Saya Seorang Muslimah


Seringkali sebelum mengisi blog, saya jalan-jalan dulu ke blog teman-teman lintas angkatan. Alhasil, gak jadi nulis di anginvenus, tulisan saya mampir di ‘rumah’ mereka.

Sekali ini saya ingin menyalinkan tuturan saya di WP nya Teh Alma. Bernada berkisah, seperti biasa..

Aku ingat sebuah hadits,
“Setiap orang itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), tetapi orang tuanya lah yang menjadikan ia nasrani, yahudi, ataupun majusi.”

Pertama kali aku mendengarnya, aku selalu sangat bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga muslim, yang mencintai keIslamannya, dan dengan lembut mengajarkan indahnya Islam dalam jenak-jenak kehidupan yang kujalani.
Entah itu saat membaca buku, atau saat Ummi tersenyum saat menggendongku sambil membisik,
“Subhanallah ya Nak, burungnya bisa terbang, Allah lho yang menciptakan.”
Hingga aku yang lebih dewasa membaca uraian ilmiah tentang keajaiban seekor burung, yang aerodinamika dan segala aspeknya ditiru manusia untuk melahirkan pesawat.
Saat itu aku mengenal Pencipta ku dekat, sangat dekat. Subhanallah ya, Allah yang Maha Sempurna, yang menciptakan segalanya dalam detail-detail yang paripurna, hingga aku kembali merenung lebih jauh saat mengenal dunia kedokteran.

Hei, bahkan kesempurnaan itu mencakup makrokosmos yang paling makro (astronomi) dan mikrokosmos yang paling mikro (sel dkk).

Lantas, aku menelusuri ilmu-ilmu tentang sistem yang Ia tetapkan untuk kehidupan dalam Al Qur’an dan Hadits.
Oke, mungkin ilmuku masih sangat sedikit, sekedar yang kubaca dan kupelajari di bangku RA, SDIT, dan SMPIT, lalu selanjutnya SMA dan kuliah aku harus lebih berupaya membaca (kan gak ada kurikulum bakunya).
Coba saja lihat emas, yang melalui rekayasa Tuan Smith dunia berpindah konsep pada uang. Tapi sekali lagi lihatlah, saat ekonomi dunia terguncang, nilai dinar dan dirham senantiasa istiqomah dalam ‘nilai’nya, nilai, bukan hanya nominal (ini aku baca sedikit dari rubrik di Republika).

Allah yang menciptakan kita, dan Ia pula yang menganugerahkan segala fasilitas bagi kita untuk memberi manfaat dengan kehidupan itu, mulai dari sistem kehidupan yang kompleks dalam tubuh kita, dalam semesta, hingga sistem sosial yang luar biasa (lihatlah penerapan yang luar biasa pada masa dua Umar).

Saat itu aku bersaksi aku mencintai keIslamanku, karena segala yang kubutuhkan Ia anugerahkan di dalamnya.

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. assalamu’alaikum
    tulisan2 nya bagus nih..
    boleh izin link?oiya..,anak FK unpad 2010 ya?
    waktu itu pernah liat kalo ga salah di acara TAMPAR Fikom yang kedepan bukan?
    salam kenal ya..nurul, dari ftip unpad

    Reply
    • Wa’alaikumussalaam. Alhamdulillah, semoga juga bisa ‘menggerakkan’:)
      Iya, waktu itu maju dengan 3 teman yang lain. Salam kenal, Teh Nurul ^^

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: