P.A.C.A.R.A.N, nggak atau iya?


Suatu pagi, belasan menit sebelum bel masuk berbunyi di SMA-ku, seorang teman melontarkan pertanyaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya,

“Fah, lo mau gue cariin pacar, gak?”

Hah? Dengan muka bingung, lantas berganti nyengir aku menjawab,

“Gak usah, Lin, nih aku dah punya banyak,” seruku sambil menarik buku-buku semi tebal dari dalam tas.

Gantian temanku yang cengengesan. Dasar.

Kali lain, teman seperjalanan pulangku bertanya, “Fah, kenapa sih kamu gak mau pacaran?”

Sambil berusaha menghindari genangan air di depan pasar Pondok Labu, aku berseru pelan,

“Kenapa ya, Sri?”

“Yee, orang nanya balik nanya.”

So?

Ini prinsipku, Sri. Tahu kan, kalau Allah sudah menjanjikan dalam Al Qur’an, perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Sepanjang kehidupanku, aku percaya janji Allah selalu benar.

Gini lho, kalau misalkan orang yang kita sayang menjanjikan sesuatu pada kita, kita akan dengan senang hati percaya, kan. Karena ibu, ayah, atau siapapun yang menyayangi kita akan berusaha menepati janji itu untuk membahagiakan kita. Kalaupun mereka tidak bisa menepatinya, mereka yang akan pertama kali bersedih karena keterbatasannya. Kalau manusia saja begitu, Allah pasti gak akan pernah menyalahi janji-Nya, karena Ia adalah Dzat yang paling mencintai kita, dan Ia adalah Penguasa Mutlak Alam Raya ini, Ia akan selalu memberi tanpa batas, tak ada yang bisa membatasi kekuasaan-Nya. Kalau Ia sudah berjanji, maka itu adalah sebenar-benarnya janji.

Perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, berarti Allah sudah memudahkan kita, kan? Kalau mau dapat pasangan yang baik, berarti yang harus kita lakukan adalah menjadi baik terlebih dahulu. Kalau misalkan mau dapat pasangan yang hafal Qur’an, misalnya, kita juga harus mulai menghafal Qur’an. Atau kalau mau dapat pasangan yang pengertian, kita juga harus mulai menjadi orang yang pengertian. Karena saat seseorang menetapkan standar pada dirinya, hal itu akan mempengaruhi pilihan-pilihannya di saat ia harus memutuskan sesuatu. Iya, kan?

Makanya, aku lebih memilih membenahi diriku dulu, membangun kualitas-kualitas yang kusukai, jadi nanti pas memang sudah waktunya, aku sudah lebih siap. Lagian kalau pacaran, kita jadi kehilangan waktu untuk membangun hal-hal itu, kan? Kita lebih banyak tersibukkan dengan hal-hal yang sekarang, mungkin iya kadang-kadang ada yang memikirkan untuk ke depannya, tapi itu juga gak menjamin. Banyak orang yang tidak menjadi dirinya saat menjadi seorang pacar. Ia berusaha terlihat sempurna, atau paling tidak ia hanya ingin sisi baiknya saja yang terlihat. Kalau gak, siapa coba yang mau jadi pacarnya, hehe. Tapi kalau menikah kan beda, saat kita menikahi seseorang, kita gak bisa memilih hanya menikahi sisi baiknya, harus sepaket sama sifat-sifatnya yang lain. Lho, jadi jauh gini ya ngomongnya, hehe.

Jadi, menurutku, kalau orang lain berdalih, “Saya pacaran untuk bisa lebih mengenal pasangan saya,” rasanya itu bukan jalan yang pas.

Lagipula, aku gak mau mencari sesuatu yang baik untukku dengan cara yang tidak baik menurut-Nya.

Pandangan aja harus dijaga, apalagi berdua-duaan. Tapi bukan artinya pacaran gak boleh. Pacaran boleh, kok, nanti kalau udah nikah, hehe..

Mungkin iya, kita bisa dapat pasangan yang terasa ‘cocok’ untuk kita, tapi aku takut, kalau Allah gak suka caraku untuk mendapatkannya, aku bisa kehilangan nilai keberkahan di dalamnya. Padahal, hidup kita di sini kan untuk mendapat cinta-Nya kan?

Saat itu, aku ingat salah satu kalimat yang sempat terpikir di baris otakku,

Pangeran akan datang jika sudah tiba saatnya.

Sebelum waktu itu tiba, pangeran dan putri harus saling menjaga dirinya masing-masing, supaya pertempuan itu lebih sempurna.

NB : Maaf ya kalau terlalu sederhana, maklum, kan itu tadi pemikiran saya sewaktu SMA. Salam hangat untuk sahabat-sahabat di 34 🙂

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

13 Comments

  1. ka Afifah, izin re-blog ya:)

    Reply
  2. Tapi bukankah sesuatu yang wajar untuk saling mencintai dan dicintai? Bukankah Allah menciptakan segala sesuatunya berpasangan? Kalau cinta dilarang, kenapa rasa ini diciptakan? Dan bukankah kita diperintahkan untuk saling mengenal? Kalau soal menahan nafsu, bukankah di situ justru tantangannya?

    http://klosetide.wordpress.com/2011/04/06/ladang-cinta/

    Reply
    • Mencintai dan dicintai memang fitrah manusia, sebagaimana Ia ciptakan Adam dan Hawwa’. Cinta tidak dilarang, hanya saja bagaimana cara kita, manusia yang telah Ia beri akal dan hati untuk memahami, mengemasnya menjadi sesuatu yang Ia sukai.

      Ia memiliki masa-masanya sendiri untuk disampaikan atau disimpan terlebih dahulu, supaya saat yang dihalalkan itu tiba, cinta itu benar-benar bisa mengantarkan kita pada cinta-Nya (bukankah kita semua mengharap surga, dan surga itu ada pada keridhoan-Nya?).

      Pernah dengar kisah Ali dan Fathimah, kan? Sebelum mereka Allah satukan dalam ikatan yang halal, mereka sudah punya rasa cinta itu satu sama lain. Tapi keduanya menyimpan perasaan itu dengan rapi, mengemasnya dengan sangat indah, hingga keindahan itu mencapai puncak kebahagiaan dan rasa syukurnya saat mereka disatukan.

      Kisah lain tentang Salman al Farisi dan Abu Darda, saat Salman meminta Abu Darda menemaninya melamar seorang muslimah di Madinah. Namun tatkala itu, ternyata sang muslimah dengan halus menolak pinangannya, bahkan mengatakan ia lebih memilih Abu Darda dibanding Salman. Apa yang terjadi kemudian? Salman tersenyum dan dengan tulus menuturkan, kalau begitu semua mahar yang ia bawa akan ia hibahkan untuk pernikahan Abu Darda dan muslimah itu.

      Saat cinta itu dijaga, cinta itu seperti amanah yang Ia titipkan untuk disampaikan pada waktunya, sehingga, jika seseorang yang kita cintai memang benar-benar untuk kita, sebegitu indahnya lah seperti kisah Ali dan Fathimah. Tetapi, jikapun seseorang itu bukan pasangan yang Ia taqdirkan untuk kita, kita akan menerimanya dengan tulus. Meski sakit, hanya sedikit. Meski menangis, hanya sebentar. Tak akan sebegitu pedih dibandingkan saat kita tak menjaga cinta itu sesuai haknya.

      Semoga menjawab:)

      Reply
  3. banan

     /  April 11, 2011

    naf izin share ditwitter yaa 🙂

    Reply
  4. mharap surga? apkah manusia akan tetap mnyembah Tuhan jika surga tak jadi ada?
    kita tentu bukan nabi yg pastiny paham akan cinta kpd-NYA dbanding cinta kpd manusia.
    kondisi yg diuraikan d atas mnrutku satu kondisi ideal. atau juga barangkali kita terlalu berromantisme histori…?

    Reply
    • Allah memiliki kekuasaan yang mutlak, seperti apapun keadaannya Ia akan menjadi Penguasa yang dengannya hati yang bersih nan jernih akan menyandarkan diri pada-Nya dengan penghambaan.

      Coba bayangkan ini, seorang atheis yang kemungkinan besar menolak konsep surga, saat ia tejebak di tengah laut di ambang kematian, apa yang akan muncul di dalam hatinya adalah pengakuan bahwa ada kekuatan yang menguasai dirinya, menguasai alam semesta, kekuatan besar yang selama ini mengatur dunia dan seisinya.

      Seorang profesor menyatakan syahadatnya setelah ia menyaksikan kompleksitas DNA, tuturnya, dalam kompleksitas luar biasa tertata dan rumit sedemikian, pasti diciptakan oleh Yang Maha Sempurna. Allah.

      Apakah dengan melihat kemahasempurnaan seperti itu, hati seseorang yang jernih tak akan tertunduk patuh pada-Nya? Kalau tidak pada-Nya mengharap cinta, lantas pada siapa? Pada manusia yang rapuh dan terbatas kuasanya? Segala hal sejatinya bermuara pada keagungan-Nya, saudaraku. Segala hal, sekeras apapun kita menolaknya, pasti bermuara pada-Nya.

      Dalam keadaan apapun, hati yang jernih akan tunduk patuh menghamba pada Allah, karena sepanjang kehidupannya, setiap aspek-aspeknya, tak pernah lepas dari karunia-Nya. Tak pernah. Aku menyaksikannya dalam ilmu-ilmu kedokteran yang aku pelajari.

      Apakah tubuhmu tak nyata? Aku selalu bersyukur tak harus mempelajari ilmu kedokteran dengan sempurna terlebih dahulu agar tubuh ini bekerja dengan paripurna. Napas yang kita nikmati ini juga, saudaraku, luar biasa rumit proses di dalamnya. Aku menyaksikan kasih sayang Allah di dalamnya.

      Lantas, salahkah aku jika ingin menjadi hamba yang bersyukur?

      Lantas kesyukuran itulah yang dengan indah akan Ia balas dengan surga dan pertemuan dengan-Nya.

      Bertanyalah pada manusia, tapi jangan luput menemukan jawabannya dalam Al Qur’an dan Hadits, dua sumber yang jika kita berpegang dengan keduanya kita tak akan tersesat selamanya.

      Kita memang bukan Nabi, tapi kita juga tak harus menjadi Nabi untuk memahami sunnatullah, ketetapan Allah yang sederhana : bahwa kita adalah makhluq, dan setiap makhluq sejatinya membutuhkan penghambaan pada Zat yang menciptakannya.

      Wallahu a’lam. Pertanyaan lain, boleh ditanyakan pada mereka yang lebih paham, ya? Saya juga salah satu saudaramu yang masih senantiasa bersama-sama belajar. Kalau berkenan, silahkan datang ke ta’lim (kajian) yang diadakan DKM Asy Syifaa’ setiap pekan di fakultas saya. Belajar itu hingga akhir hayat, kan?

      Reply
  5. Civitas akademika tidak dituntut berpikir skeptis. Sepengetahuan saya, skeptis sudah jauh dari ‘bertanya’, tapi terlalu banyak ‘mempertanyakan’. Jikalau bertanya, jawaban yang kita peroleh akan menjadi salah satu sarana untuk memahami. Sedang mempertanyakan, sebanyak apapun jawaban yang kita peroleh, kita akan selalu memposisikan diri untuk mempertanyakan lagi, tanpa keinginan yang tulus untuk memahami.

    Civitas akademika dituntut menjadi pembelajar. Pembelajar artinya tak pernah berhenti belajar, dan mencintai proses belajar itu.

    Tentu saja belajar harus dari referensi yang bisa dipercaya, kan?

    Tentu kewajiban pertama dan utama seorang muslim adalah memahami Al Qur’an dan Hadits, karena Rasulullah menjaminnya secara langsung, “Lan tadhilluu in tamassaktum bihimaa.” Kalian gak akan sesat jika berpegang teguh pada keduanya.

    Kewajiban selanjutnya adalah merenungi ayat-ayat kauniyah, yang terhampar di semesta. Mulai dari materi yang disebut eksakta hingga ilmu sosial pun merupakan bagian dari ayat-ayat kauniyah. Seluruh aspek kehidupan.

    Integrasi keduanya barulah akan melahirkan pribadi muslim yang luar biasa, sukses dunia akhirat, insya’ Allah.

    Wallahu a’lam.

    Reply
  6. saya pun percaya Tuhan. dan saya pun Islam. saya jg tdk m-counter Islam. tp kl hal2 yg bsifat transendental yg kita perdebatkan itu justru akan jd ptempuran.
    bahwa islam mulia, iya saya spakat. dan kmuliaanny pun terlihat d setiap detail ajaranny (syariat). prinsip2 yg mulia itu yg sbaikny kita tunjukkan, bukan soal kTuhanannya. negara kita beragam agama, bukan?
    dan sudahkah kita bersosial? apkah kita mau mhampiri kumpulan pmabuk, pnjudi, pacaran, dll? karena justru mrekalah yg harusny kita dahulukan. bukan hany kumpulan org2 yg justru sudah sadar. cobalah k lapangan dan liat kondisi nyatany d sana.
    (saya cinta cara ust. Rahmat Abdullah alm. dlm bdakwah)

    Reply
    • Sepakat. Yuk tunjukkan sama-sama.
      Insya’Allah saya juga akan berjuang di ranah medis yang saya tekuni sekarang. Profesionalitas juga salah satu bentuk seruan yang baik, kan?:)

      Reply
  7. Maaf sebelumnya ya @nurediyanto, jika komentar saya terasa ‘menilai’ anda. Saya tidak bermaksud demikian. Maaf.

    Reply
  8. d salah satu pelosok cipeundeui garut masih banyak sodara2 kita yg butuh ‘pertolongan mental’, sex bebas, pergaulan bebas, dan sgala macam kebebasan telah menggurita di sana. belum lagi, dalam hal medis, banyak juga para insan medis yg meraup untung dari pkerjaannya. kemudian, pelosok sumedang dan juga majalengka menyusul.
    saya spakat ktika manusia adl mahluk pembelajar. baik belajar dr ksalahan ataupun dari kbenaran adl juga belajar. namun, tak bisa juga dipungkiri bahwa menteri pendidikan kita saat ini adl ram punjabi. org yg kian masif mnyebarkan virus hingga akar negeri.
    salahkah? jelas ini satu ksalahan dr kita–tamatan perguruan tinggi–yg hanya bisa bermain pada tataran teoritis smata, tanpa lg peduli nasib mental masyarakat yg kian memprihatinkan.
    bukan soal keseimbangan input pngetahuan pro dan kontra. tapi kseimbangan output kita sbg ‘org terdidik’ dalam khidupan sosial masyarakat.
    maaf jika keliru, karena saya serba terbatas dlm sgala hal

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: