Oase Bernama Tulisan


Pernah gak bertanya pada diri sendiri, kenapa sih suka baca blog orang (dalam skala kecil) atau buku (dalam skala besar)?

Kenapa gak berkutat sama tulisan sendiri aja, pikiran sendiri, atau pendapat sendiri, buat apa susah-susah?

Dalam Al Qur’an diulas dengan indah, bahwa Allah menciptakan manusia syu’uuban (berbangsa-bangsa) dan qobaa-ila (bersuku-suku) agar manusia saling mengenal.

Kita manusia, kan?

Makanya kita butuh saling mengenal itu.

Kenapa? Karena itu salah satu hikmah penciptaan manusia dalam kekhasannya yang beraneka rupa, dan setiap hikmah pasti dianugerahkan untuk kebaikan.

Bagi saya sendiri, membaca tulisan sahabat-sahabat saya, atau orang-orang yang bahkan belum pernah saya temui, seperti oase dalam kehidupan.

Kadang, saat lelah dengan ketidakmengertian diri sendiri, tulisan-tulisan yang saya baca dengan senang hati menyisipkan pemahaman baru yang berharga bagi saya. Saat paham, mulanya saya bisa memejamkan mata dengan lebih ringan, dan selanjutnya saya bisa melanjutkan perjalanan saya dengan perasaan yang lebih baik.

Kadang, saya sangat gembira hingga rasanya ingin menahan napas, saat pengetahuan-pengetahuan baru mampir di hadapan saya. Rasanya saya tak bisa menahan diri saya untuk memahami lebih jauh. Berharap suatu saat bisa berbicara langsung dengan sang perangkai kata, berterima kasih, lalu menanyakan hal yang ingin saya ketahui.

Kadang, saya butuh membaca karena saya sangat haus. Serupa seperti keinginan saya meneguk segelas air setelah perjalanan pulang dari sekolah. Saya ingin tahu, bagaimana sudut pandang orang lain terhadap permasalahan saya. Dan, tentu saja, referensi utama adalah Al Qur’an dan Hadits, karena keduanya merupakan jaminan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Kadang, saya membaca karena saya memang menyukainya. Seperti anak-anak yang menyukai boneka, atau lebah madu yang bersemangat menyapa bebungaan.

Kadang, saya membaca karena kesadaran diri. Melalui membaca, saya bersahabat dengan banyak manusia hebat (tentu memilah bacaan yang positif serta dapat bermanfaat bagi diri saya dan orang lain), atau teman-teman yang memiliki semangat untuk senantiasa dibagi. Saya bisa membayangkan diri saya duduk di tengah-tengah mereka, lalu membincangkan dan merenungkan banyak hal.

Kadang, saya membaca karena setelah itu saya merasa tidak sendirian. Bahwa saya adalah bagian dari sejarah, yang ingin menuliskan catatan yang baik bagi tiap satuan waktu yang saya lalui. Saya belajar bagaimana cara berjuang untuk itu. Saya menemui banyak guru kehidupan yang kata-katanya mengalir hangat melintasi dimensi ruang dan waktu.

Dan pada setiap momen itu, saya membaca karena pedoman hidup yang saya cintai, Islam, mengajarkan saya untuk membaca melalui wahyu pertama yang diterima Rasulullah SAW,

Iqro’. Bacalah.

Iqro’ bismirobbikalladzii kholaq. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan mu yang menciptakan.

Kholaqol insaana min ‘alaq. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Iqro’ wa robbukal akrom. Bacalah, dan Tuhan mu lah yang Maha Mulia.

Alladzii ‘allama bil qolam. Yang mengajar (manusia) dengan pena.

‘Allamal insaana maa lam ya’lam. Dia Mengajarkan manuisa apa yang tidak diketahuinya.

(QS Al ‘Alaq, 96 : 1-5)

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: