Konstelasi Dakwah (sebuah puisi)


Dakwah itu.. kadang mengkhawatirkan.
Antara kebaikan dengan popularitas.

Kalau boleh aku memilih,
Ingin rasanya kembali ke belakang panggung kemeriahan dakwah,
Membiarkan diriku tertutup tirai,
Dan tak terlihat oleh siapa pun..

Kau lihat matahari?
Ia bersinar sangat terang.
Ia biarkan semua insan berterima kasih atas kehadirannya,
Karena jasanya atas fotosintesis tumbuhan,
Karena jasanya menerangi bumi,
Atau karena jasanya untuk sekadar mengeringkan pakaian.

Tapi kau tahu?

Jauh di perbatasan alam semesta sana,
Ada ribuan, jutaan, bahkan tak terhitung jumlahnya,
Bintang-bintang yang serupa namun tak sama dengan matahari.

Kukatakan mereka tak sama,
Karena beberapa perbedaan.

Lihatlah ia, Antares.
Seperti sebuah titik kemerahan di rasi scorpio.
Terlihat kecil dari sini,
Seolah tak berarti apa-apa bagi kehidupan kita.
Toh, ada atau tidaknya Antares,
Kita masih punya matahari.

Dan lihatlah ia, Betelgeuse.
Seperti sebuah titik putih di rasi orion.
Biasa saja.
Nampak sama dengan bintang-bintang lainnya.

Tapi,
Antares, dua ratus tiga puluh kali lebih besar dari matahari.
Dan Betelgeuse, lima ratus lima puluh kali lebih besar dari matahari.
Matahari yang secemerlang itu, ternyata tak ada apa-apanya dibandingkan mereka.

Seandainya kujadikan ukuran bintang-bintang itu sebagai perumpamaan amal dakwah kita,
Maka ingin rasanya aku menjadi Betelgeuse saja, dan bukannya matahari.

Matahari memang dicintai banyak orang,
Dikagumi karena ia ‘terlihat’.

Tapi nun jauh di sana,
Ada bintang-bintang lain yang lebih besar,
Hanya saja karena jauh,
Ia seolah menjadi sangat kecil.

Kadang,
Keikhlasan terlihat dari seberapa jauh kita mengorbankan keinginan kita, untuk dakwah ini, tanpa orang lain tahu.

Kadang,
Keikhlasan justru terasa ketika kita seorang diri, jauh dari keramaian.
Tanpa pujian,
Tanpa perhatian,
Tanpa yang lainnya.

Karena pada titik itulah,
Hati akan kembali merunduk,
Menyadari keesaan Sang Pemilik segalanya,
Lalu ia berbisik,
“Allah, kuberikan ini untukmu..”

Seperti Betelgeuse.
Meskipun terlihat kecil,
Meskipun seolah tak penting,
Meskipun sering terlupakan,
Tapi ia besar, sangat besar.

Ya, seperti itu seharusnya,
Amal dakwah kita.

(dituliskan oleh salah seorang kakak kelas di Astronomi ITB : Titania Virginiflosia. Jazakillah khoiron katsiiron)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: