Liburan dan Sastra


WELCOME HOME.

Libur hari kedua di rumah, setelah menjemput Muthi’ah yang sedang dapat jatah libur akhir pekan di rumah dari IC (jemput pagi, pulang lagi sore), rumah jadi lengkap lagi. Dua kakak beradik yang kompak bilang ‘pusing’, bedanya yang satu karena FBS (selamat datang RPS :D) dan yang satu karena remedial stoikiometri.

Sepanjang jalan dari BSD lebih banyak menikmati bermain dengan Hana, adik sepupu favorit kami yang menggemaskan—tapi anehnya  lebih banyak dia yang sering terlihat gemas saat bermain atau bernyanyi bersama. Oh iya, Hana sudah punya adik, lho. Satu perempuan lagi, jadi posisi sepupu perempuan lawan sepupu laki-laki sekarang menang satu, empat banding tiga. Saya dan Muthi’ah, Raihana dan Nisrina, dengan Hakim, Kiki, dan Hasbi. (Rasanya menyenangkan kembali menulis tentang keluarga setelah rutinitas kuliah yang terkadang terasa menjemukan).

Sudah cukup lama tidak menulis panjang. Jadi teringat seorang guru matematika sekaligus kimia saat di SMP, saat itu beliau hanya mengendikkan bahu saat membaca coret-coretan puisi saya dan teman, “Ibu mah gak ngerti yang kayak gini, Naf.”

Beliau sudah jauh lebih banyak terbiasa dengan materi eksakta, angka, jadi rasanya asing saat harus menikmati sastra seperti novel atau puisi. Tentu saja saya tak pernah berharap akan bergitu, tak pernah mau. Sepanjang masa kecil hingga sekarang sastra adalah sahabat bagi saya, menemani saya tumbuh dan belajar mengenai kehidupan. Dari sana saya membaca, mendengar, dan menulis. Bukan berarti dengan masuk kedokteran saya harus kehilangan sahabat yang satu itu, kan?

Dokter, peneliti, penulis, dan hafizhoh, insya’Allah.

Bahkan Aisyah nan cerdas pun berpesan,
“Ajarkanlah anak-anakmu sastra, karena sesungguhnya sastra itu melembutkan hati.”

Tapi tentu saja sastra yang bermanfaat, yang dapat mengantarkan seseorang lebih mengenal dan mencintai Penciptanya.

Bukan sastra yang membuat seseorang jauh dari Tuhannya dan bahkan lebih memilih hidup dengan aturannya sendiri, menentang sunnatullah, mendewakan kebebasan yang menurutnya adalah haknya pribadi namun seseungguhnya menyesakkan dada peradaban karena merusak akhlaq dan keimanan, merusak moral masyarakat.

Teringat satu kasus seorang penyanyi di Bandung, Tuan X yang hatinya tergelapkan dan dengan teganya menggelapkan pemikiran para penggemarnya, tega sekali membuat mereka dengan nyaring menyatakan statement bahwa kejahatan moral yang dilakukan Tuan X adalah hak Tuan X, hak pribadi, privasi, dan yang salah adalah yang menyebarkan.

Jahat.

Apa begitu bisa disebut manusia yang baik? Merelakan dirinya lebih hina dari hewan ternak. Tatkala Allah menghalalkan pernikahan yang indah, ia lebih memilih bahkan berbangga dengan hati dengan tindakan buruknya.

Marah, tentu saja saya marah jika moral dan kesantunan bangsa ini dicederai lagi-lagi dengan pornografi dan pornoaksi.

Oke, kalau Tuan X dan para pendukungnya berbicara hak, harusnya mereka juga selalu ingat lanjutan kalimatnya yang selalu diajarkan dalam PPKN sejak usia SD : HARUS ADA KESEIMBANGAN ANTARA HAK DAN KEWAJIBAN, HAK DIDAPATKAN SETELAH IA MELAKSANAKAN KEWAJIBAN, BAHWA HAK SESEORANG HARUS DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN DAN TIDAK MERUGIKAN ORANG LAIN.

Kalau mau tindakan semacam itu disebut hak, memangnya bisa dibenarkan ya?

Padahal jelas-jelas kita, KITA, sama-sama punya kewajiban untuk menjaga moral bangsa, sama-sama punya kewajiban untuk membangun dan memajukan bangsa.

Apa kewajiban itu sudah diutamakan, bahkan Tuan X dengan bangga hati dan tinggi hati—bagaimana tidak tinggi hati, minta maaf saja tidak mau—melakukan tindakan memundurkan dan membodohi bangsa.

Memangnya pantas ya mereka mendapatkan hak jika yang tindakan yang dilakukan jelas-jelas (lebih jelas daripada UFO hitam dengan diameter 1 kilometer terbang di atas langit Jakarta saat siang hari yang terik—jadi ngaco saking sedihnya..) berlawanan dengan prinsip kewajiban itu.

Memangnya pantas pornografi dan pornoaksi disebut hak jika ia jelas-jelas MERUGIKAN.

Tidak.

Makanya saya sangat sedih saat para remaja seumuran saya bilang dengan santainya, “Itu kan hak dia.” Ini bukan hanya masalah prinsipil, tapi masalah yang sangat dekat dengan kehidupan kita.

Oke, meski jadi cerita ke mana-mana (cerita liburan yang aneh), tapi saya ingin menuliskan fakta nyata yang cukup membuat saya sesak. Seorang dosen saya menyampaikan kisah sedih yang dihadapi ibunya, ibu beliau adalah seorang guru SD yang sudah lama menekuni dunia pendidikan. Betapa ibu beliau sangat mengkhawatirkan kondisi murid-muridnya : hampir seluruh murid-muridnya yang masih duduk di kelas 3 SD sudah pernah menonton video Tuan X. Dan teman-teman saya menambahkan cerita tersebut dengan semakin miris, karena video tersebut seorang anak SD terpengaruh dan memerkosa seorang temannya.

Coba saja bayangkan kalau yang jadi korban pemerkosaan itu adalah adik atau saudara kalian sendiri, bahkan nanti anak-anak kalian sendiri. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Masih keras kepala mau bilang yang menyebarkan yang salah? Saya ambil sebuah analogi. Dalam kejahatan narkoba saja, bukan hanya pengedar yang menjadi agen kejahatannya, tapi seluruh pihak yang terlibat. Produsen, distributor, penadah, hingga pengguna.  Dan kita semua sepakat dengan itu kan?

Lantas kenapa tindakan Tuan X yang efek kejahatannya tidak kalah besar dari narkoba dibela sepanuh hati oleh yang lain? Dibenarkan dan dielu-elukan, bahkan saya membaca sebuah komentar di bawah berita yang mengabarkan tentang rencana demo besar-besaran atas vonis TIDAK ADIL atas tindakan Tuan  X, “Buat apa mendemo Tuan X, urusin tuh Gayus dan koruptor lain yang jelas-jelas merugikan negara.”

Lho, memangnya masalah bangsa ini hanya tentang uang ya? Iyalah koruptor harus dibereskan, tapi masalah di negeri ini kan berjalan secara simultan, saling berkaitan. Tapi kalau uang saja yang dibereskan, lantas sumber daya manusia dibiarkan, mau jadi apa bangsa kita?

Fiuh. Tadi itu sekilas pemikiran yang mendekam di pikiran saya tentang kasus Tuan X.

Jadi, kabar liburan saya yang sebenarnya bagaimana?

Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan kembali untuk membaca novel. Novel Eliana Bang Tere Liye benar-benar bagus, saya selalu menantikan kelanjutan kisah Burlian, Pukat, Eliana, dan kali ini tinggal Amelia.

Setelah ini, banyak buku yang menanti untuk dibaca. Semoga liburan kali ini dapat bermanfaat.

WELCOME HOME 🙂

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: