Ide Menjadi Guru


Dua hari ini saya baru sadar bahwa saya menyukai ide menjadi seorang guru.

Memang ide itu tak pernah secara verbal menjadi cita-cita yang saya deklarasikan sepanjang masa kecil saya–seperti dokter, hafizhoh, peneliti, dan penulis–tapi saya rasa saya menyukainya.

Kemarin saat ditanyakan seorang senior mengapa saya ingin maksud PendPro–sebuah bagian dari Senat Mahasiswa FKUP yang berfokus pada masalah pendidikan dan profesi, jawaban yang saya lontarkan membuat saya secara sadar mengenali perasaan itu,

“Orang tua saya adalah guru, dan saya menyukai dunia pendidikan.”

Orang tua saya adalah guru, bahkan om dan tante saya juga berkecimpung di dunia pendidikan. Jadi, selama 18 tahun ini saya tumbuh di dalam nuansa pendidikan yang kental.

Dunia pendidikan adalah dunia yang ‘tanpa sadar’ sudah sangat akrab dengan saya dan adik saya, Muthi’ah. Pendidikan seperti saudara kandung atau sahabat yang menemani saya di sisi Ummi. Tentu saja kecintaan ini pertama kali selalu bermula dari Ummi. Setiap saat Ummi selalu bercerita tentang dunia pendidikan, dengan semangat yang khas dan hangat, sejak saya belajar mendengarkan.

“Ada lho, Kak, murid Ummi yang sehari-hari juga bekerja jadi pemulung, tapi dia rajin dan pintar sekali, anaknya sopan deh, Kak, kalau ketemu Ummi dia selalu menyapa lebih dulu, ‘Assalamu’alaikum, Bu Guru.”

Kalau begitu, itu artinya kamu harus mencintai pendidikan, Kak. Mencintai ilmu. Anak Ummi harus bisa belajar dengan baik, supaya nanti saat dewasa bisa membantu anak-anak lain yang kurang mampu.

Atau, suatu hari,

“Kakak mau infaq kan tiap hari, nanti sebagian uang Ummi dan Kakak bisa bermanfaat untuk anak-anak asuh Ummi?”

Sore lainnya saat saya sedang pulang ke rumah, seorang ibu berkunjung ke rumah kami. Sekilas saya mendengar suara Ummi, “Gak apa-apa kan ya Bu, Ibu atau adiknya datang aja ke rumah, nanti saya titip ke Teteh–panggilan untuk khodimat kami–uang bayarannya setiap bulan.”

Atau saat saya pulang ke kampung Kakek di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, beberapa saudara kami datang dengan dua anak perempuan beberapa tahun di atas saya, lalu Kakek saya menjelaskan,

“Ini anaknya A dan B (saya lupa namanya), mereka semangat sekali Nak mau sekolah. Bisa tidak dibiayai tiap bulan?”

Dua kakak sepupu jauh saya itu rupanya sedang kuliah di Unand, tapi terancam berhenti karena pak tuo-mak tuo sudah tidak mampu membiayai. Jadi, Ummi dan Bulik mengirimkan mereka biaya kuliah melalui Bank setiap bulan. (Bahkan, sebelum kami pulang kampung itu, mereka hanya mendapat 100.000 untuk uang bulanan, 100.000 untuk semua keperluan kuliah dan makan.. Ya Allah..)

Saat itu, di perjalanan pulang saya memamahami tugas saya selanjutnya, membantu memfasilitasi pendidikan saudara-saudara saya di kampung, juga anak-anak lain yang memiliki hak menjalani pendidikan yang menyenangkan.

Kadang Ummi juga bercerita tentang guru-guru di sekolah Ummi–beberapa tahun lalu Ummi dipindahtugaskan menjadi kepala sekolah MIN, tentang betapa sulit dan gigihnya membenahi sistem, terutama mental para guru agar benar-benar mencintai mengajar.

“Jadi guru itu harus menganggap muridnya seperti anak-anak sendiri, kalau mengajarnya pakai hati kan akan lebih masuk ilmunya, ya gak, Kak?”

Tentang orang tua murid yang terlalu memanjakan anaknya, bahkan saat anaknya salah pun dibela, atau orang tua murid yang terlalu sibuk hingga sulit diminta bantuan untuk mengawasi anaknya di rumah.

Tentang mahasiswa Ummi yang ada saja suka mencontek,

“Kalau saat jadi mahasiswa aja mereka masih suka nyontek, nanti gimana ya Kak saat mereka turun di tengah-tengah masyarakat, aslinya mereka gak ngerti apa-apa.”

Dan sebelum saya mengikuti ujian seleksi PTN, beberapa kali Ummi berbisik pada saya,

“Kakak jadi guru aja, jadi guru itu banyak pahalanya lho, Kak.”

Saya hanya tersenyum, dan bersikeras mengikuti seluruh ujian hingga saya tiba di FK Unpad,

lantas menyadari bahwa sejatinya saya sangat menyukai ide menjadi seorang guru,

dan,

“Saya mencintai dunia pendidikan.”

Love you Mom.

Love you all my great teachers.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. dear my naf…
    aku kagum dengan ummi mu…tutur katanya konsisten diruang manapun kayanya..
    he klo ngobrol sama ummi jadi terinspirasi terus…
    kadang, kita tak sadar betapa kerennya ummi kita..kala kita ngambek krn harapan kita tidak sesuai realita..
    semangat terus sayaaang..:D

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: