Ujian dan Pulang


“Jarang lho, Kak libur panjang tiga hari.”

Kalimat pendek itu membuat aku termenung di penghujung telepon genggam.

Sederhana saja, Ummi hanya memintaku pulang. Aku tahu, aku rindu. Sangat rindu. Dusta bila aku berkata aku sudah sangat terbiasa, belum. Meskipun tiga tahun lamanya SMP di sekolah berasrama, meskipun aku selalu kagum dengan teman-teman dari Pulau Sumatera yang tegar dan teguh, pasti indah nian penantian sabar mereka untuk pulang. Ini bukan masalah egoisme orang bisa menyebutku dewasa atau tidak.

Aku rindu. Sangat rindu.

Bahkan Ummi pernah berkata sembari bercanda pada adikku,

“Kalau Kakak bisa juga Ummi maunya di Jakarta aja, nggak enak lagi Muth sekolah jauh-jauh.”

Aku nyengir pendek. Oh iya, tentu saja 3 tahun di Bogor cukup jauh untuk membuatku rajin pulang. Tiga tahun selanjutnya di Jakarta membuatku mengakrabkan diri dengan jam kerja orang kantor (baca : pergi matahari belum terbit, pulang matahari sudah terbenam).

Dan tahun-tahun selanjutnya insya’Allah akan aku jalani di Jatinangor dan Bandung.

“Dulu aku ke TK tinggal jalan, ke SD naik sepeda, SMP diantar naik mobil, SMA naik angkot sendiri, S1 naik bus sendiri, kayaknya selanjutnya aku kuliah naik pesawat deh, Mi,” celotehku iseng suatu hari.

Semoga, kerinduan ini menjadi pemudah jalan menuju surga.

Tatkala seseorang keluar menuntut ilmu, maka semut-semut di lubangnya bahkan ikan-ikan di lautan akan senantiasa mendo’akan kebaikan baginya.

Pernah dengar nasyid The Zikr yang berjudul Perantau?

Perantau musafir perjuangan
Tabahkanlah hatimu
Berjuang di rantau orang
Sedih pilu hanya engaku yang tahu

Ingatlah anak dan isteri
Janganlah menghiris hatimu
Kerinduan desan nan permai
Janganlah melemahkan semangat juangmu

Di waktu ujian badai terus melanda
engkau tetap gigih berjuang
membenarkan sabda junjungan
Terus memburu menuntut janji
Pastilah Islam gemilang lagi

Tapi pejuang kembara perjuangan
Ujian bukan batu penghalang
Kerana itulah syarat dalam berjuang

Oh pejuang
Di manapun ada ketenangan
Di manapun ada kebahagiaan
Bila insan kenal pada Tuhan
Kasih sayang dan pembelaan-Nya
bagi insan yang menyerahkan
Jiwa dan raga, anak dan isteri
Kepada Allah

“Kebaikan itu harus tersebar, Naf. Kakak yakin kita punya tugas dan jalan masing-masing, hanya berbeda kelihatannya, insya’Allah jalan itu akan berujung pada satu jalan : ridho dan surga Allah.” (Kak Ii)

Insya’Allah, besok aku pulang. Mudah-mudahan Allah istiqomahkan untuk belajar.

Belajar bisa di mana saja kok, Nur. Insya’Allah nggak harus di Bale, di rumah juga bisa. Sama halnya nanti, saat kamu akan mulai terbiasa belajar di rumah sakit. Belajar itu menyenangkan:)

Bismillah.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

2 Comments

  1. kholilurrahman

     /  June 1, 2011

    pulang lah naf, orang tua kan sumber semangat juga 🙂 disempetin..

    Reply
    • Iya, insya’Allah. Sekarang agak mikirnya karena tanggal 13 ujian, jadi sudah punya plan belajar di sini. Tapi kan, ridho Allah dalam ridho orang tua, ya?

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: