Tiga Amanah


Baru saja menyaksikan indahnya makna kesabaran dan kesetiaan dari tuturan para ibu dan istri yang luar biasa di Kick Andy.

Ibu Tari, Ibu Tami, dan Ibu Retno.

Mereka dengan suami yang mendapatkan ujian yang berbeda-beda –stroke, multiple schlerosis, dan Parkinson—dengan cinta dalam makna sejatinya senantiasa mendampingi pasangan hidupnya untuk selalu semangat dan tegar.

Saya menyaksikan kelembutan seorang wanita dan keteguhan yang meneguhkan, bercermin pada mata dan keikhlasan hati mereka, dan kemudian mendapatkan sebuah pemahaman.. bahwa inilah amanah yang kelak diberikan Allah kepada saya. Ketulusan untuk melayani, menemani, dan menyemangati mereka yang mendapatkan ujian berupa penyakit di sekitar saya.

Saya mencatat banyak hal dari kisah mereka, salah satunya adalah rangkuman jawaban ketiga wanita luar biasa ini mengenai hal yang dapat menguatkan mereka dalam menjaga dan merawat suami tercinta,

“Kenali Tuhan lebih dekat, sehingga kita merasa jatuh cinta lagi pada-Nya, kemudian harus mendapat pertolongan dari orang lain (dukungan dari lingkungan). Dan yang terakhir, beri kesempatan bagi diri sendiri untuk menikmati kehidupan seperti orang normal (berikan waktu pada diri sendiri, jangan tenggelam dalam kesedihan). ”

Maka, tiga tanggung jawab utama saya pun begitu.

Mengenalkan pada pasien, rekan saya yang Allah uji dengan penyakit, kepada kasih sayang Allah yang tiada batas. Mengenalkan mereka lebih dekat sehingga mereka dapat mencintai-Nya dan menjadi kuat dengan cinta-Nya, karena keimanan adalah mata air keteguhan yang mendamaikan.. mengabarkan pada mereka sebagaimana indahnya tutur Nabi Ya’qub pada anak-anaknya, “Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”

Kemudian, membantu rekan saya menemukan dukungan dari orang-orang di sekitar mereka, dimulai dari diri saya sendiri. Kemudian, mengenalkan rekan saya dengan komunitas yang dapat membantu mereka menghadapi perubahan dalam kehidupan mereka. Menjadi sahabat yang baik sebagaimana yang Rasulullah SAW contohkan pada seorang nenek yang sangat memusuhi beliau, tatkala nenek itu sakit, beliaulah yang berkunjung ke rumahnya, memasakkan sang nenek makanan dan mendo’akan kesembuhan baginya. Memberikan kepercayaan diri dan semangat pada rekan saya, bahwa mereka tak pernah sendirian.

Bukankah tatkala seorang muslim meringankan penderitaan saudaranya, maka Allah akan meringankan hisabnya di hari kiamat?

Lalu membantu mereka bangkit, perlahan, dan saling menasihati agar saling menguatkan. Tersenyum di sisi mereka dan senantiasa mendo’akan kebaikan untuk mereka.

Maka saya harus berikhtiar agar Ia mengizinkan saya menjalani amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Izinkan kami Yaa Robb, mudahkan langkah ini.

Aamiin.

(JazakunnaLLAH ahsanal jaza, Ibu ^_^)

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: