Aku dan Pensil-Penghapus-Buku


Sejak kapan aku menulis ?
Jawabannya sejak aku bisa membaca.

Mungkin perjalanan menulisku yang sederhana kumulai sejak aku SD.  Entah karena magnet apa, sejak aku SD hingga SMA sekarang aku selalu paling dekat dengan guru bahasa Indonesia, dekat dalam artian sebenarnya; berbincang, tukar pikiran, saling meminjamkan buku.

Saat SD aku sering mengarangkan puisi untuk dibacakan kelasku pada perpisahan kelas 6 (hal ini berlangsung beberapa tahun), tentu saja dengan bahasa sederhana khas anak-anak.

Namun SMP tampaknya menjadi titik awal keberangkatan kurva kepenulisanku menjadi jauh melampaui sebelumnya.  Berlebihan mungkin.  Setidaknya itulah yang kurasakan.  Tinggal di kaki gunung membuat kepekaanku berkembang dan jiwa para penulis bangkit setelah tertidur pulas di perkotaan.  Saat SMP itulah aku bertemu dengan teman-teman seangkatanku yang juga kecanduan menulis.  Kami sering bertukar buku yang memuat tulisan kami, membuat puisi berantai, atau mendiskusikan tulisan-tulisan yang kami buat dan membandingkannya dengan para penyair yang lebih dulu berkecimpung di dunia kepenulisan.  Tidak seperti yang kalian bayangkan.  Aku dan teman-temanku tak pernah mengadakan forum resmi saat itu.  Waktu pertemuan kami-yang lebih banyak personal-terjadi saat menunggu antrian mandi, waktu istirahat sekolah, atau saat mengusir kebosanan karena tidak dijenguk orang tua (ingat kan, masa SMPku dihabiskan di Al Kahfi, sebuah Boarding School di daerah Lido, Bogor).

Begitulah sekilas kisah aku dan pensil-penghapus-buku.

Sekarang aku ingin melanjutkan menuliskan harta karun yang kutemukan saat beres-beres beberapa bulan yang lalu.
Sebundel kertas hasil ketikan adikku.  Aku ingat, saat itu keluargaku sedang semangat-semangatnya mengirimkan tulisanku ke majalah-yang tentu saja membuatku jengah-sampai mereka diam-diam mengetikkan tulisanku saat beberapa bukuku kutinggalkan di rumah.  Pendapatku?  Mengerikan.  Aku tak pernah membayangkan tulisanku dimuat di kolom-kolom asing yang tak pernah kukenal.  Tapi syukurlah niat mereka tak pernah kesampaian.  :p

Seiring waktu berlanjut pemikiranku mulai berubah, seiring usia beranjak hampir angka 17, aku memahami bahwa tujuan menulis adalah berbagi pemahaman.  Jika seseorang harus bertanggung jawab di dunia-akhirat atas apa yang ia katakan, maka tulisan-tulisan pun pasti akan dipertanggung jawabkan di hadapan manusia dan Mahkamah Akhirat kelak.  Pasti, tak ada interupsi.

Kembali lagi pada harta karunku, setelah kubaca kembali, wah..  ternyata bahasa puisiku dulu masih kacau sekali, kekanak-kanakan, abstrak, dan parahnya hanya aku yang bisa mengerti.  T_T

Tapi sebagai kenang-kenangan dan memuseumkan salah satu tahap penting dalam kisah aku dan pensil-penghapus-buku, izinkan aku menuliskannya dalam Catatan Pengembara kali ini.

Detik Hening

Beberapa kepak teregang,
tak perlu menunggu lagi
Jika ia telah datang menjegal
Lalu pintu terbuka untuk tertutup selamanya
Setelah depa menjadi elak,
kemudian menyalak
Mencengkeram, mencelat,
Camkan kau tak berdaya lagi
Di kala matamu menghitam
dan kerongkonganmu ditembus nyawa
Di kala itu maut tiba tanpa kabar


Taubat

Allah, di mana aku bisa memeluk-Mu ?

di saat aku mengagungkan kenangkuhan,
lalu terjatuh dimangsa malam
Aku merintih dan mengeluh tanpa tahu arti damai
Allah, diri ini berlumur dosa..
Sekian lama aku terombang-ambing
di samudera kehinaan
akankah Kau ampuni aku yang hitam ?
Bermanja dalam waktu yang sia-sia…
Allah..
dan kini aku terpuruk
terjerumus dan terluka parah,
izinkan aku menangis dalam sujud,
meneguk air mata yang menggenang dalam do’a

Entahlah

Aku, yang aku kini berubah
yang aku tak mengerti tentang aku
Aku, yang kemudian maju dan menggertak
Lalu yang kau dan kau
Aku hanya luluh membisu,
seolah gagu
Lalu yang kau dan kau
Aku hanya ingin kau tahu,
Bahwa aku adalah aku
dan aku tak mengerti tentang kau,
karena aku bukan lagi aku, dan aku..

Siksa

Melati beraroma duka
Menaburi jiwa berdarah
Dikekang dunia dalam derap kesemuan
Menghunus tombak dalam perburuan celaka
Saat dulu kau angkuh,
saat dulu kau teguk binasa
Saat dulu, dulu, dulu..
Dulunya kau merasa raja
Tenggelamnya kau di padang nista,
dalam bahana tawa penuh dusta
dan kini,
kamboja merambah senyap,
ditikam waktu yang membusuk..
dan nisan menjadi saksi bisu,
saat darah dan nanah membalut dirimu
Tatkala cambuk siksa membelenggu..

Puisi Untuk Ibu Guru

Bersama ilalang dan wewangian bunga yang semerbak,
Untuk ibu guruku
Do’a dan harap kuhantarkan
dan irama hati yang berayunan

Bersama musim semi

Tatkala sakura dan lili bermekaran
Untaiku untuk ibu guru tersayang
Sutera yang lembut di pelataran hati
dan tembang kenangan yang kupigura indah

Bersama iring-iring camar di sisi siluet senja hari
Kuucapkan kata dalam pena
Untuk ibu guruku yang kini bertambah usianya..
“Kami menyayangimu dan do’a tersurat selalu”
Semoga ibu guru senantiasa diselimuti rahmat-Nya
serta bimbingan petunjuk dari-Nya..

Kisi Tengah Malam

Aku hanya sendiri,
di tengah manusia yang mengerumun
Tak ada yang menemani,
di kepungan tawa dan derap kaki
Berseteru dengan keramaian,
bersitatap dengan keheningan

Rembulan.
Tubuhku menggigil
Menyeret kecepatan cahaya ke depan jaksa
Aku kehilangan kehidupan
dalam usia yang merentas hari
Seedar pandang, tak ada yang kupandang
Semarak dunia, tak ada yang mencinta
Hanya aku di sudut jiwa..

Menanti

Betapapun kuhembuskan benci
bersama beliung
Betapapun kutebas asa yang tak bersatu
Betapapun kuremas sampai aku lemas tertunduk
Tertunduk; meratapi kebersamaan yang hampa
Aku, yang menanti kedatanganmu,
kini menanti kepak elang membawa pergi semua tentangmu..


Kematian Medusa

Matanya nanar
Rambut tak berkesudahan dalam likunya
Kesadarannya hampir tumbang,
Mencekal nafas yang tak ditemukan lagi
Dan alih-alih..
Tubuhnya limbung ke dasar
Lamat tembang itu mengalun di telinganya,
Lirih..

Egoisme Kota

Ia tergeletak tak tersadar
Ia terbaring tak terjamah
Aroma itu tajam, menusuk hidung
Namun hilang, betapa..
Ditelan deru malam, ya !
Dikulum waktu dan hingar bingar kota
Ia tak berkutik, pasrah
Kaki-kaki tak beralas menginjak-injak..
Ia tersudut di kebisingan
Roda-roda mesin buas meraung
Kaki-kaki tak beralas tak tersadar
Ia tergeletak bermandi darah

Siluet Senja

Kilau kemilau menyemburat,
Tersentak ku berimbuhan bersama langit..
Air mata hilang seketika,
dan gemintang cerah di wajah
Gumpalan indah menyeruak,
menyemarakkan senja yang beranjak
Menyemai pesona dalam dongeng bidadari
Andai warna-warni itu bisa kuhadirkan ke tengadah jiwa…

Suatu Senja

Langit terenyuh menepi
awan selepas berarak
Dalam kala..
Surya bertahta senja tak genap..
Galau mematung berserah
Resah melanda gulana
Serpihan memori teracuhkan
membias dalam luka yang menganga
Termangu sang qolbu ditiup bayu..

Kugenggam hitam tak berdenyut
Menoreh jiwa yang tersamar
Kuncup layu bak tak teralun
Kucerlik mentari yang tersisa ,
Resah menerpa jiwa yang tak berketemuan..

Rohiim,
Hujani aku cinta
yang menyelimutiku dalam damai..

14 Agustus 2009 (dari ‘rumah Multiply’ ku)

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: