Ajal


Banyak hal yang terjadi dua pekan ini.

Hal yang tak pernah terbayangkan dengan cepat dilesatkan waktu di depan mataku.

Situ Gintung.

(Meski sudah banyak orang menuturkan kisahnya, biarlkan aku turut berbagi sudut pandangku dengan kalian.)

Jum’at pagi, 27 Maret 2009.

Tak ada yang berbeda awalnya. Buku dalam pelukan, berangkat menembus dingin fajar, lantas tertidur di angkot karena belajar semalaman (suasana UTS). Terbangun dekat pertigaan, sekilas berita tertangkap di telinga (pak supir yang kutumpangi kali ini kujuluki Pak BBC-El Shinta karena tak pernah absen menyetel berita tiap pagi). Tanggul Situ Gintung Ciputat jebol shubuh tadi, warga sudah diungsikan, bla bla bla… Terputus. Waktunya turun dan menyeberang jalan. Selintas waktu mataku menyipit, hmm.. Tadi itu jadi berita utama, ya? Sampai di kelas hanya sebentar kusinggung berita tadi, tak ada yang tahu. Tapi, tadi itu berita utama, kan? Pulang sekolah baru kutangkap jelas maksudnya. Pukul 3 sore aku dan Adel beranjak, seperti biasa hendak melakoni belajar tambahan di NF. Tapi, macet luar biasa. Tak biasanya. Tak terpikir prasangka apapun, kupikir mungkin ada kampanye yang keterlaluan bikin macet. Pasar Jum’at. Mobil bahkan motor tak bisa berjalan.

Kusyukuri kaki yang lengkap. Alhamdulillah, kaki ini berfungsi dengan baik.

Orang-orang tumpah ruah di trotoar.

Mau apa lagi? Menunggu begitu lama dalam angkot bukan pilihan yang menyenangkan.

Jembatan sebelum LIA Ciputat.

Ada apa ini?  Kenapa begitu banyak orang. Pakaian berlumpur. Berusaha menyelamatkan?  Apa maksudnya? Sungguh belum paham jika hanya menerima potongan-potongan pembicaraan. Tapi, Ya ALLAH..

Semua tampak begitu jelas saat kembali kuturuti angkot. Perahu karet. Mobil tentara.  Ambulance. Relawan berbaju jingga. Reporter-reporter televisi. Mobil-mobil partai. Semua berderet sesak di sisi jalanan.

ALLAH..  Ada apa ini?

Begitu parahkah?

Kutahan rasa khawatir. Semakin jelas semakin jerih rasanya.

“Tadi korbannya sudah 60-an, Bang.”
“Tapi Subhanallah ya masjid selamat, kayak waktu tsunami itu.”
“Iya, lihat di TV.  Serem juga ya kalau lagi macet kayak gini tiba-tiba tsunami.  Wah, gak ada yang selamat itu.”
(pembicaraan ibu-ibu bapak-bapak di angkot mulai ngelantur)
Tapi..  Tsunami?  Masya’ ALLAH..
“Itu, danaunya aja sampe bener-bener kering.”
Semua menengok ke sisi kiri angkot.  Tak ada kata yang keluar.  Air mataku diam-diam tak bisa lagi kutahan.
Sedekat ini? Di tempat yang hanya berjarak sekian dari rumahku di Pamulang 2..  Ya

ALLAH..  Tak pernah terbayangkan musibah sebesar ini terjadi benar-benar dekat.

“Memangnya pemerintah kira tsunami cuma bisa di laut?”seseorang berkomentar.
Aku hanya diam. Terpaku. Tubuh tersandar di dinding angkot, menyaksikan hiruk pikuk setelah bencana. Adel masih sibuk menghitung mobil-mobil karyawan TV yang terparkir (dasar anak matematika!).  Kuremas tangannya.

“Ya ALLAH..” hanya itu yang terucap.

Tiba di NF jam setengah lima (biasanya setengah empat sudah sampai).
Jelas sudah kronologisnya. Teman-teman dan guruku yang pastinya sempat pulang dan menyaksikan langsung di TV, bercerita. Begitu saja sudah membuatku berulang kali merintih. Saat pulang, lututku lemas menyaksikan gambar sebenarnya, sebuah rekaman video. Masjid selamat. Benar, seperti di Aceh. Dengan kokoh ia berdiri, tegak terpancang sebagaimana kalimat tauhid yang dengannya ia dibangun.
“Laa ilaaha illallooh..”
Air buas menerjang, menebas pondasi-pondasi kokoh yang mungkin pula di antaranya dibangun dengan kesombongan. Nyawa-nyawa teramat dekat dengan maut.
ALLAH..  Engkau jadikan segala sesuatu yang hidup dari air..  tapi kali ini dengan kuasa-Mu pula Kau jadikan ia gerbang kematian.  Menghantarkan nyawa kembali pada-Mu melalui malaikat Izroil.

Aku terduduk.  Ini begitu nyata.  Begitu dekat.  Bahkan tempat yang begitu sering kukunjungi atau paling tidak kulewati. Tak ada yang tahu.. Saat kematian itu tiba. Saat kematian meregang nyawa. Semoga husnul khotimah..

Esoknya Ummi bercerita, aku lupa tepatnya gerangan sumbernya. Di sekitar Situ Gintung banyak praktek prostitusi. Namun sebelum pemerintah Tangerang menindak, ALLAH sudah menetapkan kehendak-NYA.Sungguh, aku teringat kisah tsunami Aceh. Saat itu semalaman suntuk 25 Desember sekelompok orang berpesta bersama syaithon. Menurutkan hawa nafsu tak ubah binatang rendah, tak peduli mereka orang berpendidikan.

Maha Benar ALLAH yang berfirman, “Kabarkanlah pada hamba-KU bahwa AKU Maha Pengampun Maha Penyayang, dan siksa-KU sungguh-sungguh pedih.”(Karenanya juga kuserukan pada pemerintah kota manapun, jika tak ingin teguran ALLAH turut serta, laksanakan kewajiban anda sebagai pemerintah yang amar ma’ruf nahyi munkar.  Jangan biarkan praktek zina terbiar begitu saja.  Ketahuilah, kelak kepemimpinan anda pasti dimintai pertanggung jawabannya pada mahkamah akhirat.)

Tak terelakkan perihal kerusakan lingkungan dan pembangunan yang sangat tidak memperhatikan keseimbangan ataupun dilakukan secara bijaksana merupakan salah satu faktor, namun ketahuilah, selalu ada pesan di balik tiap peristiwa.  Semoga tiap peristiwa menjadikan kita makin dekat dengan ALLAH..

Tetangga.

Akan berbeda rasanya saat kau terbiasa menemukan tetanggamu menyapamu sebelum berangkat atau melihatnya tiap sore memainkan catur saat kau pulang, ketika tiba-tiba kau mendengar kabar kepergiannya.

Pergi,benar-benar pergi.  Meninggal.

Beberapa bulan lalu, seorang tetangga yang biasa menyambut kepulanganku dengan keberadaannya di teras–sambil bermain catur dengan tukang ojeg, pergi.  Rumah berpapankan ‘WIJAYA’ itupun kosong. Tak ada aktivitas apapun di sana.  Semua ditutup, kembali sunyi seperti sediakala. Sang penjahit telah dijemput Izroil.
Semoga husnul khotimah..

Tapi, lebih emosional lagi ketika baru beberapa saat kau berbicara dengannya, seperti biasa dengan mobil putih yang sedang dicucinya. Esoknya, tepat jam 3 pagi aku dibangunkan, mendengar kabar yang tak pernah terbayangkan. Tetangga depan rumahku meninggal jam 1 malam sebelum sempat dibawa ke rumah sakit. Betapa banyak orang yang tampak sehat menemui ajalnya begitu tiba-tiba. Meski ia selalu tampak sehat bugar di siang hari, ajal tak kenal penundaan. Dan betapa sedihnya saat ia meninggal tanpa syahadat, masih diselimuti syirik dan keingkaran. Bahwa hanya ALLAH Ilah satu-satunya, dan sesungguhnya Nabi Isa hanyalah manusia utusan.

Maka, siapkan dirimu untuk sesuatu yang pasti : kematian.

Suatu masa depan yang pasti, yang mengakhiri hidupmu di dunia..
Sungguh mahal syahadat.. ALLAH, istiqomahkan kami hingga akhir hayat.Wafatkan kami dalam keadaan muslim..

“Anta waliyyiiy fiddun-yaa wal-aakhiroh, tawaffanii musliman wa alhiqniiy bishshoolihiin..”
Aamiin..

4 April 2009 (dari ‘rumah Multiply’ ku)

Advertisements
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: