Rumput Lapangan Terbang


Lakukanlah perjalanan, karena di dalamnya ada perenungan, dan engkau bisa memulai menyelesaikan apa yang belum diselesaikan (selalu ada daya tarik untuk berpikir dan memulai saat kau bergerak).

Salah satu hikmah perjalanan kali ini terkisahkan dari sebuah lapangan terbang, letaknya di bilangan Pondok Cabe. Ada yang pernah melihat? Jika ingin deskripsi lebih jelas, luangkan waktumu jika sempat untuk menyapa tempat ini. Atau, paling tidak, lapangan terbang lain kurasa juga tampak serupa.

Tiap kali melihat lapangan terbang, rasanya ingin selalu mengulang-ulang,

Robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilaa subhaanaka robbanaa faqinaa ‘adzaabannaar..

Rerumputan serimbun itu, rumput sehijau itu, yang menghijaukan lapangan yang sangat amat luas, tak mungkin tumbuh dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur. Sebentar, mungkin engkau ingin menyampaikan interupsi, “Itu kan rumput liar.” Liar itu hanya sebutan kita, kan? Tapi, lihatlah, bahkan sesuatu yang kita sebut liar itupun tak pernah tumbuh dengan terbiarkan, kehidupannya menyatakan bahwa ia bukanlah sesuatu yang terabaikan. Mulai dari struktur tubuhnya yang secara makroskopis terlebih mikroskopis sangat amat sempurna (ingat pelajaran biologi kita tentang tumbuhan?), hingga nutrisi kehidupan, matahari, dan proses metabolisme yang luar biasa rumitnya—yang bahkan salah satunya, fotosintesis, dahulu kala tak mudah untuk menghafalnya secepat kilat.

Dan di sana, lihatlah, rerumputan itu menghijau seluas awan yang menaunginya..

Jika rumput saja telah diatur dan terpelihara dengan sedemikian sempurna, mengapa aku masih meragukan penjagaan dan kasih sayang-Nya atas diriku?

Tugasku hanya mendekat pada-Nya dan melakukan hal-hal yang Ia sukai agar Ia mendekatkan diriku pada kasih sayang-Nya; ikhtiar, tawakkal, dan do’a adalah tiga di antaranya.

Hasbunallah wa ni’mal wakiil..

Logika kehidupan ini sungguh sederhana, bahwa ketaatan pada-Nya akan membawa pada kebahagiaan, dan kedurhakaan akan membawamu pada keresahan dan penderitaan. Dan untuk mengetahui  wujud bahagia atau derita, bercerminlah pada hatimu.

Tanyakan pada hatimu. Istafti qolbak.

Wallahu a’lam.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: