Sebuah Refleksi


Apa saya akan terus menjadi orang yang seperti ini?

Mengurung diri dalam pertanyaan, ketakutan, dan keragu-raguan?

Sementara orang lain bebas terbang mengejar mimpi tertingginya, menyelami samudera terdalam untuk mencapai mutiara dengan tangannya sendiri.

Apa saya akan terus menunggu, setia pada diam, lalu mati?

Mana keberanian itu, kalau kamu benar-benar rindu, kamu tidak akan rela membiarkan dirimu menjadi pengecut.

Iya benar, mungkin saya cenderung konseptor.

Iya benar, rasanya memang lebih nyaman di balik layar.

Tapi bukan artinya saya harus terus-terusan begitu, maksudnya, stuck, tergila-gila pada stagnansi saat orang lain melepas zona nyamannya.

Bukan artinya tak bisa menjadi diri sendiri, tapi menciptakan zona nyaman dalam tempat yang tak terbatas.

Awalnya pasti tidak langsung nyaman, tapi seiring waktu, kamu akan mengerti dan mendapatkan tempatmu sendiri.

Kalaupun banyak bisik-bisik takut, percayalah, satu bahkan miliaran bisikan tak akan menyakiti dirimu sendiri.

Jadi, bangkit.

Kalau kuliah itu batu loncatan, maka jangan biarkan landasan itu diselimuti lumut sehingga saat kamu mau memulai, kamu justru tergelincir dan trauma.

Mulai dari sekarang.

“Gak ada yang kamu banget. Kamu pasti bisa semua.”

Lupakan membatasi diri. Kalaupun kamu mau, ya lupakan saja, nanti kalau memang batas yang sebenarnya tiba, kamu juga akan bisa lebih menerima.

Mulai dari sekarang.

Bismillah.

Syaja’ah. Syaja’ah. Syaja’ah. Innii min syababil asyja’.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: