Catatan Akhir SMA


Sudah lama aku tak singgah ke ‘rumah’ multiplyku. Aku benci mengakuinya, tapi rasanya aku mulai kesulitan merangkai kata-kata menjadi satu kisah yang padu, menuliskan pengalaman yang kutangkap dalam keseharian yang terus berganti. Mungkin, karena aku lebih banyak mengalah, mengakrabkan diri dengan pelajaran IPA yang benar-benar menguras pikiranku.  Padahal begitu banyak kabar yang ingin kusimpan sebagai memorabilia di ‘rumah’ ini.

Waktu berjalan sangat cepat, bahkan kerap terlalu cepat untuk dapat kupahami dengan utuh.  Satu tahun ini benar-benar seperti kilat yang tak menyisakan hal yang bisa kuingat dengan jernih.  Kadang hariku dipenuhi ketakutan pada saat-saat menjelang ujian akhir.  Kadang dipenuhi luapan tekad, yang tak jarang esoknya digantikan keraguan karena nyatanya belum juga bisa mendapat nilai delapan untuk ketiga Try Out di sekolah.  Kadang aku begitu marah karena tertidur sebelum tengah malam, karena banyak sekali pelajaran yang belum kuulang.  Tapi apapun itu, aku menikmatinya.

Bahkan saat aku menoleh ke belakang, aku dapat tersenyum bijak dan tak jarang menertawakan polah kekanak-kanakanku.  Entah apa yang mereka sebut sebagai masa SMA, tapi aku memahaminya sebagai masa untuk menyesapi kedewasaan, perlahan, seperti engkau menikmati teh hangat saat menikmati pegunungan atau merayakan tarian pelangi di langit sehabis hujan.  Perlahan aku belajar memaknai kehidupanku yang begitu cepat berlalu.

Akhirnya aku pasti menua, dan kehabisan batas usiaku sebagaimana manusia yang lainnya, tapi yang aku yakini, seberapapun waktu yang kumiliki, aku harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya.  Mengisi lembaran-lembarannya dengan kecintaan yang sebenar-benarnya pada Robb-ku.  Sebaik-baiknya kemanfaatan.  Sebaik-baiknya ilmu.  Sebaik-baiknya do’a dan harapan untuk kehidupan abadi di akhirat.  Sebaik-baiknya usaha dan perjuangan untuk memeluk kemuliaan cahaya..

Seringkali aku merasa begitu lelah.  Merayap dalam kesibukan dan rutinitas yang memadat.  Merasa kesulitan dalam menyerap ilmu yang diajarkan guru-guruku di sekolah.  Merasa kebingungan saat harus menjawab pertanyaan guru kehidupan.  Merasa begitu kecil dan rendah di hadapan kompleksitas dan kesempurnaan sistem semesta alam.  Tapi kau tahu?  Justru di sanalah kudapati pemahaman, rangkaian simfoni-simfoni indah bernama ayat-ayat Kauniah.  Sungguh benar firman Allah, bahwa setiap kesulitan diciptakan berdampingan dengan kemudahan.  Bahwa engkau hanyalah hamba yang tak punya daya dan upaya kecuali dengan izin-Nya.  Dan akupun merasa tenang, karena tugasku hanya menjalani proses dengan sebaik- baiknya, karena Allah sudah menjamin kebutuhan hamba-Nya dengan amat sempurna.  Adakah kau merasa cemas saat bayi, padahal engkau sangat rapuh dan tidak tahu apa-apa?  Lantas mengapa engkau meragukan kepastian janji-Nya, dengan keadaanmu yang jauh lebih baik dari saat itu.  Aku merasa tenang dengan kesadaran, bahwa hanya Ia yang Maha Kuasa, hanya Ia yang Maha Pencipta, hanya Ia yang Maha Adil dan Bijaksana.
Justru dengan kesadaran, bahwa engkau adalah hamba, engkau akan menemukan ketenangan..

Kau tahu?  Bahkan kesombongan adalah manuver terhebat dalam menghancurkan dirimu, menyulut penderitaan panjang dalam kebanggan semu, karena bagaimana mungkin..  engkau merasa kuat saat kau bersandar penuh hanya pada ranting rapuh : dirimu.  Bukan pada Sang Raja di atas segala raja.  Cukuplah kisah Fir’aun sebagai pelajaran besar bahwa keangkuhan manusia tidak ada apa-apanya.  Bahwa menjauh dari cahaya-Nya hanya akan berakhir pada kebinasaan.

Waktu begitu cepat berlalu..  Bahkan angka 17, yang menurutku sudah begitu banyak, kurasakan hanya berlalu sekejap mata.  Kehidupan ini terus berlalu, dengan segala dinamika dan keberagamannya.  Tiap fase terjalin bagai ulinan tangga, terus berlanjut pada anak tangga yang berbeda.  Jum’at lalu sehelai kertas SKHU (Surat Keterangan Hasil Ujian) tergenggam erat di tanganku.  Lagi-lagi aku tersenyum.  Deretan angka-angka di dalamnya bagai hadiah yang indah untuk usahaku.  Ya, nilai hanyalah hadiah.  Karena inti dari tiap ujian adalah bagaimana engkau bersikap dan merespons dengan fasilitas akal dan hatimu, inti dari tiap ujian adalah bagaimana engkau memilih jalan untuk melaluinya.  Apakah engkau lebih memilih jalan yang Ia ridhoi, ataukah justru menjerumuskan diri jauh dari kemuliaan.  Dan penilaian akhirnya adalah di akhirat.

Dan..  begitulah.  Bahkan setelah aku diizinkan untuk menghela napas selepas UN-UAS-UP, aku harus menghadapi ujian-ujian lainnya.
Alhamdulillah kemarin aku telah bergabung di fakultas Biologi UGM.  Tapi, aku masih mengejar mimpi utamaku.  Aku ingin menjadi dokter di Palestina.
Atau mungkin memfasilitasi saudara-saudaraku di Palestina untuk menempuh kuliah medis.  Apapun itu, aku selalu berdo’a, semoga Allah mengizinkanku memasuki tiga masjid paling mulia sebagaimana hadits Rasulullah : Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al Aqsha.  Aamiin.

6 Mei 2010 (dari rumah ‘multiply’ ku)

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Subhanallah. Nice touch, especially on yer ‘Score Concept’… And may Allah answer yer dream.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: