Preventif Bernama Kebersihan


“Sayang ya, Kak, kok mobil bagus-bagus gitu buang sampahnya sembarangan.”

Kalimat itu yang biasa terlontar oleh ibu saat kami duduk bersisian di mobil, entah mengantar saya menuju Jatinangor, menyusuri jalan tol, atau menjelajahi kota Jakarta.

Kalau kata teman saya yang lain, “Ih, cantik-cantik kok buang sampahnya sembarangan,” atau ya kalau mau diganti redaksinya, “Ih, anak FK kok buang sampahnya sembarangan.”

Bahkan fenomena ini sudah menjadi sangat amat begitu terlalu umum dijumpai di manapun

Pengalaman saya sendiri saat SMA, saya paling gemes melihat anak-anak SD atau SMP dengan santainya melempar bungkus plastik ke kolong kursi angkot.

Kalau ditegur, mereka jawab, “Kan nanti dibuangin sama abang angkotnya, Kak.”

Iya, dibuangin, tapi gak ke tempat yang tepat. Saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri, para sopir angkot selalu tak kalah sembarangan membuang sampah itu di jalanan tempat mereka membersihkan mobilnya, habis disapu dari kolong kursi, dibuang deh ke luar.

Sang abang angkot nyatanya juga malas membuang sampah ke tempatnya (bahasa sundanya abang angkot apa, ya?)

Itu tadi dari yang menengah ke bawah.

Lain lagi argumentasi mereka yang menengah ke atas.

Ibu pernah cerita ke saya, suatu hari saat menegur teman beliau yang melempar sampah keluar dari kaca mobil ke jalan tol, yang beliau dapat adalah jawaban,

“Hehe, kan saya buang sampahnya juga lihat-lihat, Bu. Kalau masih ada mobil di belakang, ya tunggu dulu sampai belakang kita kosong.”

Waduh. Tampaknya slogan ”membuang sampah di tempatnya” punya definisi lain di hati masyarakat kita.

Sekilas itulah yang akrab saya jumpai di sekitar kita. Kalau ditanya ‘Why’, saya punya salah satu jawabannya (pakai cerita lagi, ya).

Suatu siang, saat saya berusaha mengabaikan terik matahari sepulang sekolah, saya menyaksikan satu drama nyata yang miris di seberang tempat duduk saya di angkot (baiklah, angkot memang mengambil alih sebagian besar setting saya semasa SMA). Alkisah seorang ibu baru saja menjemput anaknya dari SD. Lengkap dengan seragam merah putih, sang anak dengan lahap menyantap seplastik siomay yang dibelinya sepulang sekolah. Sampai sini, masih biasa saja. Lantas siomay sang anak pun tandas dan ia bertanya, “Mah, dibuang ke mana plastiknya?” Sang ibu tanpa rasa bersalah (karena tidak merasa itu salah) mengambil plastik dari tangan anaknya dan melemparkannya ke luar jendela angkot.

Nah lho. Ada yang sudah ngeh dengan uraian tadi? Bayangkan, ibunya sendiri coba yang memberikan keteladanan buang sampah sembarangan. Dan kalau begini terus, maka lestarilah kebiasaan buruk itu dan musnahlah kehidupan di bumi.

Melakukannya tanpa rasa bersalah, karena merasa itu tidak salah. Dan kebiasaan ini berulang diajarkan dari orang tua ke anak, dan Na’udzubillah, menjadi karakter bangsa kita.

Yah, saya rasa tak perlu saya uraikan lagi pentingnya menjaga kebersihan, bahaya membuang sampah sembarangan, penyakit-penyakit yang menjadi masalah utama di negeri kita karena minimnya sanitasi, atau hal-hal lainnya.

Kita semua sudah sangat pintar tentang itu, bukan? Minimal, semua orang tahu kalau buang sampah sembarangan bisa menyebabkan banjir.

Yang saya mau sampaikan, paling tidak jangan tutup mata dari masalah sederhana ini, sederhana tapi esensial dan substansial. Sederhana yang menentukan kemajuan dan kesejahteraan bangsa kita.

Karena, masalah ini menyangkut mental, dan bahkan dalam Islam, menyangkut identitas keimanan kita.

“Kebersihan itu sebagian dari iman,” begitu sabda Rasulullah SAW.

Mengapa? Karena keimanan yang benar akan mendorong kita untuk menjadi bermanfaat bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita, bagi alam semesta.

Keimanan yang benar akan mengokohkan akarnya pada tanah yang dalam, menjulangkan batangnya ke langit tinggi, dan mencurahkan kebermanfaatan pada sekitarnya dengan buahnya yang manis.

Kalau mau jadi dokter yang baik, bukan hanya tindakan kuratif yang harus diupayakan, kan?

Nah, menjaga kelestarian lingkungan yang bersih dan sehat adalah tindakan preventif yang simple dan efektif, percaya deh.

Jadi, selamat mencintai dan menjaga kebersihan 🙂

“SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA INDAH DAN MENCINTAI KEINDAHAN.”

“Sayang ya, Kak, kok mobil bagus-bagus gitu buang sampahnya sembarangan.”

Kalimat itu yang biasa terlontar oleh ibu saat kami duduk bersisian di mobil, entah mengantar saya menuju Jatinangor, menyusuri jalan tol, atau menjelajahi kota Jakarta.

Kalau kata teman saya yang lain, “Ih, cantik-cantik kok buang sampahnya sembarangan,” atau ya kalau mau diganti redaksinya, “Ih, anak FK kok buang sampahnya sembarangan.”

Bahkan fenomena ini sudah menjadi sangat amat begitu terlalu umum dijumpai di manapun

Pengalaman saya sendiri saat SMA, saya paling gemes melihat anak-anak SD atau SMP dengan santainya melempar bungkus plastik ke kolong kursi angkot.

Kalau ditegur, mereka jawab, “Kan nanti dibuangin sama abang angkotnya, Kak.”

Iya, dibuangin, tapi gak ke tempat yang tepat. Saya pernah melihat dengan mata kepala saya sendiri, para sopir angkot selalu tak kalah sembarangan membuang sampah itu di jalanan tempat mereka membersihkan mobilnya, habis disapu dari kolong kursi, dibuang deh ke luar.

Sang abang angkot nyatanya juga malas membuang sampah ke tempatnya (bahasa sundanya abang angkot apa, ya?)

Itu tadi dari yang menengah ke bawah.

Lain lagi argumentasi mereka yang menengah ke atas.

Ibu pernah cerita ke saya, suatu hari saat menegur teman beliau yang melempar sampah keluar dari kaca mobil ke jalan tol, yang beliau dapat adalah jawaban,

“Hehe, kan saya buang sampahnya juga lihat-lihat, Bu. Kalau masih ada mobil di belakang, ya tunggu dulu sampai belakang kita kosong.”

Waduh. Tampaknya slogan ”membuang sampah di tempatnya” punya definisi lain di hati masyarakat kita.

Sekilas itulah yang akrab saya jumpai di sekitar kita. Kalau ditanya ‘Why’, saya punya salah satu jawabannya (pakai cerita lagi, ya).

Suatu siang, saat saya berusaha mengabaikan terik matahari sepulang sekolah, saya menyaksikan satu drama nyata yang miris di seberang tempat duduk saya di angkot (baiklah, angkot memang mengambil alih sebagian besar setting saya semasa SMA). Alkisah seorang ibu baru saja menjemput anaknya dari SD. Lengkap dengan seragam merah putih, sang anak dengan lahap menyantap seplastik siomay yang dibelinya sepulang sekolah. Sampai sini, masih biasa saja. Lantas siomay sang anak pun tandas dan ia bertanya, “Mah, dibuang ke mana plastiknya?” Sang ibu tanpa rasa bersalah (karena tidak merasa itu salah) mengambil plastik dari tangan anaknya dan melemparkannya ke luar jendela angkot.

Nah lho. Ada yang sudah ngeh dengan uraian tadi? Bayangkan, ibunya sendiri coba yang memberikan keteladanan buang sampah sembarangan. Dan kalau begini terus, maka lestarilah kebiasaan buruk itu dan musnahlah kehidupan di bumi.

Melakukannya tanpa rasa bersalah, karena merasa itu tidak salah. Dan kebiasaan ini berulang diajarkan dari orang tua ke anak, dan Na’udzubillah, menjadi karakter bangsa kita.

Yah, saya rasa tak perlu saya uraikan lagi pentingnya menjaga kebersihan, bahaya membuang sampah sembarangan, penyakit-penyakit yang menjadi masalah utama di negeri kita karena minimnya sanitasi, atau hal-hal lainnya.

Kita semua sudah sangat pintar tentang itu, bukan?

Minimal, semua orang tahu kalau buang sampah sembarangan bisa menyebabkan banjir.

Yang saya mau sampaikan, paling tidak jangan tutup mata dari masalah sederhana ini, sederhana tapi esensial dan substansial. Sederhana yang menentukan kemajuan dan kesejahteraan bangsa kita.

Karena, masalah ini menyangkut mental, dan bahkan dalam Islam, menyangkut identitas keimanan kita.

“Kebersihan itu sebagian dari iman,” begitu sabda Rasulullah SAW.

Mengapa? Karena keimanan yang benar akan mendorong kita untuk menjadi bermanfaat bagi diri kita dan orang-orang di sekitar kita, bagi alam semesta.

Keimanan yang benar akan mengokohkan akarnya pada tanah yang dalam, menjulangkan batangnya ke langit tinggi, dan mencurahkan kebermanfaatan pada sekitarnya dengan buahnya yang manis.

Kalau mau jadi dokter yang baik, bukan hanya tindakan kuratif yang harus diupayakan, kan?

Nah, menjaga kelestarian lingkungan yang bersih dan sehat adalah tindakan preventif yang simple dan efektif, percaya deh.

Jadi, selamat mencintai dan menjaga kebersihan 🙂

“SESUNGGUHNYA ALLAH MAHA INDAH DAN MENCINTAI KEINDAHAN.”

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: