Belajar (dari) TOEFL


Akhirnya saya menulis tentang TOEFL juga.

Alkisah di FK Unpad, jika kalian ingin naik menjadi mahasiswa tahun kedua, tidak cukup nilai akademik yang sesuai standar minimal, tetapi nilai TOEFL kalian juga harus mencapai angka 550–angka yang sekian lama ‘dirindukan’ para mahasiswa tahun pertama.

Artinya? Teman-teman yang belum juga disapa angka 550 harus dengan senang hati dan riang gembira ‘menikmati’ ujian TOEFL sampai angka itu Allah lembutkan hatinya untuk mampir ke hasil tes kita.

Saya masih termasuk dalam kategori belum bersahabat dengan 550.

Pertama kali saya tes, nilai saya 520. Oke, kurang 30.

Tes kedua, nilai saya 523. Alhamdulillah naik 3.

Kabar terakhir, nilai saya 540. Jadi, masih belum cukup umur untuk menjadi 550.

Saya sempat sedih juga, membayangkan ujian TOEFL yang harus saya ulang lagi, beratnya duduk mendengarkan, menelusuri kosa kata bahasa Inggris yang menari-nari di kertas. Tapi, Astaghfirullah, saya lupa mengambil hikmahnya.

Saya teringat hasil obrolan saya dengan seorang sahabat di NF sebelum SNMPTN.

“Kayaknya kita rela banget, ya, berjuang setengah hidup untuk belajar, berulang-ulang, nahan ngantuk, nahan keinginan banyak main atau baca novel, untuk bisa jawab butir-butir soal SNMPTN. Dan rasanya kita sedih banget saat nggak bisa atau salah menjawab soal.”

Saat itu kami terdiam.

“Harusnya kita juga seKUAT itu untuk bisa jawab pertanyaan malaikat di alam barzakh, kita bahkan harus LEBIH KUAT dari itu supaya bisa menjawab pertanyaan Allah di padang Mahsyar.. Karena, kita pasti jauh lebih sedih kalau nggak bisa menjawab itu semua. Sedih paling puncak, sedih paling nggak akan terhapuskan karena tak ada kesempatan lagi setelah itu.”

Seperti hikmah yang disampaikan 520, 523, dan 540 dalam nilai TOEFL saya, saya pasti akan jauh lebih sedih nanti,

saat amal-amal saya ditimbang di akhirat, dan hasilnya,

“Yah, sayang sekali amalmu masih kurang sedikit lagi, masuk surganya nanti aja, deh.”

Na’udzubillaah min dzaalik.

Allahumma innaa nas-aluka ridhooka wal jannah wa na’uudzubika min sakhotika wan naar.

Ya Allah, sungguh kami memohon pada-Mu keridhoan dan surga, dan kami berlindung pada-Mu dari kemurkaan dan neraka. Aamiin.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: