Terakhir


Aku hanya ingin menemuimu yang terakhir kali. Sudah begitu, selesai.

Sepanjang tahun aku menyusun rencana untuk pertemuan kita, menyiapkan daftar pertanyaan yang akan aku lontarkan padamu. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak akan seindah dahulu, saat kita selalu mudah untuk bertemu. Atau, aku selalu bertanya-tanya, apakah aku benar-benar pernah merasakan pertemuan yang indah denganmu?

Sosokmu terlalu absah, sekaligus terlalu abstrak untuk kukenal. Nyatanya aku tak pernah berhasil mendefinisikan apa yang kupahami. Kau sebagai lelaki yang begitu asing, sekaligus lelaki yang seharusnya begitu dekat dengan kehidupanku. Seharusnya. Tapi kenyataannya tidak begitu. Kau begitu jauh, begitu ingin kulupakan. Tapi mungkin itu dulu, selanjutnya kehidupan hanya menyisakan rindu untukmu. Salahkah aku?

Aku hanya ingin menemuimu yang terakhir kali. Sudah begitu, aku akan pergi. Aku janji akan pamit, menghapus bayang-bayang dirimu yang kadang jadi hantu. Mungkin aku rindu, mungkin aku sudah tak paham lagi batas antara benci dan penerimaan. Bertahun-tahun berlalu kau mungkin akan menatapku takjub dan menganggapku dewasa, menatap gadis kecilmu yang tumbuh menjadi sekeras karang. Tapi tidak di sini, di dalam sini, ada abrasi yang mengikis bagian karang itu.. dan kali itu aku ingin mengakui ruang itu milikmu..

Aku hanya ingin menemuimu yang terakhir kali, sungguh. Tapi tidak di sini, tidak dalam gugu sunyi yang sontak menyentak, menyesakkan. Membiarkanku berdiri dalam gigil yang asing.

Kemarin, saat aku baru saja memutuskan untuk pergi. Memberanikan diri untuk mulai bicara pada ibu, meminta izin padanya untuk mencarimu. Menemuimu. Saat wanita itu mengangguk padaku, menepuk lembut bahuku dan memelukku hangat, sesaat sebelum aku pergi. Sesaat sebelum peristiwa itu terjadi. Hanya sekejap malam dan siang. Hanya masalah hari ini dan sang esok.

Saat tiba-tiba tersiar kabar letusan hebat gunung yang menaungi tempat tinggalmu. Saat itu aku terduduk, menggigit bibirku dalam-dalam. Ah, padahal sebentar lagi.. Baru saja esok aku akan menemuimu.

Saat itu aku hanya mampu merambati jemari ibu, menelusuri wajah teduhnya, menangis di sisinya yang selama ini setia berdiri tegar di sisiku.

“Pergilah Nak, cari ia.. Jika kau benar-benar ingin menemuinya, datanglah ke sana, katakan padanya bahwa kau tak pernah membencinya. Setidaknya itu akan membuatnya tenang, membuatmu tenang..”

Aku mengangguk, setidaknya itu akan membuatmu tenang, membuatku tenang. Jika kau benar-benar pergi, aku akan mengantarmu dengan tegar. Meski tegar itu artinya tangis. Meski tegar itu artinya kecupan terakhirku pada tanganmu yang kaku. Saat aku berhasil menemukan jasad tuamu di antara jasad-jasad sunyi lainnya, hampir saja menyerah karena begitu sulit mengenali dirimu di antara yang lainnya, begitu sulit mengenalimu dengan keterbatasan ingatanku.

Syukurlah kau tak pernah berubah. Syukurlah kau tak pernah berubah mencintaiku, seperti yang kau katakan lima tahun lalu, bahwa kau takkan pernah membenciku. Kau akan menunggu. Menunggu kedatanganku untuk menerima maaf atas kepergianmu. Memelukmu. Mencium tanganmu. Berbicara hangat antara ayah dan anak seperti belasan tahun yang lalu..

Karena dengan tulus seorang tetangga yang terhindar dari bencana itu bercerita padaku, kau selalu menungguku. Benar-benar menunggu.

Aku hanya ingin menemuimu. Tapi bukan seperti ini.. Aku ingin memelukmu, merasakan hangat denyar jantungmu, mendengarmu mengatakan aku adalah gadis kecil yang selalu kau sayangi..

Jika saja kau mendengar, Ayah, ketahuilah bahwa aku selalu mencintaimu..

(terinspirasi Merapi)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: