Apa yang Kulihat dari Diriku


Apa yang kulihat dari diriku?

Hal yang pertama kali kubayangkan adalah mercusuar, gemintang, matahari, atau apapun yang begitu indah bercahaya dan senantiasa ikhlas membagi sinarnya pada kehidupan di sekelelilingnya.

Mengapa? Karena aku benar-benar menyukai nama depanku, Nur, yang artinya cahaya.. Subhanallah, dalam nama pemberian Abi dan Ummi—begitu aku memanggil orang tuaku, aku menemukan energi do’a yang begitu menghangatkan.

Meski puluhan kali aku membaca atau mendengar kutipan kalimat Shakespeare dari romannya, “ Apalah artinya sebuah nama,” aku tak pernah melepaskan diri dari namaku. Rasanya ingin sekali aku berkata pada beliau, “Pak Shakespeare yang terhormat, bagi saya, nama adalah tempat saya bercermin pertama kali.” Inspirasi ini menguat ketika aku membaca sebuah cerpen di masa SMP, aku lupa judul dan nama pengarangnya, tentang seorang laki-laki bernama Muhammad. Nama yang begitu mulia karena artinya “yang termulia; yang terpuji” serta dijemput dari sosok mulia yang menjadi Nabi dan Rosul terakhir yang Ia utus untuk manusia. Alkisah, laki-laki itu selalu gagal tatkala ingin melaksanakan niat buruknya, bahkan kejahatan yang ia lancarkan selalu berujung kebaikan bagi korbannya. Hingga lelaki itu menyimpulkan suatu hikmah dan lantas merasa begitu malu dengan perbuatannya ketika pesan sang ibu kemudian terngiang, “ Nak, ibu memberimu nama yang mulia, maka jagalah kemuliaan itu dalam hidupmu.”

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur memiliki Nur Afifah : cahaya wanita yang menjaga kesucian diri, karena tiap kali aku melihat diriku sebagai seorang Nur Afifah, aku akan senantiasa memahami fitrahku.. bahwa aku diciptakan ke dunia ini untuk menjadi hamba yang senantiasa merindukan cahaya-Nya serta kesucian hati, jiwa, sikap, perilaku, amal, dan penghambaan di bawah naungan-Nya.

Pada halaman depan di balik cover Al Qur’an-ku, aku menuliskan kutipan kalimat yang begitu kusukai mengenai hal ini dari Sayyid Quthb—seorang ulama sholih yang menulis Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, “Aku hidup di bawah naungan Al Qur’an dengan jiwa yang tenang, dengan perasaan yang damai, dan hati yang tenteram. Aku hidup menyaksikan tangan Allah dalam setiap peristiwa dan dalam segala hal. Aku hidup dalam rengkuhan Allah dan pemeliharaan-Nya. Tangan Allah itu bekerja, tapi bekerja dengan cara-Nya yang khas.”

Maka, ketika aku melihat ke dalam diriku, aku menemukan diriku tersungkur dalam kerinduan untuk menjadi seorang Nur Afifah seperti do’a kedua orang tua yang kucintai.

Jatinangor, September 2010

(dikutip dan diadaptasi dari tugas essai Mabim Magnificent#2 : “Apa yang Saya Lihat dari Diri Saya.”)

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: