Kisah Seorang Ibu dan Al Qur’an


Baru saja mendengarkan sebuah hikmah dari seorang ibu di MQ FM..

Kisah pencarian seorang ibu di masa senjanya, kerinduannya akan Islam di dalam kehidupannya.

“Suatu hari seorang ustadz mengatakan pada saya, yang akan ditanyakan oleh Allah nanti di Hari Akhir adalah sholat dan Al Qur’an. Sejak saat itu saya selalu memikirkan.. Ya Allah.. Saya sangat khawatir, bagaimana saya nanti.. Saya harus belajar, saya harus bisa..”

Beliau mengisahkan, saat itu beliau membulatkan niat untuk belajar mengaji pada seorang ustadz di dekat rumahnya, beliau menunggu di luar, menantikan sang ustadz menyelesaikan mengajar anak-anak kecil. Menunggu, menunggu, sampai beliau menyimpulkan, “ Ah, kalau saya menunggu terus tidak akan selesai-selesai.”

Lantas dengan sepenuh tekad hatinya, beliau berjalan menuju sang ustadz,

“Stad, saya ingin belajar mengaji. Saya benar-benar belum bisa apa-apa, bahkan saya ini kalah ngajinya dengan cucu saya.”

Saat itu, beliau menuturkan, mungkin saat itu sang ustadz sedang berhusnuzhon pada beliau, meski menyaksikan kesungguhan dalam pengakuan sang ibu. Sang ustadz mengajukan satu pertanyaan yang selalu beliau ingat, “Ada berapa, Bu, huruf hijaiyah itu?”

Beliau terdiam, dalam hatinya beliau berbisik, “ Allah, bahkan saya tidak tahu hijaiyah itu apa..”

Robbii..

Tapi hal tersebut tak pernah mematahkan semangat beliau. Bahkan menjadi sumber semangat sehangat mentari di sepanjang perjuangan beliau selanjutnya.

Akhirnya, dengan izin Allah, beliau mengikuti ujian untuk belajar di DT di Bandung (beliau berangkat dari rumahnya di Jawa). Selesai ujian, anak-anak yang menunggu di luar menghibur beliau, “Pasti ada yang Ibu bisa.” Dalam hatinya beliau menggeleng, “Bahkan saya tidak tahu jawabannya satu pun, tapi saya yakin, Allah yang menggerakkan tangan saya.”

Dan, dengan izin Allah (Maha Besar Engkau Yaa Allah), beliau lulus. Dan kelulusan itu menjadi awal perjuangan yang membuahkan hadiah yang begitu indah bagi beliau.

“Alhamdulillah , dengan kesabaran ustadz dan guru-guru di pesantren, sekarang saya sudah bisa membaca Al Qur’an, merangkai huruf-huruf hijaiyah itu dalam bacaan Al Qur’an..”

Subhanallah..

Allah, saya tak ingin sahabat-sahabat saya, saudara-saudara saya, adik-adik saya, dan orang-orang di sekitar saya merasakan kesulitan ini di masa senjanya, saya tak ingin mereka merasakan kesedihan karena tak mengenal Al Qur’an-Mu yang begitu indah dan mendamaikan.. Saya ingin membagi ilmu saya, saya ingin membagi kenikmatan ini pada mereka. Izinkan kami, Yaa Robb..

Dalam sebuah kesimpulannya, Aa Gym mengantarkan sebuah hikmah, “Maha Suci Allah, begitu besar kasih sayang-Nya, bahkan setelah berpuluh tahun kita melupakan-Nya, Ia senantiasa memudahkan jalan kita untuk mengenal-Nya. Ia senantiasa menunjukkan kita pada jalan untuk mendekat pada-Nya..”

Segala puja dan puji hanya milik-Mu, Wahai Sang Pemberi Petunjuk..

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: