Kisah ‘Cahaya’ Kecil


I.

Waktu kecil aku adalah anak yang..  yah, mungkin kalau kau seorang guru yang kasar kau akan menyebutku nakal (guru yang baik kan tidak akan begitu).

Aku benci mengakuinya, tapi ini kenyataan.

Tak terbayang jika kau adalah orangtua seorang gadis kecil yang keras dan pemberontak, ditambah sang adik yang cerewet stadium empat, entah apa yang akan kau lakukan.  Yang pasti lengkap sudah kekacauan di rumahmu.
Bisa saja kau mengikatku di pohon dengan kain penyumbat mulut, atau membentakku habis-habisan saking kesalnya.

Alhamdulillah Ummi tidak begitu.

Wanita baik hati itu benar-benar tak pernah begitu, selelah apapun ia menghadapiku.  Ia benar-benar seorang ibu yang hebat dan tak pernah terprovokasi keadaan.  Mungkin itu salah satu alasan lambat laun aku bisa berubah, seperti batu yang ditetesi air yang menginspirasi Ibnu Hajar.

Hal yang selalu kuingat, setiap kali aku mengamuk Ummi punya cara yang tak kutemui pada cerita anak-anak lain dari orangtuanya, tapi kurasa ini yang terbaik.

Suatu ketika aku begitu marah karena tak ada satupun yang menggubris keinginanku, aku lupa apa.  Pokoknya tak ada yang peduli.  Emosiku meledak dan aku benar-benar ingin menghancurkan rumah.  Waktu itu kami punya rak buku empat tingkat, dan tinggiku sudah dua setengahnya.  Tanpa ampun kuobrak-abrik semua buku yang ada, sampai tuntas sederetan buku di tiga tingkat yang bisa kugapai, tumpah ruah di lantai.  Kau benar, aku sukses membuat rumahku seperti kapal pecah.

Aku duduk dan kacaunya, aku masih marah.

Ummi tidak berkata apa-apa sampai aku benar-benar diam.

Kemudian ia menghampiriku keluar dari kamarnya dan menepuk pundakku,

“Sudah ?”, suara lembutnya terdengar tegas.

Tapi tak ada amarah di wajahnya.

Aku mengangguk, masih menahan emosi gadis kecil yang marah seperti harimau terluka.

“Kamu lihat buku-buku ini?  Rumah kita berantakan dan Ummi rasa kasihan buku-buku itu jika dibiarkan.  Lihat perbuatanmu, dan sekarang Ummi rasa kamu perlu membereskannya.”

Sempurna sudah.  Rasanya aku ingin menangis.

Kenyataannya memang benar, aku yang melakukan dan aku yang harus bertanggung jawab.  Air mataku mengalir.  Tahu begini, aku tidak akan berbuat hal yang akan merugikan diriku, harusnya kan aku berpikir dulu matang-matang.

Ummi tersenyum.

“Tak ada yang salah kan dengan perkataan Ummi ?”

Aku menggeleng.

Amarahku runtuh berganti penyesalan.  Lemas tanganku menggapai buku di dekatku dan membereskannya ke tempat semula.
Sepanjang sore aku memperbaiki kekacauan yang kubuat, tidak sendirian. Ummi membantuku membereskannya.

Saat itu aku tahu, meski aku berbuat salah dan kekacauan dalam hidupku, Ummi akan membantuku memperbaikinya, dan yang terpenting, berada di sisiku untuk memastikan aku baik-baik saja.
II.

Tak terhitung jari aku dan adikku membuat Ummi kesal.

Ulah anak kecil ?

Kalau saja aku yang harus menghadapinya, takkan bisa selamat si pembuat onar yang muncul dalam hidupku.

Tapi kau tahu ?

Ummi tak pernah menganggap kami begitu.

Ia tak pernah memukul kami semarah apapun dirinya.

Ummi selalu berkata, kami adalah bidarari kecilnya yang baik.

Tapi, musuh kami syaithon yang selalu berusaha merenggut kebaikan itu dari kami.
Tapi tak peduli sesering apapun Ummi menasihati, aku tetaplah gadis kecil yang belum bisa mengontrol emosiku sepenuhnya.

Suatu hari aku benar-benar keterlaluan dan tak bisa dinasihati.

Tanpa pendahuluan apa-apa, Ummi menggendongku ke kamar mandi dan..
“Byurr !” Berulang kali gayung berisi air diguyurkan ke tubuhku, dari helai rambut hingga ujung kaki, lengkap dengan baju yang melekat di tubuhku.

Ini jelas bukan acara mandi yang menyenangkan.

Aku menangis dan tak bisa apa-apa.  Bahkan amarahku tunduk dalam dinginnya air.
Kemudian aku ditinggalkan di kamar mandi.  Ummi mengambilkan handuk dan menggantikan bajuku di kamar.

Karena lelah aku jatuh tertidur, dan sorenya Ummi membelikanku semangkuk bakso.  Tanpa berkata-kata, aku bisa merasakan perlakuan Ummi yang istimewa, dan pasti guyuran tadi siang bukan karena kebencian.

Hal ini berulang beberapa kali saat aku tumbuh, hukuman kamar mandi tiap kali aku meledak. Dan tiap kali aku menggigil menunggu Ummi mengambilkan handuk, satu tekad mulai tumbuh. Dalam hatiku aku tahu, ada hal yang harus diperbaiki dalam diriku, meski lambat dan sulit, aku harus berusaha.

Menjelang masuk SMP, Ummi tak pernah lagi memberlakukan hukuman kamar mandi.  Tapi sampai sekarang, tiap kali amarah mulai menguasai diriku, kusambar handuk dan mengguyur tubuhku berulang kali.

Menggigil dan mengingat-ingat tekad yang kubangun sejak kecil.

15 Juni 2009 (dari ‘rumah Multiply’ ku)

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: