pada Bi Munah karena ia satu-satunya pelayan yang berasal dari lingkungan kami, tentu ia bisa membantuku menemukan lelaki itu. Mata belati nenek menatap tajam Bi Munah yang hanya mampu menunduk. Tidak, ini kemauanku. Aku mencari mata nenek, memutar kursi roda dan berusaha meyakinkannya, hanya sekejap. Karena lagi-lagi wanita adikuasa di hadapanku cukup memalingkan wajah dan berkata ’tidak’ untuk membunuh keberanianku.

Tidak. Tidak. Tidak.

Apa aku harus seterusnya hidup dalam kediktatoran nenek?

Air mata lagi-lagi berlinangan.

”Kau terlalu lemah, bahkan untuk menghapus air matamu sendiri,” nenek berujar tajam.

Apa harus selalu lumpuhku yang menjadi alasan? Bukankah semua hanya tentang keegoisan nenek. Hampir saja aku berteriak pada nenek jika Bi Munah tidak segera memintakan maaf dan memohon diri dari hadapan nenek, lantas mendorongku kembali ke kamar.

Aku tak peduli. Hanya dua kata yang terngiang.

Nenek jahat. Nenek jahat. Nenek jahat !

Tangisku menderas. Sepanjang hari hanya Bi Munah yang setia menemaniku. Menemani lagi-lagi hanya dalam sunyi. Apa selanjutnya aku juga harus berteman dengan sunyi ?

Pukul tiga Bi Munah meminta izin untuk pulang. Akhir-akhir ini ia harus merawat kakaknya yang hidup sendiri, yang kabarnya sedang sakit parah. Dokter sudah angkat tangan sejak awal.

Aku tersenyum. Entah mengapa Bi Munah tidak langsung beranjak. Wanita santun itu mengusap rambutku dengan mata berkaca-kaca.

”Aku sudah tidak apa-apa, Bi,” ujarku pelan, meski jelas-jelas mataku berkata aku sangat terluka. Bi Inah mulai terisak.

Kadang kita harus berbohong untuk menenangkan orang yang kita sayangi. Maka kupejamkan mataku saat kembali mengatakannya.

”Ratih sudah tidak apa-apa. Sekarang Ratih tidur dulu, Bi,” bisikku.

Bi Munah membiarkanku terlelap di kursi sore itu. Beberapa saat kudengar langkahnya menjauh. Bi Munah, maafkan aku hari ini..

Dalam hati aku berharap bisa bertemu lelaki itu kembali, biarpun dalam mimpi.

—–

Lelaki itu berdiri syahdu di tepi danau. Matanya teduh menghunjam tanah beberapa saat, kemudian menatap lembut senja di sisinya. Wajah lelahnya sesekali menoleh ke samping, memandangi wajah gadis yang menatapnya di kejauhan. Tubuhnya ringkih tergerogoti penyakit, namun semangat yang menyala di matanya tentu membuat dirimu terenyuh. Tak ada kabut di sini. Aku berdiri terpaku di hadapan lelaki itu. Benar-benar berdiri.

—–

Senja kemarin aku alpa menunggu lelaki itu. Kata Bi Munah aku tertidur begitu lelap bahkan setelah dipindahkan ke tempat tidur. Padahal biasanya disentuh sedikit saja aku sudah terbangun.

—–

Di depan jendela aku kembali termenung. Mimpi malam tadi sungguh terasa nyata, dan benarkah.. itu lelaki senjaku? Wajahnya begitu utuh dalam ingatanku. Mendamaikan. Ada kehangatan yang tulus di sana. Ada kerinduan yang buncah menatapnya. Ada cinta yang tak pernah kudapatkan.

Tapi ada hal lain yang mengusikku. Pagi ini Bi Munah tampak aneh. Saat menyajikan sarapan, ia menjatuhkan piring hingga pecah, menumpahkan air di karpet, bahkan salah menyajikan hidangan untuk nenek. Padahal sudah belasan tahun ia menjadi pelayan kepercayaan nenek. Nenek yang biasanya tak bisa mentolerir kesalahan sekecil apapun juga hanya diam dan segera kembali ke kamar tanpa babibu.

Aneh.

Ratusan pertanyaan berkelebat di benakku, berpusing bagai puyuh di kepala. Berjibaku dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan yang selalu tampak abstrak. Berseteru dengan kesendirian dan sunyi yang pekat. Satu kali ini aku begitu merindukan lelaki senja itu. Satu kali ini begitu pedih. Apakah ia juga sudah begitu membencikku hingga tega meninggalkanku sendiri?

Satu kali ini aku akan menunggunya hingga purnama.

—–

Pintu terbuka pelan, lalu kembali ditutup tanpa derit yang terdengar. Langkah kaki mendekat. Seseorang menghela napas. Aku memejamkan mata, awalnya aku bertekad  takkan membiarkan seorangpun menggangguku senja ini, tapi udara menguarkan aroma tubuh yang begitu kukenal. Aku menoleh. Bi Munah.

Perempuan paruh baya itu mengambil kursi dan duduk di dekatku. Sejenak diam, lalu dengan lembut ia meletakkan lembaran kertas lusuh yang terlipat rapi ke pangkuanku.

“Apa ini?” Setahuku Bi Munah tak bisa menulis.

Tak ada jawaban kecuali sinar mata Bi Munah yang memintaku membacanya.

Dusun Singgih, 5 Agustus 2009

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Teriring salam cinta ayahanda untuk ananda Ratih di pelukan kasih Sang Pencipta.

Apa kabar, Nak?

Ayah senantiasa berdo’a nanda dikarunai kesehatan dan kesehatan. Begitu banyak hal yang ingin ayah sampaikan, namun keadaan yang sulit tak memungkinkan kita bertatap langsung.

Maafkan ayah, Nak. Maafkan ayah yang tak memiliki kesempatan untuk menunaikan kewajiban sebagai ayah, sebagai lelaki yang membimbing Ratih mengenal-Nya, membahagiakan Ratih atau sekedar menghapus air mata Ratih. Maafkan ayah, Nak. Usiamu kini sudah genap 14 tahun. Betul, Nak?

Ayah selalu mengingat hari kelahiranmu. Kau adalah hadiah terbaik yang dikaruniakan Allah pada ayah. Kedatanganmu menabahkan ayah untuk mengikhlaskan kepergian ibumu, menguatkan ayah untuk bertahan meski kehilangan wanita yang amat ayah cintai. Namun tampaknya nenekmu belum bisa menerima kepergian ibumu, anak yang sangat dicintainya, hingga memutuskan untuk memisahkan engkau dari dunia luar, bahkan dari ayahmu sendiri.

Ibumu adalah wanita yang cantik, Nak. Wanita yang baik, santun, dan lembut. Meski kelumpuhan harus dideritanya seumur hidup, barangkali kelumpuhan itulah yang juga diwariskan padamu, ayah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada ibumu. Cinta yang suci. Cinta yang tulus. Cinta yang lahir dari kekayaan jiwa. Nenekmu memutuskan untuk memindahkan ibumu ke desa ini saat usianya 16 tahun. Ia tak rela anaknya yang tercinta dicemooh orang karena kelumpuhannya, padahal sama sekali tidak. Ibumu adalah wanita paling lembut dan menyenangkan yang Ayah kenal, dan Ayah yakin siapapun tak akan rela Ibumu mendapat hinaan apalagi memberikannya hanya karena ia lumpuh.

Tiap sore, ibumu duduk di halaman rumah nenek, menikmati udara dan panorama senja yang indah. Ibumu sangat mencintai senja seperti ayah. Maka suatu hari ayah memberanikan diri mengajaknya menikmati senja di tepi danau, tempat yang paling ayah suka sejak kecil. Hal ini berlangsung sepanjang tahun ayah mengenalnya, hingga ayah melamarnya saat ayah yakin bisa menghidupi keluarga, meski sederhana. Ayah memang satu dari sedikit orang yang bisa menikmati pendidikan, tapi itu tak berarti ayah memiliki kekayaan seperti nenekmu. Ya, beliau setuju karena ibumu pun sangat mencintai ayah.

Namun saat tiba kelahiranmu yang merenggut nyawanya, nenekmu mengutuk diri seakan menikahkan ibumu adalah keputusan yang salah. Tidak. Tidak sama sekali, Nak. Ibumu sangat mencintai kita. Ibumu sangat gembira menantikan kehadiranmu. Maafkan nenekmu, ia sangat mencintaimu. Keterbatasan yang kau alami adalah wujud cintanya yang dua kali lipat cintanya pada anaknya, karena engkau sangat mirip dengan ibumu. Mungkin begitulah ia memaknai cinta. Meskipun hal ini juga selalu membuat ayah sedih karena hanya kemuraman yang kemudian mewarnai hari-harimu. Karena rasa kehilangan tak seharusnya membatasi kehidupan seseorang, mengurung kenangan dalam kotak bisu yang gulita.

Dari tepi danau ini, Nak. Ayah mengenang ibumu, dan memandangi wajah anak ayah yang tercinta dari kejauhan. Berharap Ratih, anak ayah yang istimewa, dapat menangkap pesan rindu ayah, merasakan kehadiran ayah bersama senja yang hangat. Cinta memang tak harus diungkapkan dengan kata-kata, tapi ayah takut sebentar lagi ayah kehabisan waktu tanpa sempat memberitahumu betapa ayah mencintaimu. Beberapa tahun terakhir ini penyakit lama ayah semakin kuat, segigih apapun ayah melawannya ayah hanya manusia yang tak bisa apa-apa kecuali berusaha dan berdo’a. Tapi nampaknya beginilah ketetapan Allah. Bulan lalu dokter angkat tangan. Penyakit kronis Ayah sudah terlalu jauh berkembang. Dirawat di rumah sakit pun hanya akan menghabiskan sisa hari yang ayah miliki dalam sunyi.  Ayah benci jika harus kehilangan satu senja saja menatapmu. Bi Munah bercerita  kemarin kau menunggu ayah hingga nenekmu pulang. Maafkan ayah, Nak. Ayah sudah tak mampu melangkahkan kaki, bahkan untuk sekedar berpindah keluar kamar. Maafkan ayah…

Ayah mencintaimu, sangat mencintaimu. Hal yang menyakitkan ayah adalah tika melihatmu bersedih. Jangan menangis ya, Nak.. Seberat apapun peristiwa yang kau alami. Bertahanlah seperti ibumu. Bertahanlah hingga kau menemukan kebahagiaanmu. Bertahanlah dengan menjadi pelita tak hanya bagi dirimu, tapi bagi orang lain. Ayah yakin Ratih adalah anak ayah yang kuat. Ratih, masih banyak hal yang ingin ayah sampaikan. Sangat banyak. Tapi ayah tak ingin memenuhi surat ini dengan keluh kesah, karena kalimat cinta dan harapan jauh lebih baik untuk disampaikan pada orang yang kita sayangi. Ayah mencintai Ratih, sangat cinta. Berjuanglah dengan cinta itu.

Sudah dulu ya, Nak? Sebentar lagi Bi Munah tiba. Maafkan ayah senja ini dan selanjutnya tak lagi bisa datang. Ayah akan selalu mendo’akan Ratih.

Salam sayang, Ayahmu. 

Aku terisak. Bi Munah yang sejak tadi sudah basah air mata menggenggam tanganku erat-erat.

”Ayahmu sudah pergi, Tih.. Ayahmu menitipkan surat ini pada Bibi lima hari yang lalu. Ia titip salam padamu. Kemarin.. Kemarin sore ayahmu menghembuskan napasnya yang terakhir..” Bi Munah berkata lirih.

Aku.. tak tahu apa yang kurasakan kali ini. Sedih. Bahagia. Rindu. Pilu. Yang pasti, takkan pernah ada amarah dan kebencian untuk lelaki itu. Takkan pernah.

Senja sudah turun ke pangkuan mayapada. Sementara lelaki senjaku takkan datang lagi. Aku mencintaimu, Ayah..

NB : Cerpen ini baru saya repost di WP karena sempat dikirimkan ke salah satu majalah online, dan ya, tanggapannya? Ga greget. Tapi seperti Emily, saya berpikir cerpen ini terlalu istimewa untuk saya abaikan. Mungkin mereka hanya belum melihat saja. Iya, kan?

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: