Nama yang Berpena


Beberapa hari kemarin saya tertawa kecil saat membuka-buka Visus, buletin bulanan yang diterbitkan Medinfo SEMA FKUP.

Apa pasal?

Ceritanya begini, saya diamanahkan menulis artikel mengenai FORMULA (Forum Akademik Lintas Angkatan) yang diadakan bulan lalu untuk Visus, dan ada mekanisme harus kirim softcopy nya ke e-mail Medinfo, tapi bukan ini masalahnya. Jadi, semua e-mail saya tidak ada yang representatif terhadap nama asli saya. Kalau orang lain yang menerima, mereka akan menemukan salah satu nama pena saya sebagai sang pengirim e-mail.

Nah, alkisah, saat membuka halaman pertama Visus, tepat halaman pertama di balik cover, di ujung kiri bawah, tertera nama-nama kontributor, dan.. nama yang paling awal tertulis adalah..

ASIYAH NURUL JANNAH

Saya nyengir pendek.

Lho, ini kan nama pena saya. Lantas baru sadar, oh iya, pas kirim e-mail ke Medinfo saya gak mencantumkan nama, kan sudah atas nama Pendpro. Saya sih penasaran, kira-kira ada gak ya yang sadar. Yah, daftar tim redaksi dan sebagainya kan bukan termasuk halaman yang diperhitungkan untuk dibaca, kecuali oleh orang-orang iseng seperti saya. Saya penasaran apa ada yang sadar tiba-tiba ada nama mahasiswa fiktif di buletin resmi Medinfo. Mau dicari sampai mana juga, buka-buka arsip semumet apapun, setahu saya tidak ada Asiyah Nurul Jannah yang terdaftar sebagai mahasiswa FK Unpad.

Semasa awal-awal di kelompok tutor B-1 juga, sehari setelah saya mengirimkan softcopy Learning Issue  perdana saya di RPS lewat e-mail, B-1 berkomentar, “Lah, gue kira siapa Asiyah. Memang ada ya kelompok tutor gue yang namanya Asiyah?” Lalu, bisa ditebak, besok dan besoknya nama itu kadang jadi bahan candaan anak-anak.

Kok bisa sih ganti-ganti nama?

Sederhana. Saya punya banyak nama pena karena sejak kecil saya terobsesi dengan dunia tulis menulis, tapi paradoksnya, zaman dahulu kala saya tidak terlalu suka kalau orang lain tahu saya menulis. Berbeda dengan sekarang, saya sudah tidak terlalu keberatan mencantumkan nama asli di samping tulisan saya, karena perlahan saya tahu, saya juga menulis untuk berbagi ke orang lain. Berbagi pemikiran, meski sederhana.

Nama-nama yang saya deklarasikan juga punya latar belakang historis masing-masing.

Asiyah Nurul Jannah.

Karena saya menyukai kisah Ibunda Asiyah, yang terkisahkan begitu berani dan istiqomah dengan keimanannya meskipun bersuami seorang raja yang zholim. Gimana gak zholim? Saking merasa tingginya, Fir’aun mengaku-aku sebagai Tuhan. “Ana robbukumul a’laa, akulah Tuhanmu yang tertinggi.” Na’udzubillah. Kalau Nurul Jannah artinya cahaya surga.

Maryam Zahidah.

Karena saya menyukai kisah Ibunda Maryam yang senantiasa Allah jaga fithrah kesuciannya. Bahkan sejak masih dalam kandungan, sang ibu telah mengazzamkan anaknya agar menjadi hamba Allah yang taat. Zahidah artinya perempuan yang zuhud. Zuhud bukan berarti mengharamkan dunia, tetapi mengambil bagian seperlunya dari dunia, tidak berlebihan. Dari kecukupan itu akan melahirkan kedekatan dengan Allah, seperti kisah Ibunda Maryam.

Dalam sebuah hadits, kedua nama tersebut Rasulullah sebutkan sebagai pemuka para perempuan di surga. Subhanallah.

Mushlihah Raihana.

Mushlihah, asal katanya sama dengan Mushlih, artinya ia sholih untuk dirinya sendiri dan juga sholih untuk ummat. Ishlah artinya perbaikan. Jadi seorang yang mushlih atau mushlihah adalah seseorang yang senantiasa membuat perbaikan di tengah-tengah masyarakat, memberikan manfaat.

Haura Taqiyya.

Haura artinya bidadari, dan taqiyya adalah perempuan yang bertaqwa.

Burung Hijau Dari Surga.

Nah, kalau yang ini adalah nama pena untuk dua orang. Saya dan sahabat saya, Tsabitah Naqiyah. Waktu itu iseng kami ingin tampil membacakan puisi di depan tiga angkatan akhwat di Al Kahfi (saya lupa acara apa). Nama ini termotivasi oleh sebuah hadits,

Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa muridnya bertanya tentang tafsir ayat, “Jangan kalian mengira bahwa orang terbunuh di jalan Allah itu mati. Namun mereka tetap hidup di sisi Tuhan mereka dan berlimpah rizqi…” (QS Ali imran:169). Lalu Ibnu Mas’ud menjawab, bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Ruh-ruh para syuhada berada dalam perut-perut burung hijau, yang memiliki sarang bergelantungan di bawah Arsy. Mereka berputar-putar di dalam surga sekehendak burung-burung tersebut, lalu kembali sarangnya. Lantas Rabb mereka (Allah SWT) melihat sembari bertanya, ‘Adakah kalian menginginkan sesuatu (nikmat lain)?’, mereka menjawab, “Apalagi yang kami inginkan, sedang kami bebas berkeliling di dalam surga.’ Lalu Allah SWT mengulanginya tiga kali, dan mereka pun menjawab dengan jawaban serupa. Dan ketika mereka putus asa untuk lepas dari pertanyaan Allah, maka mereka menjawab, ‘Wahai Tuhan kami, kami ingin agar Engkau berkenan mengembalikan arwah kami dalam jasad kami, agar kami terbunuh di jalan-Mu sekali lagi.’ Saat Allah tidak mendapati dari mereka sesuatu yang dibutuhkan, maka Ia membiarkan mereka.” (HR Muslim).

Yang terakhir, Angin Venus, nama yang saya gunakan untuk menjadi nama kedua blog saya.

Angin.

Nama ini saya gunakan saat perdana membacakan puisi di depan teman-teman Al Kahfi, kalau tidak salah acara muhadhoroh, sebuah kegiatan yang menjadi salah satu agenda wajib tiap akhir pekan di Al Kahfi (ada pidato tiga bahasa bergantian dan hiburan, lain kesempatan insya’Allah saya ceritakan). Saya tidak ada ide lain saat itu, selain deg-degan karena perdana, biasanya saya hanya menulis untuk dibacakan bersama saat SD. Angin identik dengan bebas, dan di dalam Al Qur’an, Angin juga digambarkan sebagai pembawa kabar gembira bahwa Allah akan menurunkan hujan dengan keberkahan di dalamnya. Saya ingin menjadi angin yang menyejukkan, bukan angin pembawa adzab. Na’udzubillah.

Sedangkan Venus, adalah akronim dari nama saya dan sahabat saya. Agak maksa sih, tapi, lagi-lagi tidak ada ide lain. Waktu itu, saya mengajak Vemy membacakan puisi bersama untuk muhadhoroh kubro (muhadhoroh yang spesial, diadakan di atas panggung yang kami rancang dan dirikan sendiri). Jadilah Venus (Vemy Nur Afifah SeKahfi). Meskipun teman saya tersayang tidak jadi maju (dan saya jadi maju sendirian), saya menyukai nama Venus. Planet yang Allah ciptakan dengan keindahan tersendiri, keistimewaannya yang khas,

dan Angin Venus adalah nama yang saya rangkaikan untuk mengingatkan kecintaan saya pada menulis, dan mengingatkan saya bahwa menulis adalah salah satu cara saya berbagi pada orang lain.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. narasumber kalo mau ngasih nama —> nur afifah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: