Pembicaraan Jalan Pagi


Setelah menega-negakan diri pulang, padahal belum nulis draft sooca apapun, ninggalin teman sekamar Cerdas Cermat pas sorenya, Alhamdulillah saya tiba juga di rumah. Perdana naik bus Primajasa bersama Mala:)

Padahal baru satu bulan lebih sedikit saya tidak pulang, tapi banyak pertimbangan untuk memprioritaskan agenda langka ini. Adik saya yang kelas 1 SMA sedang libur seminggu penuh karena kakak-kakak kelasnya sedang bernostalgia bersama UAN, dan lagi Alhamdulillah Jum’at libur juga kan, jadi paling tidak Ummi full di rumah hari itu. Kakek saya juga sedang datang dari Painan, ceritanya insya’Allah hari Ahad adik laki-laki Ummi akan melangsungkan akad nikah di Jakarta. Kalau sudah begini, saya selalu bersyukur kuliah di tempat yang terhitung dekat, cukup menempuh waktu 5 jam untuk sampai di rumah.

Oke, itu latar belakangnya, di samping entah kenapa saya kangen dengan rumah saya yang sesak buku berbagai genre di setiap sudutnya.

Salah satu alasan lain, saya kangen jalan pagi bersama Ummi. Terasa sekali rutinitas biasa selalu jadi hal yang luar biasa saat kita harus jauh dari orang yang spesial untuk kita.

Jadilah Jum’at pagi, saya lakukan agenda penting tersebut. Sederhana saja, ke pasar : jalan kaki, makan bubur, belanja ikan untuk dibuat asam padeh, belanja sayur dan buah sampai kami tertawa berdua saat sadar belanjaan kami lumayan berat sementara tukang becak sudah hampir punah dari peradaban pasar.

Bukan hanya lelah karena berjalan, saya banyak belajar pagi itu.

Saat keluar, Ummi banyak bertanya tentang kuliah, lalu obrolan random mengalir bebas. Saya selalu menyukai saat-saat seperti ini. Momen-momen istimewa tak harus ditentukan oleh sesuatu yang mahal atau berbeda, hal-hal rutinitas yang kau maknai pun bisa menjelma hal istimewa bagimu. Saya ingat kata-kata seorang Teteh, “Hadirkan hatimu di dalamnya.” Pun itu adalah rutinitas tutorial dengan dosen yang perfeksionis, ataupun saat-saat ujian yang selalu mendebarkan, tatkala engkau menghadirkan hati, maka jenak-jenak yang berlalu dalam kehidupanmu akan senantiasa menjadi istimewa.

Beberapa meter sebelum masuk pasar, Ummi mampir membeli buah di sebuah toko kecil. Buah-buahan yang terlihat segar, sayang sang penjual tidak terlalu jujur dan enggan menunjukkan itikad baik dalam berdagang. Ceritanya sang pedagang awalnya menawarkan sekilo jeruk 12 ribu, tapi Ummi belum tertarik. Saat Ummi berkata ingin membeli jeruk itu, tanpa pikir jernih tiba-tiba si abang bilang harganya 13 ribu per kilogram. Jelas Ummi tidak suka, mungkin karena Ummi tidak menawar mereka menganggap kami bodoh, gak ngerti, jadi dinaikkan aja sesuka mereka.

“Sering kita gak tega ya, Kak, dengan pedagang lokal seperti mereka. Niatnya kita ingin bantu mereka, daripada beli di supermarket lebih baik kita mengayakan pedagang lokal. Ummi juga sengaja gak nawar supaya mereka bisa untung, eh tapi respon mereka juga lebih banyak yang negatif.” Saya mengangguk-angguk, iya ya, sayang sekali pengelolaan pedagang lokal kita masih banyak yang belum profesional, belum bisa menjadi ‘sahabat’ pasar. Sedih melihat mereka tergilas supermarket dan kawan-kawannya, tapi di sisi lain mereka juga terkesan tidak serius untuk maju.

Saat menunggu bubur langganan kami, Ummi bercerita, “Lucu deh, Kak. Gaji PNS golongan Ummi dinaikkan 15%, eh pajaknya juga naik jadi 15%, kalau begitu di mana sisi ‘naik’nya, ya? Padahal sekarang harga-harga sudah terlampau naik lebih tinggi.” Saya nyengir, parodi negeri kita itu banyak, ya?

Seusai membeli bahan belanja, tawa ringan Ummi membuat saya menoleh. “Yah, Kak, uang Ummi tinggal 3 ribu, kita pulang jalan kaki aja, ya? Dulu mah 50 ribu bisa cukup untuk dapat ikan, sayur, buah, sekarang terhitung ratus ribu baru bisa menjangkau menu lengkap. Inflasi kita sudah berefek ke mana-mana, harga melambung, terasa langsung kan ke masyarakat kita?” Saya mengangguk lagi, di mana-mana masyarakat memang selalu jadi garda terdepan sebagai imbas kebijakan yang diambil pemerintah. Berat, ya, amanah menjadi pejabat pemerihntah? Nanti kalau Allah tanya di akhirat, mereka bisa jawab gak, ya?

Semoga Allah senantiasa membimbing kami memberikan yang terbaik bagi negeri ini, ucap saya dalam hati menutup pagi itu.

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: